Sekarang kita dapat mengerti bahwa arti menghakimi orang lain adalah menilai orang lain berdasarkan sudut pandang sendiri tanpa maksud untuk memperbaiki, melainkan untuk mencela dan menghukum. Karena itu, harus dibedakan antara menghakimi dan menunjuk kesalahan dalam hal pengajaran. Jika kita menunjuk suatu pengajaran yang salah, hal itu bukan berarti kita menghakimi orangnya. Kita hanya menunjuk kesalahan pengajarannya, sedangkan soal pribadi orang tersebut adalah urusannya dengan Allah. Larangan untuk tidak menghakimi orang lain bukan berarti kita harus menutup mata terhadap dusta, penipuan, dan penyesatan. Paulus sendiri dengan sangat tegas menunjuk penyesatan, bahkan menggunakan kata-kata yang keras, kadang-kadang kasar; ia pernah memakai istilah “anjing.” Hal ini bukan berarti Paulus menghakimi orang lain.
Ketika dosa dan penyesatan terjadi dalam komunitas Kristen, kita harus bersuara dengan tegas di dalam pimpinan Roh Kudus. Tentu hal itu harus dilandasi oleh kasih dan kepedulian terhadap keselamatan jiwa banyak orang, demi perbaikan dan keselamatan mereka. Matius 7:4–5 berkata, “Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.” Perhatikan kata “Hai orang munafik.” Di sini Tuhan menunjuk kemunafikan yang terjadi di antara orang yang mengaku percaya kepada-Nya. Sikap menghakimi secara kejam bukan saja merupakan tanda kemunafikan, tetapi juga membutakan mata rohani seseorang. Sebab sejatinya, semakin kita menunjuk kesalahan orang lain, semakin kita tidak mengenal diri kita sendiri dengan benar. Karena itu, kita harus terlebih dahulu mengeluarkan balok dari mata kita. Dengan demikian kita dapat melihat dengan lebih jelas selumbar di mata orang lain. Tujuannya bukan untuk mempersoalkan kesalahan orang lain, tetapi agar setelah kita memperbaiki diri dengan benar, kita juga dapat membantu orang lain memperbaiki dirinya dengan benar.
Hal yang luar biasa adalah ketika seseorang jujur terhadap dirinya sendiri, firman Tuhan akan terbuka dengan sangat jelas baginya. Jadi ketika Tuhan berkata, “jangan menghakimi,” konteksnya adalah kehidupan kita dalam relasi persekutuan dengan orang-orang di sekitar kita. Pada umumnya manusia digerakkan, dipengaruhi, dan dikontrol oleh lingkungannya. Apa yang terjadi di sekitar kita—keadaan hidup dan lingkungan—sering kali mengendalikan kehidupan seseorang. Jika keadaan ini berlangsung terus-menerus, maka batin seseorang atau kualitas hidup rohaninya akan terwarnai oleh lingkungannya, dari satu peristiwa ke peristiwa berikutnya. Manusia dipengaruhi, diatur, dan dikontrol oleh lingkungannya sampai pada tingkat tertentu sehingga ia kehilangan kemerdekaan dirinya. Ia menjadi tersandera oleh lingkungannya, dan keadaan batiniahnya menjadi seperti warna lingkungannya.
Dalam Roma 12:2 firman Tuhan mengatakan, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna.” Apa yang ada di dunia sering kali sewarna dengan apa yang ada di dalam batin atau jiwa manusia. Inilah yang harus dihindari oleh kita sebagai orang percaya. Kita harus bebas dan dimerdekakan dari keadaan ini, khususnya dari kecenderungan untuk menghakimi orang yang bersalah kepada kita. Sejak masa kanak-kanak dunia telah membentuk dan mendidik kita. Namun sekarang, setelah kita mengenal Allah yang benar dan mengenal Tuhan Yesus Kristus yang mempersiapkan kita untuk masuk ke dalam Kerajaan-Nya, harus terjadi perubahan dalam diri kita. Perubahan ini bukan sesuatu yang mudah. Ini adalah perjuangan yang harus ditempuh bukan hanya satu atau dua bulan, bahkan tidak cukup satu atau dua tahun, melainkan sepanjang hidup kita, supaya suasana Kerajaan Surga memenuhi hati kita—dari yang bersifat duniawi (worldly) menjadi ilahi (heavenly). Itulah sebabnya kita dimuridkan dan terus dibentuk tanpa henti.