Skip to content

Perdamaian yang Ideal

 

2 Korintus 5:19–20

“Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami. Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.”

Berdamai dengan Allah berarti hidup dalam persekutuan yang lengkap, utuh, dan seimbang dengan Allah. Kata ini sangat penting. Standar perdamaian dengan Allah tidak cukup hanya dengan memiliki keyakinan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat, menjadi orang Kristen, serta pergi ke gereja. Banyak orang Kristen merasa sudah berdamai dengan Allah berdasarkan standar tersebut, padahal sesungguhnya mereka belum berdamai secara benar dengan Allah. Mereka belum berdamai secara lengkap dan utuh karena tidak ada keseimbangan dengan Allah. Padahal, sudah waktunya seseorang memiliki tingkat kekudusan dan kedewasaan yang memadai untuk dapat hidup dalam perdamaian dengan Allah.

Allah berfirman dalam 1 Petrus 1:13–17 bahwa orang percaya harus hidup sebagai anak-anak Allah yang taat, yang kudus dalam segala hal. Karena itu, dalam 1 Petrus 1:16 Allah berfirman, “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” Dan selanjutnya dikatakan, “Jika engkau memanggil Allah itu Bapa, hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama menumpang di dunia.” Di balik firman ini, Allah menghendaki adanya keseimbangan antara diri-Nya dan umat-Nya: “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.”

Dalam 2 Korintus 6:17–18 firman Tuhan mengatakan, “Sebab itu: keluarlah kamu dari antara mereka dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan, demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.” Orang percaya harus keluar dari pergaulan yang jahat, dari kehidupan yang jahat, dan tidak menyentuh apa yang najis, barulah Allah menyambutnya. Inilah yang dimaksud dengan “keseimbangan”: sebagaimana Allah kudus, demikian pula kita harus kudus. Dalam hal ini, bukan Allah yang menyesuaikan diri dengan kita, melainkan kita yang harus menyesuaikan diri dengan Allah.

Itulah sebabnya, dalam Galatia 5:25 firman Tuhan mengatakan, “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.” Dalam bahasa Yunani tertulis ei zōmen Pneumati, Pneumati kai stoichōmen (Ε ζμεν Πνεύματι, Πνεύματι κα στοιχμεν), yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan if we live in the Spirit, let us also walk in the Spirit, dan dalam bahasa Latin, si vivimus Spiritu, Spiritu et ambulemus. Artinya, jika kita telah dihidupkan oleh Roh, maka kita harus hidup seirama dengan Roh itu; kita harus menyesuaikan diri dengan Allah.

Kata stoichōmen berarti berjalan seirama, seperti orang yang sedang berbaris; langkahnya harus serasi. Kitalah yang harus menyesuaikan diri dengan Allah, bukan sebaliknya. Memang, ketika seorang anak belum dewasa, orang tua tidak menuntut keseimbangan. Saat anak masih kecil, orang tua yang menyesuaikan diri dan mengimbangi anak. Demikian pula, ketika seorang Kristen masih belum dewasa—baik secara rohani maupun biologis—Allah mengimbangi dengan kesabaran dan pengertian. Namun, ketika orang percaya mulai dewasa, sikap Allah berbeda. Tuhan menghendaki orang percaya bertumbuh menjadi dewasa agar dapat bersekutu dengan Dia secara benar—itulah yang disebut sebagai perdamaian yang ideal.

Perdamaian dengan Allah tidak cukup dibangun di atas pengertian teologi semata. Banyak teolog dapat berbicara dengan sangat fasih mengenai keselamatan atau soteriologi, mengenai pendamaian dengan Allah, tetapi pengetahuan itu saja tidak cukup. Perdamaian dengan Allah harus dibangun dalam kehidupan nyata: dalam perilaku, dalam sikap hati, dan dalam keadaan batin yang berkenan di hadapan Allah. Keberkenanan kepada Allah inilah yang menjadi inti dari pembahasan dalam 2 Korintus 5.