Skip to content

Pencobaan sebagai Jalan Menuju Kemuliaan

 

Sekalipun Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa Allah tidak mencobai siapa pun, kita harus memahami bahwa Ia mengizinkan kita masuk ke dalam pencobaan. Pencobaan, dalam konteks ini, diartikan sebagai munculnya berbagai kemungkinan bagi manusia untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Allah. Allah sengaja tidak menutup kemungkinan tersebut karena ada sebuah tujuan mulia di baliknya. Sering kali muncul pertanyaan skeptis dalam pikiran manusia: “Bukankah lebih baik bila Allah tidak mengizinkan kita masuk ke dalam pencobaan sama sekali?” Pertanyaan ini senada dengan kegelisahan mengenai mengapa Allah menempatkan pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat di tengah Taman Eden, yang seolah-olah menjadi jebakan bagi kejatuhan manusia.

Namun, melalui keberadaan pohon itu, Tuhan sebenarnya ingin melihat siapa yang akhirnya dipilih dan diingini secara tulus oleh manusia: Tuhan atau Iblis. Kita perlu menyadari sebuah prinsip moral yang sangat mendalam bahwa manusia tidak dapat dikatakan memilih yang benar jika tidak ada peluang atau kesempatan bagi dirinya untuk memilih yang salah. Kedua peluang tersebut harus diberikan secara adil, sekalipun ada risiko besar bagi manusia untuk salah melangkah. Keberadaan pilihan inilah yang memberikan nilai pada ketaatan kita. Tanpa adanya opsi untuk memberontak, ketaatan hanyalah sebuah keterpaksaan mekanis, bukan sebuah keputusan yang lahir dari kasih dan penghormatan.

Fakta adanya kesempatan untuk memilih menunjukkan bahwa manusia diberi martabat yang tinggi oleh Allah. Jika kita setia hanya karena tidak memiliki peluang untuk tidak setia, maka itu bukanlah kesetiaan yang murni. Justru ketika peluang untuk berkhianat terbuka lebar, tetapi kita dengan sadar memilih untuk tetap setia, itulah yang disebut sebagai kesetiaan sejati. Demikian pula dengan kasih; jika kita mencintai Tuhan hanya karena tidak ada objek lain untuk dicintai, maka itu bukanlah cinta yang tulus. Cinta sejati baru teruji ketika ada banyak tarikan lain yang memikat, tetapi kita tetap memilih untuk mencintai dan memuja Tuhan di atas segalanya.

Oleh karena itu, pencobaan sejatinya adalah sebuah jembatan yang harus kita seberangi untuk menerima kemuliaan. Bagaimana mungkin kita bisa dikatakan sebagai pribadi yang sabar apabila kita belum pernah berada dalam situasi yang memancing amarah atau diludahi secara psikologis? Bagaimana kita bisa disebut rendah hati apabila kita tidak pernah memiliki kesempatan atau kekuatan untuk meninggikan diri? Kesucian dan kebajikan kita baru terbukti saat ada peluang untuk tidak taat, tetapi kita memilih untuk menolaknya. Tuhan pasti membiarkan peluang-peluang untuk tidak taat hadir dalam lintasan hidup kita agar di situlah kita belajar memilih ketaatan dengan sungguh-sungguh.

Manakala kita menghadapi masalah atau situasi pelik yang membuat kita berhadapan dengan kemungkinan untuk berbuat salah, janganlah segera merasa putus asa atau menyalahkan keadaan. Sebaliknya, lihatlah momen tersebut sebagai ujian kemurnian iman. Saat kita tetap memilih Tuhan dan menaati firman-Nya di tengah himpitan pilihan yang salah, pada saat itulah integritas kita sebagai anak-anak Allah sedang diuji dan dimurnikan. Ketaatan dalam pencobaan adalah bukti bahwa kedaulatan Tuhan benar-benar bertakhta dalam hati kita, membawa kita semakin dekat pada keserupaan dengan karakter Kristus yang telah menang atas segala pencobaan dunia.