Matius 1:22-23
“Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: ‘Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel’—yang berarti: Allah menyertai kita.”
Pernyataan ini merupakan gaya penyampaian Matius yang sangat khas dan unik dibandingkan dengan tulisan di ketiga Injil lainnya. Dalam seluruh tulisannya, Matius menggunakan gaya penulisan seperti ini beberapa kali untuk menunjukkan bagaimana peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Yesus Kristus menggenapi nubuat Perjanjian Lama—“supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi”. Dengan demikian, Matius ingin menyampaikan bahwa peristiwa kehadiran Tuhan Yesus tidak terjadi secara mendadak tanpa latar belakang, melainkan merupakan bagian dari rencana Allah yang telah dinyatakan sebelumnya. Allah memang memiliki hak prerogatif, tetapi Ia tidak menggunakannya secara sembarangan. Ada mekanisme, ada proses, dan ada latar belakang dari seluruh peristiwa. Allah setia pada ketetapan-Nya sendiri.
Sebagai bukti literasi kehadiran Tuhan Yesus, hal ini telah disampaikan sejak era Perjanjian Lama, yaitu dalam Yesaya 7:14: “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.” Pernyataan ini bukan sekadar mengandung pemaknaan teologis—pernyataan ilahi—tetapi juga eskatologis, yaitu nubuat tentang masa depan.
Dalam “bekerja”, Allah selalu menetapkan dasar atau pijakan sebelum sesuatu dikerjakan. Allah memiliki semacam blueprint dari seluruh perencanaan-Nya. Untuk itu, eksistensi atau keberadaan kita di atas muka bumi ini pun tidak luput dari perencanaan Allah yang bijaksana. Setiap orang percaya perlu menemukan alasan mengapa ia ada di dunia ini—apa tujuan dan maksud Allah atas hidupnya. Jika Allah telah merancang kehadiran Yesus Kristus ke dalam dunia, maka keberadaan kita di dunia ini pun tidak dapat dilepaskan dari perencanaan-Nya. Dengan demikian, kita perlu menyadari bahwa kehadiran kita di dunia ini bukanlah sebuah kebetulan, bukan sekadar iseng, apalagi kecelakaan. Kehadiran kita telah dirancang oleh Allah, Pemilik langit dan bumi serta seluruh jagat raya. Oleh karena itu, hargailah kehidupan ini dengan cara hidup yang benar di hadapan-Nya.
Matius melihat, melalui perantaraan Roh Kudus, bahwa teks dalam kitab Yesaya adalah sebuah bayangan yang menemukan substansinya dalam kelahiran Tuhan Yesus Kristus yang disebut Imanuel, yang berarti Allah beserta kita. Imanuel adalah gelar, fungsi, atau tugas yang disematkan kepada Tuhan Yesus dalam karya penyelamatan manusia. Ia bukan hanya “beserta”, tetapi juga hadir, menolong, mendukung, dan tinggal di antara kita. Orang-orang percaya seharusnya tidak lagi merasa kekurangan apa pun dalam menjalani kehidupan di dunia, sebab yang paling dibutuhkan manusia adalah Allah yang senantiasa menyertai tanpa pernah meninggalkan, yang senantiasa menolong tanpa pernah melupakan.
Pada awal tulisan Matius, Yesus Kristus diidentifikasi sebagai Imanuel, dan pada akhir tulisannya pun Matius menegaskan hal yang sama. Dalam Matius 28:20 tertulis: “…Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Allah tidak pernah berubah—dulu, sekarang, dan sampai selama-lamanya—termasuk dalam hal penyertaan-Nya.
Sejak awal kehadiran kita di dalam dunia ini hingga kita meninggalkannya, Allah beserta kita. Apa pun musim hidup kita, Ia telah ada di sana. Di tengah pergumulan, permasalahan, dan prahara kehidupan, Allah tetap hadir dan tidak pernah meninggalkan. Yohanes 20:29 berkata: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Tuhan Yesus adalah penggenapan dari seluruh isi kitab Taurat dan para nabi. Ia adalah nubuatan yang telah dinantikan itu. Dengarkanlah Dia!