Matius 9:29
Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: “Jadilah kepadamu menurut imanmu.”
“Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?” Pertanyaan ini merupakan salah satu pertanyaan paling mendalam yang pernah diajukan Yesus. Pertanyaan itu disampaikan kepada dua orang buta yang dengan tekun mengikuti-Nya sambil terus berseru, “Kasihanilah kami, hai Anak Daud!” Menariknya, sebelum peristiwa ini, Yesus telah melakukan berbagai mukjizat yang luar biasa. Ia membangkitkan anak perempuan seorang kepala rumah ibadat dan menyembuhkan seorang perempuan yang telah menderita pendarahan selama dua belas tahun. Namun, kepada kedua orang tersebut Yesus tidak mengajukan pertanyaan yang sama. Ia langsung bertindak sesuai dengan kebutuhan mereka. Mengapa kepada dua orang buta ini Yesus justru bertanya, “Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?”
Pertanyaan itu bukan karena Yesus tidak mengetahui isi hati mereka. Sebaliknya, kedua orang buta itulah yang membutuhkan kesempatan untuk menyatakan iman mereka. Ada perbedaan antara iman yang hanya tersimpan di dalam hati dan iman yang dinyatakan dengan penuh keyakinan kepada Tuhan. Melalui pertanyaan itu, Yesus mengajak mereka untuk menyadari, mengakui, dan menegaskan sendiri kepercayaan mereka kepada-Nya. Mereka menjawab dengan singkat, “Ya, Tuhan, kami percaya.” Jawaban itu sederhana, tetapi penuh makna. Mereka tidak meminta bukti, tidak menuntut jaminan, dan tidak berkata, “Kami akan percaya kalau kami sudah sembuh.” Mereka memilih percaya lebih dahulu, baru kemudian melihat. Pengakuan iman itu menunjukkan keyakinan mereka kepada Pribadi yang mereka percayai.
Sering kali Tuhan bekerja terlebih dahulu di dalam diri kita sebelum mengubah keadaan di sekitar kita. Hati dan iman kitalah yang lebih dahulu diproses sebelum Tuhan berkarya atas persoalan yang sedang kita hadapi. Tuhan tidak hanya peduli pada hasil akhir, tetapi juga pada proses pembentukan iman yang terjadi sepanjang perjalanan hidup kita. Bukankah sering kali kita datang kepada Tuhan dengan membawa banyak permohonan, tetapi tanpa keyakinan penuh bahwa Ia sanggup melakukannya? Kita berdoa, tetapi masih dikuasai keraguan. Kita berharap, tetapi tetap memelihara ketakutan. Kita meminta pertolongan, tetapi lebih memikirkan kemungkinan gagal daripada mempercayai kuasa Tuhan.
Melalui pertanyaan kepada dua orang buta itu, Yesus juga sedang bertanya kepada kita hari ini, “Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?” Kedua orang buta itu memang tidak dapat melihat Yesus secara fisik, tetapi mereka mampu melihat dengan mata iman bahwa Yesus adalah Anak Daud yang sanggup menyembuhkan dan memulihkan mereka. Mungkin saat ini kita sedang menantikan kesembuhan, pemulihan keluarga, pekerjaan, pelayanan, atau jawaban atas doa yang telah lama kita naikkan. Sebelum Tuhan mengubah situasi kita, bisa jadi Ia terlebih dahulu ingin meneguhkan iman kita melalui pertanyaan yang sama.
Pertanyaan itu bukan untuk membuat kita ragu, melainkan untuk mengarahkan kembali pandangan kita kepada Dia yang Mahakuasa. Sebab, di balik setiap jawaban, “Ya, Tuhan, aku percaya,” terdapat hati yang siap menerima karya-Nya, baik melalui cara yang kita harapkan maupun melalui cara yang menurut hikmat-Nya adalah yang terbaik.