Skip to content

Percaya Makna Kehadiran-Nya

Saudaraku,

Jika kita sungguh-sungguh hendak mengikut Tuhan Yesus, artinya mengikuti jejak-Nya, maka kita harus percaya bahwa di dalam Tuhan, kita akan merasa cukup dan puas. Semakin seseorang percaya dan menaruh harapnya kepada Tuhan maka damai sejahtera yang dijanjikan akan sunguh-sungguh dialami. Ia akan semakin memahami arti kelegaan atau perhentian yang dijanjikan Tuhan. Tetapi kalau seseorang meragukannya dan mendua hati, maka ia tidak akan memperoleh apa-apa. Tentu saja orang-orang yang tidak mendua hati ini akan memfokuskan dirinya kepada Tuhan secara terus menerus dan tidak terbatas. Semakin fokus kepada Tuhan, semakin kita menemukan Tuhan, maka damai sejahtera tersebut semakin dialami secara nyata dan berlimpah.

Namun bila hal ini belum dialami oleh seseorang, berarti ia harus belajar terus untuk dapat mengalaminya. Hal ini tidak bisa dialami secara otomatis atau dengan sendirinya, tetapi melalui perjuangan yang mempertaruhkan segenap hidup. Kalau kita masih berpikir hidup kita merasa cukup dan puas dan lengkap dengan berbagai fasilitas dunia berarti kita menyangkal arti kehadiran Kristus dalam hidup ini yang menjamin damai sejahtera yang melampaui segala akal (Yoh. 14:27). Inilah penyebab praktik ketidaksetiaan atau pemberhalaan. Gejala orang yang tidak percaya ini adalah mengupayakan segala sesuatu untuk dirinya sendiri atau orang-orang yang menjadi bagian hidupnya. Mestinya semua yang kita upayakan dan segala sesuatu yang kita miliki harus merupakan fasilitas yang kita sediakan bagi kepentingan Kerajaan-Nya.

Selama kita masih berlum percaya bahwa damai sejahtera Allah cukup untuk kita, akan sangat mudah untuk kita menjadi serakah dan melakukan banyak pelanggaran. Sebab pada dasarnya keserakahan dan pelanggaran berangkat dari ketidakpercayaan bahwa di dalam Tuhan hidup kita bahagia dan sejahtera walau pun tanpa siapapun dan apa pun. Hal ini bukan berarti membuat kita menjadi seorang yang aneh sehingga tidak bisa bermasyarakat. Kita tetap bisa hidup di tengah-tengah masyarakat dengan segala budayanya yang sehat menurut Alkitab, tetapi di dalam pikiran dan hati kita terpatri sebuah cara berpikir yang dikenakan oleh Tuhan Yesus. Sehingga gaya hidup kita seakan-akan sama dengan orang-orang di sekitar kita, tetapi sebenarnya sangat berbeda. Yang membedakan adalah sikap hati dalam menjalani hidup ini.  Orang-orang seperti ini pasti  tidak mungkin merugikan atau melukai sesamanya.

 

Teriring salam dan doa,

Dr. Erastus Sabdono

Semakin seseorang percaya dan menaruh harapnya kepada Tuhan, maka damai sejahtera-Nya akan sunguh-sungguh dialami.