Matius 5:7
“Berbahagialah orang yang murah hatinya karena mereka akan beroleh kemurahan”
Kemurahan di sini menunjuk pada segala yang baik yang tidak ditahan oleh Tuhan untuk dianugerahkan atau diberikan kepada manusia. Betapa luar biasanya jika manusia memperoleh kemurahan dari Tuhan Yang Maha Mulia. Hal ini memberi implikasi yang sangat dalam: kita pun harus murah hati seperti Dia murah hati. Kata murah hati dalam bahasa Yunani adalah elemones, yang berarti merciful, berbelaskasihan, atau menaruh kasihan. Dalam terjemahan bahasa Indonesia versi lama digunakan istilah “menaruh kasihan,” yang mengandung unsur kepekaan batin terhadap penderitaan orang lain.
Dalam bahasa Ibrani terdapat beberapa kata yang sejajar dengan elemones. Pertama, khesed, yang berarti kasih setia—Allah tetap setia walaupun umat-Nya sering tidak setia. Kedua, anawa, yang menunjuk pada kemurahan Allah yang tidak membalas kejahatan manusia setimpal dengan tuntutan Taurat. Ketiga, noam, yang menunjuk pada kebaikan hati yang indah dan terpuji. Keempat, ratson, yang berarti keberkenanan hati, yaitu sikap hati yang tetap menerima dan berkenan kepada orang lain. Inilah watak dan karakter Tuhan yang harus kita miliki. Jadi, ketika Alkitab berkata, “Hendaklah kamu sempurna seperti Bapamu di surga,” itu berarti kita harus memiliki karakter seperti Bapa—bukan sekadar moral umum, melainkan karakter ilahi.
Dalam bahasa Yunani, ada pula kata-kata yang maknanya berdekatan dengan elemones. Pertama, khrēstotēs, yang menunjuk pada kebaikan hati yang sejajar dengan khesed, yaitu kasih karunia. Kedua, haplotēs, yang berarti kemurahan dalam memberi, tidak pelit, tidak kikir. Ketiga, epieikeia, yang berarti kelembutan dan keramahan. Keempat, agathos, yang menunjuk pada kebaikan hati yang tulus. Menariknya, dalam Perjanjian Baru kata-kata ini lebih sering dikenakan kepada manusia daripada kepada Tuhan. Jika dalam Perjanjian Lama banyak menunjuk kepada sifat Allah, maka dalam Perjanjian Baru manusia yang dipilih menjadi umat Allah dikehendaki untuk memiliki karakter seperti Bapa. Kita melihat dalam Perjanjian Lama ketegasan Allah terhadap dosa, tetapi juga kemurahan-Nya yang harus kita teladani dan hidupi.
Secara mendalam, murah hati berarti: pertama, pribadi yang mengampuni. Ia suka dan rela mengampuni orang yang bersalah kepadanya. Kedua, pribadi yang memiliki beban terhadap penderitaan orang lain. Ia tidak bisa tinggal diam melihat orang lain menderita. Firman Tuhan bagaikan pedang bermata dua; baik yang menyampaikan maupun yang mendengar dapat merasakan gairah ilahi yang mengalir darinya. Dari gairah itu terakumulasi karakter atau watak ilahi berupa kemurahan hati. Seseorang tidak dapat tiba-tiba menjadi murah hati. Banyak orang menunda proses pembentukan, padahal seharusnya setiap kesempatan itu dipakai untuk mencari Tuhan dan membiarkan Dia membentuk hati kita. Jadikan Tuhan satu-satunya dunia kita. Jangan sampai kesibukan dan urusan dunia menenggelamkan dan mematikan kepekaan hati kita.
Tuhan Yesus adalah teladan Pribadi yang mengampuni orang yang bersalah, sejahat apa pun orang itu. Karena itu, kita sebagai hamba-hamba-Nya tidak memiliki alasan untuk tidak mengampuni. Dalam Matius 6:9-13, pengampunan adalah perintah yang tegas, sejajar dengan perintah-perintah lain. Bahkan Tuhan memperingatkan bahwa jika seseorang tidak mengampuni saudaranya, Bapa pun tidak akan mengampuninya (Mat. 6:14-15; 18:35). Dalam 1 Yohanes 3:15 ditegaskan bahwa orang yang tidak mengasihi saudaranya adalah pembunuh. Ini bukan perkara ringan. Mengucapkannya mudah, tetapi melakukannya sangat sulit. Namun melalui gairah dan kuasa Tuhan yang mengalir melalui firman-Nya, kita dimampukan untuk mengampuni—bagaimanapun beratnya—forgive and forget, mengampuni dan tidak lagi menyimpan kesalahan itu di dalam hati.