Kepentingan Tuhan adalah mengubah manusia untuk bisa menjadi corpus delicti, yaitu mencapai kesempurnaan seperti Kristus. Hal ini sulit membuat seorang rohaniwan memanipulasi kegiatan pelayanannya untuk kepentingan pribadi. Sebab yang utama dan pertama yang harus dilakukan adalah mengusahakan diri menjadi contoh nyata kehidupan (role model). Selanjutnya, ia harus mengajarkan kebenaran tiada henti agar pola berpikir jemaat diubah. Hanya kalau pola berpikir seseorang diubah dengan kebenaran firman Tuhan atau Injil yang murni, maka seluruh gaya hidupnya ikut diubahkan sesuai dengan kehendak Allah. Tetapi kalau pola berpikir seseorang tidak diubah, maka gaya hidup tidak akan berubah sesuai dengan standar gaya hidup Tuhan Yesus.
Tuhan Yesus berkata kepada Petrus, “Sesungguhnya ketika engkau masih muda, engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kau kehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kau kehendaki” (Yoh. 21:18). Mengikat pinggang menunjuk hidup dalam kebebasan berbuat segala sesuatu untuk kepentingan dirinya sendiri. Tetapi mengulurkan tangan dan orang lain mengikat dan membawanya ke tempat yang tidak disukainya menunjuk kehidupan yang dibelenggu oleh kehendak Tuhan, untuk melakukan kehendak Tuhan dengan pertaruhan nyawanya. Faktanya, Petrus tetap melayani Tuhan dengan setia sampai akhir hayatnya, bahkan ketika ia harus menghadapi hukuman mati yang mengerikan.
Dahulu kita tidak mengerti bagaimana seseorang bisa tidak memiliki keinginan untuk diri sendiri, tetapi semakin mengenal kebenaran segala keinginan kita semakin dipangkas sehingga yang tumbuh adalah keinginan melakukan kehendak Allah. Untuk proses pemangkasan tersebut yang ditanggulangi adalah keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup (1Yoh. 2:15-17).
Pemangkasan dimulai dari keinginan daging menyangkut makan, minum dan seks. Kemudian, keinginan mata menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani seperti rumah, mobil, perhiasan dan segala sesuatu yang orang modern merasa sebagai kebutuhan. Keinginan mata ini sama dengan konsumerisme atau yang sama dengan kewajaran hidup seperti manusia lain. Yang terakhir paling berat yaitu keangkuhan hidup. Di dalamnya menyangkut harga diri, penghormatan manusia dan penerimaan sesama terhadap dirinya.
Maka untuk sementara waktu Tuhan membiarkan murid-murid-Nya mengikut Dia dengan motivasi yang salah atau landasan iman yang keliru. Hal itu bisa ditolerir karena mereka sudah terlalu lama hidup dalam cara pandang orang-orang Yahudi yang salah sebab orientasi berpikirnya duniawi. Dalam suatu kesempatan Tuhan menunjukkan bahwa itu sesungguhnya Iblis (Mat. 16:16-23). Bagaimana menyadari bahwa itu bukan dari Allah? Harus dengan pengertian yang dibangun dari proses belajar dan tuntunan Roh Kudus. Ini adalah usaha yang serius dilakukan, bukan sekadar sebuah pewahyuan tanpa kerja keras.
Setelah mengerti kebenaran barulah mereka dapat mengiring Tuhan dengan motivasi yang benar. Jadi, motivasi yang benar tidak dapat diperoleh melalui pewahyuan secara mistis atau secara adikodrati, tetapi melalui proses belajar yang membuka pengertian seseorang terhadap kebenaran yang murni. Dari sebuah proses belajar dengan sikap hati yang benar seseorang bisa dientaskan dari kebodohan sehingga memahami kebenaran secara utuh. Hal ini akan ditandai dengan kerelaan tidak memiliki keinginan atau tidak merasa memiliki kepentingan selain berkorban bagi Tuhan.
Hal ini menjadi gambaran kehidupan kita pada masa ini. Tuhan masih “membiarkan” kita mengikut Tuhan dengan motivasi yang salah. Diharapkan seiring dengan perjalanan waktu kita terus giat belajar kepada Roh Kudus agar bisa bertumbuh dan tercelik untuk mengerti kekristenan yang sejati dan diubahkan. Perubahan itu akan membawa kita kepada kematian diri sendiri dan kehidupan anak Allah menguasai hidup kita. Prinsipnya sama dengan Tuhan Yesus bahwa makanan-Nya adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Ini berarti melahirkan kehidupan Tuhan Yesus dalam hidup kita. Sampai pada level ini barulah seseorang bisa dikatakan hidup bagi Tuhan atau hidup melayani Tuhan atau hidup sebagai saksi. Orang seperti itu adalah pribadi yang berkelas “corpus delicti.”
Sayang sekali, ternyata banyak orang Kristen yang tidak bertumbuh sehingga tidak pernah dientaskan sebagai pengikut Kristus yang sejati. Mereka bisa fanatik terhadap gereja dan pendetanya, tetapi tidak fanatik terhadap pribadi Tuhan. Sehingga mereka tidak pernah menjadikan Yesus sebagai Tuhan. Mereka berseru memanggil nama Yesus, tetapi tidak menundukkan diri sebagai hamba bagi-Nya. Mereka merasa berhak memiliki kepentingan terhadap Tuhan, tetapi tidak mempersoalkan kepentingan Tuhan terhadap dirinya.