1 Korintus 8:6
“Namun, bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang daripada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.”
Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, hubungan antara manusia dengan Allah menjadi rusak. Dosa bukan hanya memisahkan manusia dari Sang Pencipta, tetapi juga membuat manusia kehilangan arah dan tujuan hidup yang semula dirancang Allah. Namun, puji Tuhan, kasih Allah tidak pernah berhenti. Allah telah menyiapkan jalan keselamatan melalui Yesus Kristus. Yesus datang ke dunia sebagai manusia, mengalami penderitaan, pencobaan, dan pergumulan sebagaimana kita, tetapi tetap hidup dalam ketaatan yang sempurna kepada Bapa. Ketaatan itu mencapai puncaknya ketika Yesus rela mati di kayu salib sebagai kurban penebusan bagi dosa manusia.
Karena itu, mengakui Yesus sebagai Tuhan bukan sekadar mengucapkan sebuah kalimat iman. Pengakuan tersebut berarti menerima karya salib-Nya sebagai satu-satunya jalan keselamatan. Alkitab menegaskan bahwa tidak ada nama lain di bawah kolong langit yang olehnya manusia dapat diselamatkan selain nama Yesus Kristus (Kisah Para Rasul 4:12). Dialah Tuhan yang diberi kuasa atas segala sesuatu. Rasul Paulus menuliskan bahwa hanya ada satu Allah, yaitu Bapa, dan satu Tuhan, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu dijadikan dan yang oleh-Nya kita hidup (1 Korintus 8:6). Pengakuan ini menjadi dasar iman setiap orang percaya.
Mengakui Yesus sebagai Tuhan juga berarti berani menyerahkan seluruh hidup kepada pemerintahan-Nya. Sering kali kita mudah mengaku percaya ketika hidup berjalan baik, tetapi mulai ragu ketika menghadapi penderitaan, penolakan, atau kesulitan. Padahal, justru dalam situasi seperti itulah iman diuji. Dunia tampak seolah-olah dikuasai oleh kejahatan. Bahkan, terkadang orang benar mengalami penderitaan. Namun, keadaan itu tidak berarti Yesus kehilangan kuasa. Firman Tuhan mengingatkan bahwa semua kerajaan dunia akan berakhir, tetapi Kerajaan Kristus akan berdiri untuk selama-lamanya (Daniel 2:31–45). Karena itu, orang percaya dipanggil untuk tetap setia, membela kebenaran, dan hidup sesuai kehendak-Nya, sekalipun harus menanggung risiko.
Kesetiaan kepada Yesus bukanlah hasil dari kekuatan manusia semata. Perubahan hidup membutuhkan kesiapan hati dan pikiran. Rasul Petrus menasihatkan, “Siapkanlah akal budimu.” (1 Petrus 1:13). Artinya, kita perlu mempersiapkan pikiran agar diperbarui oleh firman Tuhan. Dunia mengajarkan kita mengandalkan diri sendiri, mengejar kenyamanan, dan menghindari penderitaan. Sebaliknya, Kristus mengajarkan penyerahan diri, ketaatan, dan kesediaan memikul salib. Tanpa pembaruan cara berpikir, kita akan sulit hidup sesuai kehendak Tuhan.
Sekarang, marilah kita bertanya kepada diri sendiri, “Apakah pengakuan bahwa ‘Yesus adalah Tuhan’ hanya berhenti di bibir, atau sudah nyata dalam setiap keputusan, sikap, dan prioritas hidup kita?” Perenungan ini penting, sebab pengakuan yang sejati akan terlihat melalui ketaatan, kesetiaan, dan keberanian untuk tetap percaya kepada-Nya dalam segala keadaan. Ketika kita menempatkan Yesus sebagai Tuhan atas hidup kita, kita tidak dapat lagi hidup menurut kehendak sendiri, melainkan menurut kehendak-Nya yang sempurna.