Skip to content

Pengalaman Jatuh Cinta 

Pasti sebagian besar kita pernah mengalami apa artinya jatuh cinta, atau pernah mengalami bercinta. Pengalaman yang sulit dikatakan tidak indah atau tidak mungkin dikatakan tidak indah. Pengalaman bercinta atau jatuh cinta itu biasanya pengalaman yang indah. Alkitab juga mencatat bahwa hal ini sukar dimengerti, yaitu wanita yang mencintai pria, atau sebaliknya. Tuhan bisa membuat hubungan yang begitu istimewa antara pria dan wanita yang memiliki latar belakang yang berbeda, lalu bisa terikat dalam satu percintaan. Itu indah sekali. Seperti yang kita tahu, kita lihat, juga kita alami pada waktu kita jatuh cinta dan bercinta, rasanya dunia menjadi berubah. Sukar menceritakan kepada orang yang belum pernah jatuh cinta. Tapi kalau orang jatuh cinta, dunia seperti berubah ketika kita jatuh cinta lalu menikmati cinta itu. Tidak berlebihan, memang indah dirasakan. Bahkan, bisa jadi apa yang dikemukakan ini belumlah mewakili gelora indahnya cinta yang dialami, yang dijalani seseorang yang jatuh cinta atau bercinta. 

Itu kalau cinta ditujukan kepada sesama. Benar-benar indah, dan dunia terasa berubah. Bagaimana kalau cinta itu kita tujukan kepada Tuhan? Jatuh cinta kepada Tuhan. Betapa berlipat ganda indahnya, dan betapa keadaan dunia sekitarmu juga benar-benar bisa berubah. Bahkan, kita mengubah nasib kekal kita. Jangan sampai kita tidak pernah memiliki pengalaman jatuh cinta kepada Tuhan. Mungkin kita bisa tidak pernah jatuh cinta kepada seseorang, atau kita pernah dikecewakan oleh seseorang, sehingga menjadi takut menaruh hati atau jatuh cinta, sebab takut dikecewakan. Dan pengalaman traumatis seperti ini tentu dialami atau bisa dialami oleh orang orang-orang tertentu yang memiliki pengalaman pahit dan pedih dalam bercinta. 

Percayalah bahwa Allah semesta alam yang menciptakan langit dan bumi, tidak akan pernah berkhianat kepada kita? Tidak akan pernah mengecewakan kita. Betapa indahnya jika kita memiliki pengalaman bercinta kepada Tuhan. Betapa jauh lebih indah dari cinta seseorang kepada sesamanya. Dan betapa kehidupan kita menjadi berubah, bahkan nasib kekal kita. Jangan sampai kita tidak pernah jatuh cinta kepada Tuhan. Tidak berlebihan, ketika Allah menciptakan manusia, Allah mengunci manusia dengan satu keberadaan bahwa manusia tidak pernah bisa menjadi manusia, jika tidak bersatu dengan Penciptanya. Kalau kata “bersatu” diganti dengan kata “jatuh cinta,” manusia tidak akan pernah menjadi manusia jika tidak jatuh cinta kepada Penciptanya. Ini tidak berlebihan. 

Tuhan Yesus berkata kepada perempuan Samaria di perigi Yakub di kota Sikhar di Injil Yohanes 4, “Kamu minum air ini, kamu haus lagi. Tapi kalau kau minum air yang Kuberikan, kamu tidak pernah harus lagi. Akulah air kehidupan.” Pengalaman bercinta bisa menjadi gambaran atau analogi hubungan kita dengan Tuhan. Kalau seseorang sudah jatuh cinta, normalnya atau yang proporsional dan proper, siapa pun menjadi tidak menarik lagi. Ketika seseorang jatuh cinta, ia merasa bahwa objek yang dicintainya itulah satu-satunya yang bisa mengisi hatinya. Jadi, tidak heran kalau seseorang dikhianati oleh pacarnya atau pasangan hidupnya, bisa sampai mengambil keputusan ekstrem seperti bunuh diri. 

Ini menjadi gambaran atau analogi hubungan kita dengan Allah. Kita harus mengalami percintaan dengan Tuhan, sampai kita benar-benar memahami yang dikatakan oleh firman Tuhan, “Seperti rusa merindukan sungai yang berair, demikian jiwaku merindukan Engkau.” Kita juga bisa memahami yang dikatakan firman Tuhan, “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi.” Terus terang,  jarang kita temukan orang yang memiliki cinta yang utuh, yang bulat, yang membara kepada Tuhan dalam standar yang benar, dalam standar yang proporsional ini. Tetapi pasti Tuhan menyisakan orang-orang yang mencintai Tuhan seperti ini. Dan mestinya, hamba-hamba Tuhan mencintai Tuhan dengan gelora yang kuat, sehingga waktu dia berdoa, menyanyi, ia tidak bisa menyembunyikan cintanya itu. 

Orang akan dapat meraba, orang akan merasakan cintanya kepada Tuhan yang tidak dibuat-buat. Dan ini bisa memberikan impartasi atau penularan kepada orang lain. Orang lain bisa terpapar oleh gairah cinta kepada Tuhan itu. Jangan sampai kita belum mengambil keputusan untuk mencintai Tuhan dengan segenap hati. Menjadi doa kita bersama, “Tolong aku dapat mencintai Engkau, Tuhan, sebagaimana seharusnya aku mencintai.” Kita harus nekat untuk ini. Sesuai dengan 1 Korintus 16:22, “Terkutuklah aku kalau aku tidak mengasihi Engkau.” Mari kita pagari diri kita dengan janji ini, kita pagari diri kita dengan sumpah ini, supaya kita mengarahkan hidup kita kepada Tuhan. Jangan memberi kesempatan hati kita terarah kepada yang lain, sebab kita tahu hanya Dia jawaban hidup kita. Suatu hari nanti, kita akan membuktikan bahwa ternyata yang kita butuhkan hanya Tuhan. 

Jangan sampai kita tidak pernah memiliki pengalaman jatuh cinta kepada Tuhan