Peremukan

Tuhan sering melindungi orang-orang yang dikasihi-Nya dengan membawa orang-orang tersebut dalam keadaan sulit. Jadi, keadaan sulit—keadaan yang tidak menyenangkan, bahkan bisa menyakitkan—adalah cara atau bentuk Tuhan untuk melindungi orang-orang yang Dia kasihi, untuk memberkati orang-orang yang dikasihi-Nya. Sekilas, keadaan sulit itu seperti kemalangan atau keadaan sial, tetapi sebenarnya itu adalah berkat abadi; berkat kekal yang Allah berikan. Keadaan sulit yang dialami orang tulus membuat dirinya bisa menerima nasihat dari Tuhan, dan membawanya ke dalam kemuliaan. Kemuliaan tersebut tentu diperoleh bukan hanya nanti setelah meninggal dunia. Sejak di bumi, ia sudah memiliki kemuliaan. Hanya, tentu tidak banyak orang yang bisa melihat, namun Tuhan melihat. Setelah proses kesulitan, pencobaan, penderitaan yang dialami, dia bisa menerima tuntunan Tuhan secara benar, secara proporsional, yang membawanya kepada kemuliaan. Dan akhirnya, dia hanya mengingini Tuhan saja.

Di dalam kitab Kolose 3:2-4, firman Tuhan mengatakan: “pikirkanlah perkara yang di atas bukan yang di bumi, sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus yang adalah hidup kita menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.” Siapa yang tahu kita ini mengenakan kehidupan Kristus atau tidak? Siapa yang bisa menilai? Tapi, tentu Tuhan selalu menilai. Karena seperti yang firman Tuhan katakan, “Ia menguji batin manusia.” Suatu hari nanti, baru menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan. Seseorang sungguh-sungguh mencari perkara yang di atas—walau kelihatannya hari ini semua orang Kristen sama, semua pendeta sama—suatu hari kelak, akan tampak perbedaannya. Tidak ada yang tahu apakah seseorang sudah mati dan hidupnya tersembunyi bersama dengan Kristus atau tidak. Karena selain perlu proses, ini pun sangat rahasia. Hal ini misteri hidup masing-masing individu. Jangan sampai kita yang kelihatan baik-baik, ternyata tidak baik. Tapi orang yang pernah rusak, ternyata bisa lebih baik karena diproses Tuhan.

Jadi, kesulitan yang dialami seseorang itu bisa membawanya kepada kematian bagi dunia, dan hidup bagi Allah. Tapi terus terang, ini hanya dialami orang yang benar-benar memiliki komitmen untuk mengasihi Tuhan. Maka, Tuhan meremukkan dia. Bisa sampai Getsemani, mengalami peremukan, lalu bisa sampai ke salib. Sampai ia mati bersama Tuhan, mati bagi dunia; hidup bagi Tuhan Yesus. Maka, kita ikut Tuhan Yesus jangan hanya pada waktu Tuhan membuat air jadi anggur, orang buta melihat, mukjizat-mukjizat terjadi, limpah berkat materi. Tapi ikutlah Tuhan dalam segala keadaan. Orang-orang yang punya komitmen untuk menjadi seperti Yesus itu pasti ditindas. Allah yang menindas. Allah yang menggerus, Allah yang meremukkan. Yang tidak bersedia, tidak akan, karena Tuhan tidak akan mengingkari Firman-Nya. Allah berkata bahwa Ia bekerja dalam segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi. Kalau tidak mengasihi, Allah tidak bekerja dalam segala hal dalam hidupnya. Tetapi kalau seseorang tidak mau berubah, ya tidak bisa berubah. Harus mau ada dalam keadaan terjepit ini.

Diremukkan, dan sekaligus peremukan itu sebagai ujian bahwa kita setia. Tidak mungkin orang menjadi kekasih Allah, menjadi mempelai Tuhan Yesus, masuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah kalau belum diremukkan. Harus diremukkan, tetapi ini jarang terjadi. Sebab, pada umumnya orang tidak mau. Tersinggung sedikit, marah. Merasa harga dirinya disentuh, sudah tidak rela. Oleh karenanya, ia lambat mengalami perubahan. Sampai kemudian, ia harus menyerah kepada Tuhan. Ketika Petrus dewasa, dia memberi tangannya untuk diikat, dibawa ke tempat yang ia tidak suka, dan ia disalib juga. Bahkan menurut tradisi gereja, dia disalib dengan kepala di bawah. Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita masih mau jadi Petrus muda yang mengikat pinggang, pergi ke mana suka, atau menjadi Petrus tua? Keadaan terjepit mestinya membuat kita sampai pada tekad bulat bahwa kita hanya mengingini Tuhan saja. Kalau sudah tahap ini, kita sudah tidak mengharapkan sesuatu bisa membahagiakan kita, kecuali Tuhan. Tapi kalau kita mengharapkan masih ada kemuliaan di bumi ini, pasti ada yang salah. Dari butir-butir ini, dapat disimpulkan bahwa orang tulus pasti bersedia hidup sesuai dengan kehendak Allah, atau hidup kudus. Orang tulus adalah orang yang berkomitmen tidak akan menyentuh dosa, sekecil apa pun dosa itu. Mestinya kita berani berikrar, berjanji, bernazar bahwa kita mau hidup suci. Proses yang Tuhan telah lakukan untuk membentuk kita jangan kita sia-siakan. Walaupun itu rasanya melampaui kekuatan kita, Tuhan pasti menolong kita untuk mencapai hal itu, kalau kita dengan segenap hati mengusahakannya.

Kesulitan yang dialami seseorang bisa membawanya kepada kematian bagi dunia dan hidup bagi Allah, karena Tuhan membawanya sampai Getsemani di mana Ia mengalami peremukan, bahkan bisa sampai ke salib.