Selama beberapa dekade belakangan, muncul berbagai pelayanan karismatis yang menonjolkan kuasa Allah. Pelayanan karismatis tersebut biasanya hadir dalam bentuk pelayanan mukjizat kesembuhan, pelepasan dari utang, pelepasan kutuk nenek moyang, dan pengusiran roh jahat. Pelayanan tersebut menarik simpati dan decak kagum dari banyak orang. Akhirnya, tidak heran gereja-gereja yang mampu menunjukkan pelayanan karismatis tersebut mengalami ledakan jemaat. Gereja mereka dibanjiri oleh banyak anggota baru yang biasanya merupakan pindahan dari gereja lainnya. Tidak jarang juga ada anggota jemaat baru yang pindah dari agama lain karena mengalami sendiri mukjizat dalam pelayanan karismatis tersebut.
Sebagai respons terhadap pelayanan karismatis tersebut, ada gereja-gereja arus utama yang mengkritik kegerakan tersebut. Kritik utama mereka terletak pada apa yang ditawarkan oleh gereja-gereja dengan pelayanan karismatis tersebut. Menurut mereka, gereja-gereja karismatik tersebut menawarkan berkat dan mukjizat lebih daripada Tuhan dan kebenaran-Nya. Gereja arus utama tersebut menuduh gereja-gereja karismatik sebagai gereja yang sesat dan transaksional. Menurut mereka, gereja seharusnya menawarkan Injil yang mengikis keberdosaan ketimbang mukjizat dan berkat duniawi. Mereka tidak menolak adanya mukjizat dan pertolongan Tuhan, tetapi mengecam fokus gereja karismatik yang telah menyimpang pada kemakmuran jasmani. Kritik mereka diperkuat dengan munculnya kasus-kasus dan temuan-temuan penyimpangan penggunaan keuangan di gereja karismatik serta amoralitas di kalangan pendeta maupun aktivisnya. Bagaimana tanggapan kita terhadap hal ini?
Dalam Matius 4:23 dikisahkan, “Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu.” Kehidupan dan pelayanan Yesus adalah teladan utama yang kepadanya kita harus melandaskan seluruh gerak kehidupan pribadi maupun pelayanan gerejawi. Pada ayat di atas, dengan indah diuntai dua sisi yang sering kali bersitegang pada masa kini. Sisi karismatis dan sisi transformatis terjalin dengan indah dalam hidup dan pelayanan Yesus. Sisi karismatis di sini merujuk pada kuasa, otoritas, dan karunia yang berasal dari Allah melalui Roh Kudus. Sisi karismatis meneguhkan kepercayaan dan memberi pertolongan. Sementara itu, sisi transformatis adalah aspek pengajaran dan pendewasaan melalui kebenaran. Sisi transformatis sering kali dapat mengganggu atau tidak nyaman bagi manusia daging, tetapi ia mengubahkan. Namun, dalam gerak pelayanan Yesus, keduanya menjadi satu sehingga menjadi sebuah pelayanan yang holistik atau menyeluruh—tidak hanya menyentuh yang spiritual, tetapi juga kehidupan sehari-hari.
Kebenaran yang kita peroleh dari ayat ini adalah perhatian Tuhan yang holistik pada kekekalan maupun kesementaraan manusia. Dengan mengajar dan memberitakan Injil, Ia memperhatikan kekekalan manusia. Di sisi lain, dengan menyembuhkan, Ia juga sungguh memperhatikan pergumulan sehari-hari manusia yang meskipun sementara, namun tidak kalah penting. Tuhan tidak hanya peduli pada satu sisi secara ekstrem saja. Ia tahu bahwa apabila seseorang sakit dan terikat dengan kuasa gelap, mereka tidak mungkin bisa mencari Allah dan Kerajaan-Nya secara optimal. Namun, pada saat yang bersamaan, Ia juga sepenuhnya sadar bahwa mukjizat dan pertolongan tanpa pendewasaan akan berakhir pada kerohanian yang kerdil, manja, dan transaksional.
Hal ini menjadi tantangan yang serius bagi pelayanan dalam kehidupan kita. Sudahkah kita memikirkan kekekalan dan kesementaraan dengan seimbang dalam melayani orang lain? Jangan sampai kita sangat tertarik untuk menceramahi seseorang tentang kekekalan, tetapi tidak memiliki aksi nyata untuk hadir dalam pergumulan sehari-hari mereka. Ini tidak berbicara tentang memberi uang atau bantuan sosial semata. Hadir dalam pergumulan sehari-hari dapat terwujud melalui kesediaan untuk bersama-sama menghadapi sesuatu atau sesederhana menjadi pendengar yang baik tanpa menjadi “guru” bagi mereka. Dengan hadir dalam pergumulan sehari-hari, kita dapat menjadi berkat yang pada akhirnya membawa mereka mengalami Tuhan melalui hidup kita. Akhirnya, kebutuhan kekal mereka tanpa sadar juga terjamah oleh pelayanan kita yang tampak remeh-temeh. Oleh karena itu, hendaknya kita tidak resisten terhadap pelayanan yang menyasar pada pergumulan sehari-hari. Namun, kita harus mengimbanginya dengan kehidupan yang mendidik dan menjadi berkat. Inilah pelayanan yang holistik.