Matius 6:11
“Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.”
Ketika membaca permohonan ini dalam Doa Bapa Kami, banyak orang memahami bahwa tugas orang percaya hanyalah berdoa, sementara Allah akan memenuhi semua kebutuhan hidup secara otomatis. Pemahaman seperti ini sering kali melahirkan sikap pasif. Orang menunggu berkat datang dari langit tanpa merasa perlu mengerjakan tanggung jawabnya. Namun, benarkah demikian maksud Tuhan Yesus?
Untuk memahami ayat ini dengan benar, kita tidak boleh melepaskannya dari keseluruhan pengajaran Tuhan Yesus maupun isi Doa Bapa Kami. Doa ini bukan sekadar rangkaian kata yang diucapkan setiap hari, melainkan pola hidup yang membentuk setiap anak Allah. Setiap kalimatnya mengandung nilai-nilai Kerajaan Allah yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Permohonan, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya,” bukanlah alasan untuk bermalas-malasan atau menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada Allah. Sebaliknya, doa ini mengajarkan bahwa kita bergantung kepada Allah sambil mengerjakan bagian yang telah dipercayakan-Nya kepada kita. Ketika kita menyebut Allah sebagai “Bapa kami yang di sorga,” kita mengakui bahwa kita adalah anggota keluarga-Nya. Dalam keluarga yang sehat, setiap anggota memiliki tanggung jawab. Hubungan dengan Bapa bukanlah hubungan antara pelanggan dan penyedia jasa. Kita datang kepada Allah bukan hanya untuk menerima, melainkan sebagai anak-anak yang ikut mengambil bagian dalam pekerjaan Bapa dan rencana-Nya.
Sejak awal penciptaan, Allah telah memberikan mandat kepada manusia untuk mengelola bumi. Segala sumber daya memang berasal dari Tuhan, tetapi manusia dipanggil untuk mengolahnya. Makanan yang kita nikmati setiap hari merupakan hasil dari kerja banyak orang yang mengusahakan ciptaan Allah. Karena itu, ketika kita berdoa, “Berikanlah kami makanan kami,” sesungguhnya kita memohon agar Allah memberkati pekerjaan tangan kita, memberikan kesehatan, hikmat, kesempatan, dan penyertaan-Nya sehingga kita dapat memperoleh rezeki melalui usaha yang benar. Allah tetap menjadi sumber segala berkat, tetapi Ia sering kali menyatakannya melalui pekerjaan yang kita lakukan. Mukjizat-Nya tidak menghapus tanggung jawab manusia, melainkan bekerja melalui kesetiaan manusia.
Di zaman sekarang, ada kecenderungan sebagian orang mengukur kerohanian dari banyaknya doa, tetapi mengabaikan etos kerja. Mereka rajin beribadah, tetapi kurang bertanggung jawab dalam pekerjaan. Padahal Alkitab menunjukkan bahwa doa dan kerja bukanlah dua hal yang bertentangan. Orang percaya dipanggil menjadi pribadi yang tekun berdoa sekaligus rajin bekerja. Ketergantungan kepada Allah bukan berarti berhenti berusaha, melainkan bekerja dengan penuh pengharapan karena percaya Tuhan menyertai setiap jerih lelah kita.
Lebih dari itu, bekerja bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Allah memakai setiap pekerjaan sebagai sarana untuk memelihara dunia dan memberkati sesama. Seorang guru mendidik generasi muda, seorang dokter merawat orang sakit, seorang petani menghasilkan pangan, seorang pengusaha membuka lapangan pekerjaan. Bahkan pekerjaan yang tampak sederhana sekalipun dapat menjadi saluran kasih Allah bagi banyak orang. Karena itu, bekerja bukan sekadar mencari nafkah, melainkan mengambil bagian dalam pemeliharaan Allah atas ciptaan-Nya.
Hari ini, marilah kita mengevaluasi diri. Apakah selama ini kita hanya meminta Tuhan memberkati hidup kita, tetapi kurang setia mengerjakan bagian yang telah dipercayakan-Nya? Ataukah kita sudah bekerja dengan sungguh-sungguh sambil menyerahkan hasilnya kepada Tuhan? Kiranya setiap kali kita mengucapkan, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya,” kita diingatkan bahwa Allah memanggil kita bukan hanya untuk berdoa, tetapi juga untuk bekerja dengan rajin, bertanggung jawab, dan setia. Dengan demikian, melalui pekerjaan kita, nama Bapa dimuliakan dan banyak orang merasakan kebaikan-Nya.