Kita harus mengubah cara kita berpikir. Kita harus mengubah langkah-langkah hidup kita selama ini. Banyak orang Kristen merasa bahwa dengan menerima fakta bahwa Yesus adalah Juru Selamat yang telah datang untuk menebus dosa-dosa, berarti mereka sudah memiliki bekal yang cukup untuk masuk surga. Mungkin Natal tahun depan kita bisa menyelenggarakannya lebih baik daripada yang sudah kita lakukan. Tidak diragukan kemampuan aktivis gereja dalam membuat musik, drama, dan lain-lain. Namun, spirit kita harus berbeda dengan spirit kebanyakan orang. Mungkin orang bilang kita aneh, biarkan saja. Sebab kita bukannya senang, tetapi kita menangis. Sebab, pertama, kita belum sempurna, hidup kita masih carut-marut. Dia datang untuk mengubah kita, tetapi watak kita masih buruk. Kita menangis. Kedua, banyak jiwa yang belum diselamatkan. Itu yang benar.
Jangan merasa sudah menjadi orang percaya, sebab percaya bukan hanya aktivitas pikiran; percaya bukan hanya persetujuan terhadap suatu fakta, atau sekadar pengaminan akal. Percaya adalah tindakan terhadap apa yang diyakini dan diakui sebagai suatu kebenaran. Kalau kita percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat, maka yang pertama, urusi keselamatan kita. Artinya, carut-marut hidup kita harus terus diubah. Dia membayar mahal untuk keselamatan kita. Dan tidak otomatis kita masuk surga; kita harus mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. Faktanya, Alkitab berkata: orang yang tidak melakukan kehendak Bapa akan ditolak. Kedua, urusi Dia sebagai Majikan kita. Jadi, kalau kita mengatakan, “Tuhan Yesus, aku percaya kepada-Mu,” maka Tuhan akan berkata, “Benarkah engkau percaya kepada-Ku? Ikut jejak-Ku.”
Perjalanan panjang perjuangan-Nya untuk mencapai kesempurnaan, itulah yang harus kita jalani. Banyak orang berhenti di kota Betlehem—dan berhentinya pun salah. Kita hanya merayakan kelahiran Tuhan Yesus dengan euforia tanpa beban, dan setelah itu kita tidak pernah ikut perjalanan Tuhan Yesus. Kasihan sekali, dan benar-benar malang, banyak orang Kristen merasa sudah memiliki iman, merasa sudah percaya kepada Tuhan Yesus, dan merasa sudah selamat, padahal mereka hanya memiliki iman atau percaya semu; iman fantasi.
Kalau kita percaya Tuhan Yesus pernah datang dua ribu tahun yang lalu, dan Dia berjanji menyertai kita, maka kita harus benar-benar mengalami Tuhan dari hari ke hari melalui proses bagaimana kita menjadi makin seperti Dia: memiliki kesaksian, menjadi corpus delicti—bukti hidup—dan benar-benar menunaikan tugas yang belum usai. Sebab keselamatan ini harus sampai ke ujung bumi.
Dan ini adalah awal yang sangat baik: bila hari ini Tuhan membukakan pengertian kita untuk memahami kebenaran yang murni, kiranya Roh Kudus menolong kita untuk bisa memahami lebih dalam lagi. Itu tanggung jawab yang luar biasa. Sebab dengan pengertian itu, Tuhan akan melibatkan segenap hidup kita tanpa batas. Kita harus mulai akil-balik dan berubah. Kita mulai menjadi orang Kristen yang dewasa. Jadi, setiap kali merayakan Natal, bukan berarti tidak boleh dengan musik yang bagus, memuji, menari. Namun jiwa Natal tidak boleh lupa. Jiwa Natal yang benar harus kita miliki—seakan-akan kita ikut bersama dengan Tuhan mengosongkan diri.
Dengan mencermati kebenaran ini, kita akan mulai mengalami perubahan. Dan perubahan itu tidak bisa terjadi sekejap; harus lewat proses yang panjang. Sebab ternyata tidak cukup hanya dengan pengetahuan dalam pikiran kita. Ketika kita mendengar khotbah, kita langsung tahu, tetapi tetap harus lewat perjalanan panjang—dengan kesungguhan dari waktu ke waktu, dari hari ke hari.
Itulah pengiringan kita kepada Tuhan yang nyata. Bayangkan kalau kita hanya euforia pada waktu Natal saja, maka kita akan berhenti di situ. Tetapi kalau kita mengerti perjuangan panjang Tuhan Yesus dari kelahiran-Nya sampai kayu salib, dan kita mengikuti jejak Tuhan, barulah kita bisa menghayati bagaimana hidup sebagai anak-anak Allah itu. Hal ini tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata secara lengkap atau utuh, tetapi setiap kita akan dapat mengalami penghayatan sebagai anak-anak Allah. Lalu kita pun memiliki beban seperti beban yang dimiliki oleh Tuhan Yesus Kristus.
Tuhan Yesus menjadi subjek Natal; artinya Tuhan Yesus menjadi Majikan, Pribadi yang kepada-Nya kita hidup. Dia adalah alasan kita hidup. Di sini kita harus tunduk kepada ikatan perjanjian kita dengan Tuhan bahwa Dia telah membeli kita dengan harga yang lunas dibayar. Menolak hal ini berarti menolak penebusan. Sebab Yesus tidak datang untuk berhenti di kota Betlehem. Dia sampai di kayu salib, membeli kita. Dia menebus kita bukan karena kelahiran-Nya, tetapi karena kematian-Nya. Dia menjadi Raja yang mengendalikan dan menguasai hidup kita. Dia menjadi Raja yang memerintah di dalam hidup kita. Selanjutnya, kalau kita benar-benar tunduk kepada-Nya sebagai Raja, maka kita harus berjalan di jalan Tuhan. Kita tidak boleh memiliki jalan sendiri.