Mesin Anugerah

Tidak ada kedewasaan tanpa pengalaman dengan Allah; tidak ada kedewasaan tanpa proses mengalami Tuhan. Karena, justru pengalaman dengan Tuhan di dalam kehidupan itulah yang mendewasakan. Memang Tuhan tidak selalu membuat kita menderita. Tetapi, Tuhan memakai keadaan-keadaan yang tidak menyenangkan, keadaan-keadaan yang menurut kita tidak nyaman, bahkan menyakitkan, untuk mendewasakan kita. Keadaan tersebut merupakan “mesin anugerah” Tuhan bagi semua orang percaya. Ini sangat bertolak belakang dengan harapan banyak orang, bertentangan dengan pemikiran banyak orang. Orang beragama atau ber-Tuhan supaya lancar jalannya, banyak berkahnya, enteng rezekinya, nyaman, aman, dilapangkan jalannya. Tetapi, ternyata Allah yang benar tidaklah demikian. Allah menggunakan keadaan-keadaan yang sulit, yang tidak menyenangkan, untuk mendewasakan kita. Dari hal itu, kita bisa mengerti hubungan dengan Allah sebagai Bapa, dan kita anak; hubungan antara kita dengan Allah sebagai Gembala dan kita domba-Nya. Justru melalui pengalaman-pengalaman yang tidak mengenakkan itu, kita dapat menemukan relasi atau hubungan yang benar, yang proporsional antara kita dengan Allah.

Kalau Allah menjadikan kita biji mata-Nya, anak-Nya, kekasih-Nya, mestinya kita juga memperlakukan Allah demikian. Allah segalanya bagi kita, yang ditandai dengan pengakuan: “yang kuingini Engkau saja. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.” Ketika seseorang masih menaruh pengharapan dan perlindungannya kepada sesuatu, ketika seseorang berharap materi dunia, penghiburan atau hiburan-hiburan dunia membahagiakan dirinya, belum bisa menjadikan Tuhan sebagai kekuatan hidupnya. Sulit bicara ini kepada orang muda atau orang tua yang sudah lama hidup tidak menjadikan Tuhan sebagai harta kekayaannya. Orang-orang yang mengalami pengalaman seperti ini adalah orang-orang yang mengasihi Tuhan. Kalau tidak mengasihi Tuhan, tidak bisa. Seseorang tidak bisa mengasihi Allah dalam waktu pendek atau dalam waktu sekejap. Mengasihi Allah harus dibangun melalui perjalanan waktu yang panjang.

Demikian pula kehidupan orang percaya terhadap Allah. Cinta mula-mula harus disertai pertumbuhan dan kedewasaan rohani. Seiring dengan kedewasaan rohani, maka seseorang mengasihi Tuhan secara dewasa. Kasih yang dewasa, oleh seorang anak Allah yang dewasa, ditandai dengan membangun hubungan yang harmonis dan proporsional dengan Allah; hubungan yang dewasa dengan Allah. Allah tidak membutuhkan proses pendewasaan. Kita yang membutuhkan. Allah menghendaki hubungan yang dewasa dengan anak-anak-Nya, dan hubungan yang dewasa tersebut ditentukan oleh kedewasaan kasih seseorang kepada Allah. Jika seseorang mengasihi dengan tulus dan terus terbimbing melalui perjalanan waktu, kasihnya menjadi dewasa.

Maka, kalau orang mengisi hatinya dengan berbagai kesenangan tanpa batas, tiada henti, ia akan sampai pada level tidak akan pernah bisa mengasihi Allah dengan benar. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang terlatih mengasihi dunia; orang-orang duniawi yang tidak pernah masuk surga, karena mereka bukan manusia surgawi. Sebab, yang mau masuk surga itu manusia surgawi. Jadi, orang itu sudah bisa mempertimbangkan apakah dia masuk surga atau tidak. Kalau kita mulai sadar bahwa ternyata kita belum mengasihi Allah secara benar, kita harus mulai berjuang untuk mengasihi Allah. Tidak ada kata yang bisa menggantikan keadaan dimana seseorang menjadi kekasih Allah, menjadi anak Allah yang dewasa, dimana hubungan antara orang percaya dengan Allah itu harmoni, dan Allah bisa menikmatinya.

Mengasihi Allah itu bukan karunia, melainkan buah perjuangan dari kehendak bebas masing-masing individu. Jadi, kalau orang mengasihi yang lain, pasti dia tidak bisa mengasihi Allah karena orang tidak bisa mendua hati. Jadi, seorang Kristen bisa mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, dan kekuatan, tetapi juga bisa mengasihi Allah dengan setengah hati, separuh hati, atau tidak sama sekali. Tapi karena kita sudah terlanjur banyak dirusak oleh dunia, kita harus mulai proses kembali secara bertahap. Membangun persekutuan dengan Allah melalui kehidupan yang semakin meninggalkan ikatan dengan dunia, untuk semakin terikat dengan Allah. Keterikatan dengan Allah harus semakin kuat, sehingga membawa seseorang pada percintaan dengan Allah, dan tidak bisa menoleh ke belakang lagi. Sebab selama kita masih hidup dalam kewajaran anak dunia, kita tidak akan pernah bisa bertumbuh. Roh Kudus pasti menolong kita untuk mengasihi Dia seperti yang Allah inginkan. Kalau kita sadar bahwa kedudukan dan posisi kita adalah kedudukan dan posisi yang istimewa, maka kita berani menjadi orang-orang yang tidak wajar menurut ukuran anak-anak dunia. Jadi, kasih kepada Allah menggerakkan seseorang merespons mesin anugerah yang Allah berikan, yaitu proses penggarapan-Nya.

Kasih kepada Allah menggerakkan seseorang merespons mesin anugerah yang Allah berikan, yaitu proses penggarapan-Nya.