Skip to content

Miskin di Hadapan Tuhan

 

Matius 5:3

“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.”

Orang yang miskin di hadapan Tuhan artinya orang yang menyadari bahwa ia tidak akan bisa mencapai Tuhan dengan kemampuannya sendiri; sebab bagaimanapun, keselamatan membutuhkan anugerah, dan tanpa anugerah tidak ada keselamatan. Anugerah berarti pemberian yang cuma-cuma, pemberian dari seseorang kepada objek yang lebih rendah derajatnya atau suatu pemberian yang memuat sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh penerimanya. Maka, keselamatan haruslah dipahami secara benar, yaitu usaha Tuhan menyelamatkan manusia; ada satu garis dari atas ke bawah. Sedangkan agama pada umumnya bisa digambarkan dengan garis dari bawah ke atas, yaitu usaha manusia untuk mencapai Allah, hal yang tidak akan bisa terjadi.

Keselamatan adalah suatu anugerah; tanpa anugerah tidak ada seorang pun yang bisa mencapai Tuhan. Orang yang miskin di hadapan Tuhan adalah orang yang sadar bahwa dengan kekuatannya sendiri manusia tidak bisa mencapai Tuhan. Miskin di hadapan Tuhan juga berarti kesadaran bahwa keadaan kita belum seperti yang Tuhan kehendaki. Kita harus selalu merasa miskin di hadapan Allah; kita harus selalu merasa sebagai orang-orang yang sakit, sebab hanya orang sakit yang membutuhkan dokter atau tabib. Ironisnya, banyak orang memfokuskan hidupnya hanya pada pemenuhan kebutuhan jasmani dan tidak mempersoalkan masalah batin, masalah jiwa; suatu pemenuhan kebutuhan rohani yang hanya bisa diselesaikan oleh Tuhan. Celakalah apabila seseorang sudah merasa puas diri atau ia tidak merasa miskin di hadapan Tuhan; maka ia seperti orang sehat yang tidak membutuhkan tabib.

Dalam Matius 18:1-5 Tuhan berkata, “Barangsiapa tidak bertobat dan tidak menjadi seperti anak kecil ini, ia tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.” Jadi, Tuhan menghendaki agar kita memiliki hati yang mudah dibentuk. Syarat untuk bisa masuk ke dalam Kerajaan Surga haruslah hati yang mudah dibentuk, seperti anak kecil. Anak kecil di sini bukan childish atau kekanak-kanakan, melainkan menjadi seperti anak-anak, yaitu pribadi yang rela atau bersedia dibentuk, mau dinasihati, mau ditegur. Betapa bahayanya kalau seseorang sudah berusia lanjut, merasa memiliki pengalaman, mempunyai prestasi tinggi, kaya, dan berkedudukan terhormat, di mana orang-orang seperti ini biasanya sukar diubah.

Tuhan sering berbicara dan menegur kita melalui berbagai peristiwa. Apabila Tuhan bisa memakai mulut keledai, maka Tuhan juga bisa memakai mulut siapa saja. Namun, kadang-kadang arogansi kitalah yang menutup hati kita untuk mendengar suara dan teguran Tuhan tersebut. Kita harus selalu jujur mengoreksi diri dan menyadari keadaan kita yang belum menjadi seperti yang Tuhan kehendaki. Dan kita harus serius mulai dari menit ke menit, jam ke jam, minggu ke minggu, bulan ke bulan, tahun ke tahun, sampai bisa menjadi seperti yang Tuhan kehendaki. Kecenderungan banyak orang adalah menjadi puas diri dengan apa yang sudah dicapai. Apalagi kalau kita membandingkan diri kita dengan orang lain, maka kita akan berhenti bertumbuh.

Orang-orang yang menjadi seperti anak kecil akan rindu dan memiliki kehausan. Proses pembentukan Tuhan tidak hanya melalui apa yang kita dengar, tetapi juga apa yang kita alami. Apabila orang tidak menyadari kemiskinan rohani, maka saat ia mempunyai pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan, ia ingin cepat-cepat keluar dari masalah tersebut. Betapa bodohnya apabila gereja yang bertemu dengan orang-orang seperti ini justru mendoakan dan berharap bahwa masalahnya dapat dengan mudah diselesaikan. Betapa mudahnya bagi Tuhan untuk mengangkat kita dari suatu permasalahan; namun jika masalah itu diizinkan-Nya terjadi, sesungguhnya hati kitalah yang sedang digarap melalui peristiwa tersebut. Sebab melalui peristiwa-peristiwa hidup itulah Tuhan membentuk, memperbarui, menghancurkan kesombongan-kesombongan dan keakuan kita; dan tidak ada satu peristiwa pun yang terjadi secara kebetulan.