“Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.”
Kalimat ini merupakan doksologi yang menutup Doa Bapa Kami. Namun, jika kita melihat Alkitab bahasa Indonesia, kalimat ini berada di dalam tanda kurung. Hal ini menunjukkan bahwa bagian tersebut muncul dalam beberapa naskah Alkitab yang lebih kemudian. Kemungkinan, pada naskah Yunani yang paling awal, kalimat ini belum terdapat. Sekalipun kalimat ini merupakan tambahan, kita percaya bahwa apa yang ditambahkan dalam Doa Bapa Kami ini sangat berkaitan dengan kalimat-kalimat sebelumnya. Bahkan, ada kesan bahwa kalimat ini mengulangi pokok-pokok yang telah disampaikan sebelumnya. Karena itu, kita akan membedah kalimat ini dan melihat kebenaran yang termuat di dalamnya.
Melalui kalimat, “Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya,” kita diarahkan untuk berani meletakkan pengharapan kita kepada penyataan Kerajaan Allah. Di sini kita menemukan warna hidup Kekristenan yang benar, yaitu warna hidup bangsawan surgawi yang pengharapannya tertuju kepada penyataan Kerajaan Allah. Kalau tujuan, pengharapan, dan kesenangan hidup seseorang adalah dunia ini, maka warna hidupnya adalah warna hidup seperti anak-anak dunia pada umumnya. Tidak sedikit orang Kristen yang sebenarnya masih memiliki warna hidup seperti itu. Ia berurusan dengan Tuhan bukan karena ingin memindahkan hatinya kepada pengharapan yang dikehendaki Tuhan, melainkan untuk menggapai dan melestarikan kejayaan lahiriah di dunia ini.
Rasul Petrus menulis dalam suratnya, “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan.” (1 Petrus 1:3). Kemudian, “Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus.” (1 Petrus 1:13). Artinya, kita harus berjuang untuk dapat dan berani meletakkan seluruh pengharapan kita kepada penyataan Kerajaan Allah, yaitu pada saat kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang kedua. Bagi mereka yang sungguh-sungguh berjuang saja tidak mudah memindahkan hati kepada Kerajaan Surga, apalagi bagi mereka yang tidak sungguh-sungguh. Memang kita tidak dapat langsung menjadi sempurna, tetapi tanda-tanda ke arah itu harus ada.
Penyataan Yesus Kristus adalah kedatangan-Nya yang kedua, saat Tuhan menunjukkan secara nyata kerajaan, kuasa, dan kemuliaan-Nya. Kedatangan Yesus Kristus merupakan pengharapan yang harus kita nantikan sebagai mempelai-Nya. Dalam Titus 2:12–13 dituliskan: “Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juru Selamat kita Yesus Kristus.” Penyataan kemuliaan Allah inilah yang dalam bahasa Yunani ditulis ἐπιφάνεια (epiphaneia), yang berarti “penampakan diri.” Kristus akan menampakkan diri secara fisik, turun dari surga, dan dapat dilihat oleh semua orang, sama seperti orang-orang melihat-Nya naik ke surga (Kisah Para Rasul 1:11). Pada saat itulah tergenapi pernyataan yang disampaikan Alkitab dalam Filipi 2:10–11.
Pengakuan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dilakukan bukan hanya di surga, melainkan juga di bumi. Seluruh penduduk bumi dan segala isinya akhirnya akan mengakui bahwa Yesus sungguh-sungguh Tuhan, karena mereka melihat Yesus Kristus datang sebagai Raja. Kalau kita sungguh-sungguh percaya kepada apa yang dikatakan oleh firman Tuhan ini, kita harus belajar mengarahkan hati kita kepada pengharapan itu. Tidak cukup hanya dengan persetujuan di mulut belaka. Persetujuan kita harus diiringi dengan tindakan konkret. Bila tidak, maka persetujuan itu tidak memiliki nilai.