Skip to content

Penyerahan Diri yang Sejati

 

Kalimat doa “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga” bukan sekadar untaian kata harapan, melainkan sebuah panggilan tugas yang mulia. Manusia pertama, Adam, telah gagal memenuhi panggilan ini karena ia memilih kehendak pribadinya di atas kedaulatan Allah. Namun, Tuhan Yesus datang sebagai Adam yang terakhir untuk memberikan teladan yang sempurna. Dengan ketaatan yang radikal, Yesus memastikan kehendak Bapa terlaksana sepenuhnya di bumi, bahkan jika harga yang harus dibayar adalah kematian di atas kayu salib. Yesus telah menang atas ego dan kehendak diri, dan sebagai pengikut-Nya, kita dipanggil untuk memiliki kualitas ketaatan yang sama—taat sampai akhir, bahkan jika harus mencucurkan darah demi mempertahankan integritas iman kita.

Oleh karena itu, menjadi Kristen tidak boleh dianggap sebagai sebuah “kehidupan sambilan” atau sekadar identitas pelengkap pada hari Minggu. Hidup kita di dunia ini sejatinya hanya untuk satu tujuan utama: melakukan kehendak Allah. Segala sesuatu yang lain di luar itu—pekerjaan, hobi, atau ambisi pribadi—hanyalah tambahan. Jika kita berani menjadikan kehendak Tuhan sebagai pusat yang utama, maka janji Tuhan dalam Matius 6:33 menjadi nyata: segala kebutuhan kita yang lain akan ditambahkan-Nya. Namun, untuk mencapai tingkat prioritas ini, setiap kita harus bersedia masuk ke dalam “Taman Getsemani” pribadi kita masing-masing.

Getsemani secara harfiah berarti “tempat peremukan.” Bagi kita sebagai anak-anak Allah, dunia ini adalah tempat peremukan tersebut. Selama hidup di bumi, kita akan mengalami berbagai proses peremukan ego, keinginan, dan cita-cita pribadi. Namun, kita tidak perlu menyesal atau pahit hati saat mengalami proses yang menyakitkan ini. Sebab, tahun-tahun hidup kita di bumi sebenarnya adalah masa persiapan dan masa di mana kita dilayakkan untuk masuk ke dalam kemuliaan surga. Tanpa peremukan kehendak diri, kita tidak akan pernah bisa sepenuhnya tunduk di bawah kedaulatan Allah.

Proses meninggalkan diri sendiri atau self-denial memang merupakan proses yang sangat menyakitkan. Hal ini melibatkan penyerahan kedaulatan secara total. Jika sebuah negara menyerah kepada negara lain yang menaklukkannya, maka raja dari negara tersebut harus menyerahkan seluruh hak kedaulatannya kepada raja yang menaklukkannya. Ia harus tunduk, memberikan upeti, dan membiarkan seluruh hak-haknya dikuasai oleh penguasa yang baru. Demikian pula dengan hubungan kita dengan Tuhan. Banyak orang berkata, “Aku berserah,” hanya ketika mereka sedang terdesak oleh masalah, sakit penyakit, atau kemiskinan. Namun, penyerahan diri yang benar adalah ketika kita memiliki kesempatan untuk membalas dendam, tetapi kita memilih mengampuni; ketika kita bisa melakukan korupsi tanpa ketahuan, tetapi kita memilih untuk jujur. Itulah bukti bahwa kita telah menyerahkan diri sepenuhnya kepada kedaulatan Bapa.

Pada akhirnya, ketika kita telah mencapai titik penyerahan diri yang benar, situasi apa pun di dunia ini tidak akan lagi menggoyahkan kita. Mengapa? Karena secara spiritual kita sudah berada “di surga”—sebuah kondisi di mana kedaulatan Allah bertakhta penuh atas jiwa kita. Orang Kristen yang sudah mengerti kebenaran ini akan tetap merasakan damai sejahtera yang melampaui segala akal dari Roh Kudus, bahkan di tengah hiruk-pikuk dan kesulitan dunia. Mari kita membiasakan diri untuk rela dikuasai oleh Tuhan sepenuhnya. Lepaskanlah kendali hidup Anda dan biarkan Sang Bapa yang memegang kemudi, karena hanya dalam penundukan total itulah kita menemukan kemerdekaan sejati sebagai anak-anak Allah.