Saudaraku,
Betapa sulitnya menjadikan Tuhan sebagai perhentian. Menjadikan Tuhan sebagai perhentian ditandai dengan hal-hal ini: pertama, merasa sudah benar-benar cukup dan puas memiliki Tuhan Yesus. Kedua, berusaha hidup hanya untuk menyenangkan hati Tuhan. Ketiga, sepenuhnya melakukan segala sesuatu untuk kepentingan penggenapan rencana Allah, yaitu kedatangan Tuhan Yesus mengakhiri sejarah dunia ini dan mendirikan Kerajaan-Nya. Keempat, tidak ada yang lebih dinantikan dan dirindukan dari saat bertemu dengan Tuhan Yesus. Tidak ada yang bisa mengajarkan hal-hal ini kecuali Tuhan Yesus sendiri.
Perhentian ini pada dasarnya adalah kelegaan yang dimaksud oleh Tuhan Yesus di dalam Matius 11:28-29. Hal tersebut tersembunyi bagi orang bijak, orang yang merasa memiliki “sesuatu.” Sesuatu itu bisa berupa kebijaksanaan, kehormatan atau nilai diri yang sama dengan kelayakan kedudukan di mata manusia. Ia masih merasa “seseorang” di depan manusia, tetapi tidak ingin menjadi seseorang di hadapan Tuhan. Mestinya kita menjadi seseorang di mata Tuhan, bukan di mata manusia. Tuhan mengajar dan membuka pikiran orang-orang yang dengan rendah hati menghampiri Tuhan dan selalu mencari pengenalan akan Allah.
Kepada mereka Tuhan menyatakan rahasia firman Tuhan yang mengubah kehidupan untuk menemukan perhentian atau kelegaan-Nya. Orang-orang ini menganggap hal menghampiri Tuhan dan mengenal Dia adalah kebutuhan yang lebih mutlak dari apa pun dan siapapun. Sesuai dengan firman-Nya, Tuhan akan memuaskan dahaga orang yang haus dan lapar akan kebenaran. Jadi, kalau seseorang tidak haus dan lapar akan kebenaran tidak pantas untuk dipuaskan. Penyebab mengapa banyak orang tidak haus dan lapar akan kebenaran adalah tidak percaya bahwa hanya pada Tuhan ada kepuasan hidup yang sejati, sehingga pikiran dan cita rasa jiwanya diwarnai oleh percintaan dunia.
Mereka juga tidak mengakui bahwa dirinya diciptakan hanya untuk melakukan kehendak Tuhan dan menyelesaikan pekerjaan-Nya yang sama dengan menggenapi rencana Bapa. Tentu mereka juga tidak menganggap bahwa bertemu dengan Tuhan untuk bersama dengan Dia di Kerajaan-Nya adalah hal yang termulia dalam kenyataan hidup ini. Memang untuk mewujudkan percaya ini tidak mudah, tetapi kalau sungguh-sungguh berusaha mencapai hal-hal ini, maka kita pasti akan dapat mencapainya.
Teriring salam dan doa,
Dr. Erastus Sabdono
Tuhan mengajar dan membuka pikiran orang-orang yang dengan rendah hati menghampiri dan selalu mencari pengenalan akan Allah