Skip to content

Mukjizat Besar dalam Kerumunan Kecil

 

Kembali pada kisah Yairus dan anaknya yang telah meninggal. Dalam Matius 9:23–26 digambarkan bahwa Yesus telah tiba di rumah Yairus. Atmosfer rumah tersebut telah berubah menjadi kelam. Anak Yairus telah tiada. Matius menggambarkan adanya para peniup seruling dan orang banyak yang menyampaikan syair ratapan. Pada zaman dahulu, menjadi sebuah kebiasaan bahwa orang-orang di sekitar orang yang meninggal akan meneriakkan ratapan yang berisi kata-kata khusus. Mereka dapat disebut sebagai sidang perkabungan. Di dalam ratapan tersebut, sidang perkabungan juga meneriakkan nama mendiang. Kebiasaan ini dapat dilacak paling tidak sejak zaman Raja Yosia (2 Tawarikh 35:25).

Terhadap suasana yang demikian kelabu, Yesus melakukan sesuatu yang tidak biasa. Ia mengusir seluruh orang yang meratap itu. Yesus seakan menolak untuk meratapi anak tersebut. Alasannya sederhana: bagi Yesus, anak itu tidak mati, melainkan tidur. Ketika Ia menyampaikan hal itu kepada orang banyak, mereka tertawa. Semua orang sudah sangat yakin bahwa anak Yairus telah meninggal. Tidak tertutup kemungkinan orang tua anak itu, Yairus dan istrinya, juga telah berpikir demikian. Namun, ketika semua orang telah pergi, keajaiban terjadi. Anak itu bangkit dari tempat tidurnya seolah-olah benar-benar baru saja bangun dari tidur.

Satu hal yang menarik dari bagian akhir narasi tentang Yairus ini adalah mengapa Yesus harus mengusir semua orang terlebih dahulu sebelum membangkitkan anak tersebut dalam kuasa Roh Kudus. Paling tidak, ada dua kemungkinan jawaban. Pertama, tindakan Yesus mengusir sidang perkabungan tersebut merupakan tindakan proklamatif atas kematian. Bahwa bersama dengan Roh Allah yang hidup, kematian bukanlah musuh yang menakutkan. Yesus hendak memproklamasikan bahwa Bapa adalah Allah orang hidup, bukan Allah orang mati. Mengusir sidang perkabungan merupakan pernyataan bahwa di dalam Allah tidak ada kematian.

Jawaban kedua yang mungkin adalah Yesus tidak ingin mukjizat itu diketahui oleh terlalu banyak orang. Ia ingin sebisa mungkin mukjizat tersebut dilakukan dalam keheningan. Semakin banyak orang yang mengetahui mukjizat itu, semakin besar pula kemungkinan maksud kedatangan-Nya disalahpahami. Ia dapat dipandang sebagai Mesias jasmani yang membebaskan Israel secara politis dan lahiriah. Sebaliknya, semakin sedikit orang yang mengetahui mukjizat tersebut, semakin kecil pula kemungkinan kesalahpahaman yang muncul. Lalu, manakah tafsiran yang lebih tepat? Keduanya memiliki makna yang menarik. Namun, jika dilihat dari alur narasi Matius, tampaknya jawaban kedua lebih kuat. Sebab, dalam perikop selanjutnya ketika Yesus menyembuhkan mata dua orang buta, Ia berpesan kepada mereka agar mukjizat yang dilakukan-Nya tidak diketahui oleh orang lain (Matius 9:30). Nampaknya, keinginan Yesus agar kedatangan-Nya tidak disalahpahami lebih sesuai dengan alur pemikiran Injil Matius.

Apa pelajarannya bagi kita? Tuhan menghendaki kita melayani dalam keheningan. Sebesar apa pun pelayanan itu, segemilang apa pun prestasi rohani kita, Tuhan ingin kita melayani-Nya tanpa mencari sorotan. Membangkitkan orang mati bukanlah mukjizat yang biasa. Meski demikian, Yesus memilih hanya sedikit orang untuk menjadi saksi dari perbuatan itu. Ia tidak ingin orang-orang terfokus pada mukjizat yang dilakukan-Nya dalam kuasa Roh Kudus. Ia lebih menghendaki agar mereka terfokus pada kebenaran yang mengubahkan hidup. Ini bukan berarti orang yang diubahkan oleh kebenaran tidak dapat mengalami mukjizat. Jika kita membutuhkannya, Tuhan pasti sanggup memberikannya. Namun, itulah bukan tujuan utama mengikut Yesus. Mengikut Yesus berarti mengalami perubahan hidup agar semakin serupa dengan Dia dalam segala hal. Salah satu penghalang besar bagi perubahan hidup tersebut adalah ketika seseorang terlalu terpaku pada mukjizat. Itulah sebabnya Yesus tidak ingin orang banyak mengetahuinya, karena hal itu dapat menghalangi misi utama-Nya, yaitu mengubah manusia. Sikap yang sama seharusnya kita miliki, yaitu memandang seluruh pencapaian pelayanan kita sebagai sesuatu yang kecil dibandingkan pelayanan Tuhan kepada kita.

Alasan lain yang dapat dikemukakan adalah bahwa Yesus ingin menghindari kejatuhan dalam dosa. Mukjizat tersebut dapat membuat-Nya diagungkan oleh banyak orang sehingga berpotensi mengaburkan kemuliaan Bapa. Dalam konteks ini, pengosongan diri (kenosis) dapat menjadi gagal. Hal ini tampak dalam kisah ketika Yesus hendak dijadikan raja, tetapi Ia menolaknya (Yohanes 6:15). Dari sisi Yesus, ada kesadaran bahwa Ia tidak boleh dimuliakan sebelum waktunya (Yohanes 17:1). Oleh karena itu, kemuliaan yang dapat timbul dari keramaian dihindari oleh Yesus karena Ia ingin menjaga diri-Nya tetap berkenan kepada Bapa dan menerima kemuliaan Allah pada waktunya. Di sini kita melihat bahwa Yesus dalam keadaan-Nya sebagai manusia dapat berdosa, namun memilih untuk tidak jatuh ke dalam dosa. Hal ini memberi pelajaran kepada kita untuk tidak “memuliakan diri” di luar waktu Tuhan. Tuhan pasti akan memuliakan kita, tetapi bukan menurut waktu yang kita tentukan sendiri. Orang-orang yang berusaha memuliakan diri dengan waktunya sendiri pada hakikatnya sedang merebut kemuliaan Allah. Oleh karena itu, kita harus selalu waspada terhadap kecenderungan tersebut. Layanilah perasaan Allah dalam sepi.