Tuhan Yesus yang kita ikuti menyatakan bahwa Ia tidak memiliki tempat di bumi ini, berbeda dengan serigala yang memiliki liang dan burung yang mempunyai sarang. Pernyataan ini bukan berarti Tuhan Yesus miskin, papa, dan terhina. Dunia memang bukan rumah-Nya. Dunia merupakan ladang pelayanan dan persinggahan sementara, bukan “tempat atau rumah” untuk dihuni, bahkan sekadar untuk meletakkan kepala. Kita mengiring Tuhan Yesus bukan untuk mendapatkan berbagai sarana kehidupan di dunia ini. Pengiringan kita kepada Tuhan tidak menawarkan balasan berupa pemenuhan kebutuhan jasmani. Namun, bukan berarti kita harus menjadi miskin, berkekurangan, menjadi benalu, atau mengganggu kehidupan orang lain. Allah pasti menjaga, melindungi, dan memenuhi segala kebutuhan kita secara bertanggung jawab.
Jika memperhatikan panggilan seorang ahli Taurat dan seorang murid kepada Tuhan Yesus, kita akan menemukan sesuatu yang mendasar. Dalam Matius 8:19, ahli Taurat memanggil Tuhan Yesus dengan sebutan “Guru.” Sementara itu, pada ayat ke-21, murid tersebut memanggil-Nya dengan sebutan “Tuhan.” Ahli Taurat memandang adanya kesetaraan antara dirinya dan Tuhan Yesus, sama-sama ahli dalam urusan langit. Sebaliknya, sebutan “Tuhan” menunjukkan pengakuan terhadap seorang penguasa yang kepadanya seseorang harus menundukkan diri sebagai subordinat, yaitu berada pada posisi yang lebih rendah atau sebagai bawahan. Sikap ini merupakan awal yang baik dalam berurusan dengan Allah sebagai satu-satunya Penguasa tertinggi. Orang tersebut sudah menjadi murid Tuhan Yesus, sebagaimana teks menyebutnya “murid”, sedangkan ahli Taurat belum sampai pada tahap tersebut. Namun, sayang seribu kali sayang, kesempatan murid itu untuk menjadi murid yang sehati terhalang oleh dirinya sendiri. Ia tidak all out. Ia masih memiliki berbagai perhitungan atau proyek lain di luar apa yang dikerjakan Tuhan Yesus.
Murid itu meminta izin untuk menunda pengiringannya kepada Tuhan Yesus dengan alasan yang sebenarnya masuk akal. Namun, Tuhan Yesus menjawab, “Biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.” Jangan menunda atau berkata “nanti” untuk segala hal yang berkaitan dengan pengiringan kita kepada Allah, sebab “nanti” itu dapat tidak pernah datang. Sebab akan selalu ada “nanti-nanti” yang lain. Mengikut Tuhan Yesus menuntut keputusan sekarang, bukan setelah seluruh urusan kehidupan selesai. Dinamika hidup akan selalu menghadirkan alasan baru untuk menunda.
Pengajaran Tuhan Yesus ini tidak menceritakan keputusan akhir ahli Taurat dan murid tersebut setelah mendengar jawaban-Nya. Apakah mereka tetap mengikut Tuhan Yesus atau justru mundur setelah mendengar pernyataan-Nya? Hal ini memberikan pelajaran sekaligus pertanyaan reflektif kepada orang-orang percaya masa kini. Apakah kita sudah benar-benar menjadi murid-Nya? Apakah kita adalah pengikut Kristus yang sejati? Jawabannya dapat terlihat dari kondisi kita saat ini: apakah kita masih setia menjadi murid dan pengikut Tuhan Yesus dengan semangat seperti pada mulanya, atau kerajinan kita mulai mengendur dan kita mulai berpikir untuk berhenti?
Pada akhirnya, komitmen menjadi murid dan pengikut Tuhan Yesus akan diuji habis-habisan, bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk membuktikan dan mengokohkan kesejatian sebuah janji atau ikrar. Karena itu, kita membutuhkan pertolongan Roh Kudus yang memberi kemampuan, kekuatan, dan pendampingan agar pengiringan kita kepada Tuhan Yesus tetap kokoh dengan semangat yang membara demi Kerajaan Bapa di surga. Jangan membiarkan kata “nanti” menjadi alasan yang terus menunda ketaatan. Ketika Tuhan memanggil untuk mengikut-Nya, keputusan itu harus diwujudkan dalam kesetiaan hari ini.