Skip to content

Merespons Doa

 

Jangan sampai frasa “dalam nama Yesus” membuat kita membayangkan bahwa Allah Bapa memiliki gudang yang dapat dibuka dengan satu kata sandi: “dalam nama Yesus.” Seolah-olah seperti kisah Ali Baba yang dapat membuka gudang harta rampasan dengan kata “abrakadabra.” Dahulu, ketika kita menggunakan nama Tuhan Yesus, itu berarti kita mengagungkan, mengandalkan, dan menghormati nama itu. Namun sekarang justru sering terjadi sebaliknya: nama Tuhan malah dilecehkan. Karena itu, jika kita sudah dewasa secara rohani, kita tidak boleh lagi sembarangan menggunakan frasa tersebut. Jangan sampai kita beranggapan bahwa Tuhan ingin menunjukkan kuasa, kebaikan, kemurahan, atau kekayaan-Nya kepada kita sehingga Ia berkata, “Mintalah ….” Allah memang Pribadi yang pasti merespons doa; tidak mungkin Ia tidak merespons doa. Namun harus dimengerti bahwa merespons doa tidak selalu berarti mengabulkan semua permintaan doa kita.

Dahulu kita mungkin mengadakan doa semalam suntuk, bahkan dua kali seminggu, hanya supaya Tuhan tergerak untuk mengabulkan permohonan kita. Kita berharap Tuhan melihat kita dari surga—yang sudah lemas karena berpuasa—lalu tergerak oleh belas kasihan dan segera mengabulkan semua permohonan kita. Tetapi itu bukan karakter Tuhan yang kita sembah. Mungkin dahulu doa-doa seperti itu dijawab karena kita masih seperti anak-anak dalam iman. Namun sekarang kita harus bertumbuh menjadi dewasa. Kita juga harus mengerti bahwa Tuhan menegakkan hukum alam. Jika kita sakit karena tidak dapat mengendalikan pola makan, maka kita harus mengubah pola makan dan pola hidup kita. Jangan sembarangan menggunakan kisah perempuan yang mengalami pendarahan selama dua belas tahun, yang sembuh ketika menjamah jubah Yesus. Kita harus ingat bahwa itu adalah jubah Tuhan Yesus, bukan jubah manusia biasa.

“Mintalah, maka akan diberikan.” Kata “diberikan” dalam terjemahan aslinya adalah dothēsetai, dari akar kata didōmi, yang berarti “akan diberikan,” bukan genēsetai atau ginomai yang berarti “akan diperkenankan” atau “akan terjadi.” Jika seseorang tidak memperhatikan bahasa aslinya, ia dapat salah memahami ayat ini. Apalagi jika ayat ini dihubungkan dengan Lukas 18, yang menceritakan seorang janda yang terus datang memohon kepada hakim yang lalim—pagi, siang, bahkan malam hari—sampai akhirnya permohonannya dikabulkan. Hal ini sering dipahami seolah-olah semua permintaan pasti diperkenankan jika kita terus-menerus memohon. Padahal tidak semua yang kita minta akan diperkenankan, tetapi setiap doa pasti direspons. Hal yang menarik adalah bahwa ketika Alkitab berbicara tentang doa yang dikabulkan, sering kali digunakan kata “didengar” (eisakouō), bukan selalu kata yang berarti “dikabulkan.” Jadi ketika dikatakan bahwa Allah mendengar doa, artinya Ia memedulikan doa tersebut, namun hal itu tidak selalu berarti bahwa Ia mengabulkan permintaan kita, meskipun Ia pasti meresponsnya. Karena itu harus dipahami bahwa apa yang Tuhan berikan belum tentu sama dengan apa yang kita minta.

“Carilah, maka kamu akan mendapat.” Mengapa Tuhan berkata “carilah”? Hal ini menunjukkan adanya pergumulan untuk menemukan sesuatu, seolah-olah ada yang hilang atau sesuatu yang harus ditemukan. Namun yang dicari bukanlah kehendak kita sendiri, melainkan kehendak Bapa. Dalam menyampaikan permohonan kepada Tuhan, kita dipanggil untuk mencari kehendak-Nya; karena itu, doa pada hakikatnya adalah sebuah dialog. Tuhan tidak mungkin mengabulkan permintaan seseorang yang bertentangan dengan kehendak-Nya. Bahkan dalam ayat sebelumnya Tuhan berkata, “Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi.” Pertanyaannya bagi kita semua adalah: apakah kita pantas menerima yang baik dari Tuhan?

Jika hari ini Tuhan menolong usaha kita sehingga berhasil dan kita memiliki banyak uang, apa yang akan kita lakukan? Kenyataannya, banyak orang Kristen justru semakin jauh dari Tuhan ketika mereka semakin memiliki banyak uang. Satu hal yang harus kita ingat adalah bahwa Tuhan tidak mungkin melanggar hukum-Nya sendiri. Jika kita rajin dan jujur, maka pada prinsipnya kita akan dicukupi. Namun jika kita sudah rajin dan jujur tetapi belum juga merasa tercukupi, pasti Tuhan memiliki alasan mengapa Ia mengizinkan hal itu terjadi. Tuhan tidak mungkin tidak bijaksana atau melanggar hukum-Nya sendiri.