Dalam Doa Bapa Kami terdapat satu kalimat yang kerap diucapkan dengan ringan, tetapi sesungguhnya mengandung makna yang sangat berat: “Ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Mat. 6:12). Kalimat ini bukan sekadar permohonan doa, melainkan sebuah pernyataan hidup yang memuat konsekuensi rohani yang tidak dapat dihindari. Doa tersebut tidak hanya mengarahkan manusia kepada Allah, tetapi sekaligus menguji kedalaman relasinya dengan sesama.
Sering kali pengampunan Allah dipahami secara dangkal, seolah-olah pengampunan itu murah karena Allah adalah kasih. Namun Alkitab menyatakan realitas yang jauh lebih dalam. Allah memang penuh kasih, tetapi Ia juga kudus dan adil. Pengampunan tidak lahir dari emosi sesaat, melainkan dari tatanan ilahi yang sempurna. Setiap dosa menuntut ganjaran; setiap pelanggaran memiliki konsekuensi. Jika Allah mengampuni tanpa tatanan keadilan, maka kekudusan-Nya menjadi tidak bermakna. Justru melalui pengampunan, Allah memperlihatkan betapa serius-Nya Ia memandang dosa dan betapa tinggi nilai kekudusan yang Ia junjung.
Karena itulah pengampunan selalu menuntut korban. Dalam Perjanjian Lama, darah binatang dicurahkan sebagai tanda bahwa dosa memiliki harga yang harus dibayar. Namun darah binatang tidak pernah benar-benar menghapus dosa manusia, sebab dosa dilakukan oleh manusia sendiri. Di sinilah Injil menyatakan betapa mahalnya harga pengampunan: Allah Bapa menyerahkan Anak Tunggal-Nya, Yesus Kristus, untuk menanggung ganjaran dosa manusia. Salib bukan sekadar simbol kasih, melainkan perwujudan keadilan Allah yang digenapi secara sempurna.
Bagi Allah, mengampuni manusia bukanlah perkara kecil. Ia rela menyerahkan Anak yang dikasihi-Nya demi keselamatan manusia. Ketika kebenaran ini direnungkan dengan sungguh, seharusnya hati manusia terguncang. Pengampunan tidak dapat diterima dengan sikap acuh tak acuh, seakan-akan tidak ada harga yang dibayar. Salib Kristus berdiri sebagai saksi bahwa pengampunan itu mahal, menyakitkan, dan penuh pengorbanan—baik bagi Anak Allah yang disalibkan maupun bagi Bapa yang menyerahkan-Nya.
Oleh karena itu, Yesus secara tegas mengaitkan pengampunan Allah dengan pengampunan manusia kepada sesamanya. Seseorang tidak dapat menikmati pengampunan Allah sambil tetap memelihara dendam, kebencian, dan kepahitan. Dalam perumpamaan tentang hamba yang tidak mau mengampuni (Mat. 18:32–35), Yesus menunjukkan bahwa pengampunan yang telah diterima dapat berujung pada penghakiman ketika seseorang menolak mengampuni orang lain. Ini bukan sekadar peringatan simbolis, melainkan sebuah teguran serius bagi kehidupan rohani orang percaya.
Pengampunan sejati hampir selalu melibatkan rasa sakit. Jika seseorang mengampuni tanpa kehilangan apa pun, mungkin pengampunan itu belum sungguh terjadi. Justru di dalam rasa sakit itulah manusia mulai memahami hati Allah. Allah mengampuni manusia dengan harga yang mahal; karena itu pengampunan kepada sesama pun tidak pernah murah atau bebas dari pergumulan batin.
Ketika seseorang mulai menghayati pengorbanan Kristus—darah-Nya yang tercurah, tubuh-Nya yang terkoyak di kayu salib, dan kasih-Nya yang total kepada manusia—luka-luka batin perlahan kehilangan kuasanya. Dendam mereda, kepahitan melemah, dan amarah berangsur-angsur sirna. Bukan karena luka itu tidak nyata, tetapi karena salib Kristus jauh lebih besar daripada luka mana pun.
Tulisan ini mengundang refleksi yang jujur: apakah manusia telah mengampuni sebagaimana Bapa telah mengampuni? Ataukah masih ada keinginan untuk memegang hak membenci, mengingat kesalahan, dan menuntut pembalasan? Doa Bapa Kami tidak memberi ruang bagi kompromi. Doa ini memanggil setiap orang percaya untuk memiliki hati yang serupa dengan hati Bapa.
Pengampunan, pada akhirnya, bukan sekadar ajaran moral, melainkan panggilan hidup. Orang percaya hidup bukan lagi untuk dirinya sendiri, melainkan untuk Dia yang telah membayar harga termahal. Dan setiap kali seseorang mengampuni, ia sedang melangkah di jejak salib—jejak kasih yang mahal, tetapi memerdekakan.