Matius 7:7-11
“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima; setiap orang yang mencari, mendapat; dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya jika ia meminta roti, atau memberi ular jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”
Ayat-ayat dalam Matius 7:7–11 ini sering dijadikan landasan pemikiran mengenai jawaban doa, sehingga bagian ini sering diberi judul “Pengabulan Doa.” Selama ini banyak pengajaran yang mengesankan bahwa doa yang dinaikkan dengan sungguh-sungguh pasti dikabulkan, seakan-akan orang percaya memiliki hak khusus untuk menyampaikan permintaan. Bahkan digambarkan seolah-olah supaya doa dijawab, “suhu” doa harus mencapai tingkat tertentu. Jika hanya “40 derajat” belum dijawab atau belum dikabulkan, tetapi jika sampai “100 derajat” maka pasti dikabulkan. Sebenarnya konsep seperti ini berasal dari pola pikir agama kafir. Dalam cerita pewayangan pun konsep ini ada. Dalam beberapa agama terdapat kiat-kiat tertentu agar doa dikabulkan, seperti jenis doa tertentu agar anak menjadi penurut, agar mendapat jodoh yang baik, atau ayat-ayat tertentu yang dibaca untuk mengusir setan, mendatangkan berkat, dan sebagainya.
Kekristenan sebenarnya tidak mengenal konsep seperti itu dan tidak seharusnya mengajarkannya. Namun ironisnya, cara berpikir seperti ini justru masuk ke dalam teologi Kristen atau kehidupan orang Kristen. Memang bagi orang Kristen yang masih baru, yang ditekankan adalah kesungguhan dalam berdoa. Tetapi bagi orang Kristen yang sudah dewasa, yang ditekankan adalah usaha untuk mengerti kehendak Allah. Untuk mengerti kehendak Allah, seseorang harus memiliki kepekaan rohani. Untuk memiliki kepekaan, ia harus mengenal kebenaran. Untuk mengenal kebenaran, ia harus rajin dan tekun belajar. Dari pengetahuan akan kebenaran yang dimiliki seseorang, pada tingkat tertentu ia akan mengerti bahwa dirinya bukan lagi miliknya sendiri. Kristus telah mati untuk kita, dan sekarang jika kita hidup, kita hidup sepenuhnya bagi Dia. Jika demikian, apakah kita masih berhak memiliki permintaan pribadi? Untuk sampai pada taraf ini memang luar biasa sulitnya.
Jika konsep pengabulan doa dipahami dengan kacamata permohonan dalam agama-agama pada umumnya, maka ayat-ayat tersebut langsung diasumsikan sebagai jaminan bahwa setiap doa pasti dijawab, atau sebagai petunjuk bagaimana doa dapat dikabulkan. Namun dalam kekristenan kita percaya bahwa jika seseorang telah ditebus oleh darah Tuhan Yesus Kristus dan hidup sepenuhnya bagi Tuhan, maka ia tidak boleh memiliki kepentingan selain mengabdi kepada-Nya. Pertanyaannya, apakah ia masih berhak memiliki permintaan? Kalaupun memiliki permintaan, maka permintaan itu harus berkaitan dengan kepentingan Tuhan yang memiliki hidupnya. Sementara itu, sering kali dari mimbar diajarkan bahwa kita datang ke gereja untuk berdoa supaya permintaan kita dikabulkan dan masalah kita diselesaikan. Hal ini mungkin dapat dimengerti bagi orang Kristen yang masih baru. Tetapi kekristenan yang dewasa membawa setiap orang menjadi sahabat Tuhan. Setiap individu harus dapat berhubungan langsung dengan Tuhan tanpa perantara. Jika kita menjadi sahabat-Nya, maka Ia akan terlibat dalam kehidupan kita karena kita adalah sahabat-Nya. Lalu bagaimana kita dapat menjadi sahabat-Nya? Jangan mencintai dunia.
Kata “meminta,” jika dikaitkan dengan Injil Yohanes 14:14—di mana Tuhan berkata, “Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya”—menunjukkan bahwa tidak boleh ada sesuatu yang kita minta di luar persetujuan-Nya. Mulai sekarang, apa pun yang kita inginkan harus selaras dengan kehendak-Nya. Namun ironisnya, sering diajarkan bahwa jika seseorang mengucapkan “dalam nama Yesus, dalam nama Yesus, dalam nama Yesus,” seolah-olah Bapa di surga dipaksa untuk mengabulkan apa yang kita doakan. Padahal ketika kita meminta dalam nama Yesus, itu berarti bahwa semua permintaan kita harus sesuai dengan keinginan, maksud, rencana, dan kebijaksanaan-Nya.