Skip to content

Mereduksi Standar

Saudaraku,

Ada obat-obat yang ketika dikonsumsi, tidak menyembuhkan penyakit bahkan bisa berdampak sangat negatif untuk pasien yang mengonsumsi obat tersebut. Obat itu bukan obat palsu, tetapi obat yang dikurangi dosisnya. Mengurangi dosis bukan hanya bisa berakibat tidak menyembuhkan seseorang, tapi juga bisa berdampak negatif. Tahukah Saudara bahwa kuasa kegelapan dalam kelicikan dan kecerdasannya, mengupayakan bagaimana kebenaran Tuhan yang menyembuhkan jiwa kita, Firman Tuhan yang menyelamatkan jiwa kita, Firman Tuhan yang menguduskan kita, dikurangi dosisnya? Bukan dipalsukan; dikurangi dosisnya. Karena hal itu sudah berlangsung bertahun-tahun bahkan berabad-abad, orang tidak menyadari. Selain dosis dari kebenaran yang dikurangi, standar sehat rohani, standar selamat, standar hidup anak-anak Allah juga direduksi atau dikurangi.

Padahal, di dalam kedaulatan-Nya Allah menghendaki agar orang percaya itu dengar-dengaran, patuh, taat segenapnya. Karenanya firman Tuhan mengatakan, “kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, dan kekuatan.” Bukan 90%, bahkan juga bukan 99%, melainkan 100%. Kurang dari 100%, tidak bisa dikatakan “segenap.” Bisa dikatakan “sebagian,” walaupun “sebagian besar,” tetap “sebagian.” Hal ini sejajar dengan apa yang dikatakan Matius 6:24, “kamu tak dapat mengabdi kepada dua tuan.” Harus salah satu. Tidak bisa satu mendapat porsi 80%, yang lain 20%. Yang satu 99%, yang satu 1% pun, berarti dua tuan itu. Walaupun yang satu hanya mendapat satu persen. Tuhan menghendaki hanya satu, Tuhan.

Kita harus menerima Firman Tuhan dengan benar di dalam terang pimpinan Roh Kudus. Kalau dosisnya sudah dikurangi, kesehatan rohani tidak mencapai standar, maka ada new normal. Walaupun sebenarnya abnormal. Ada new standard, padahal ini bukan standar. Dan kalau itu berlangsung berbelasan tahun, puluhan tahun, sampai pada ratusan tahun, artinya berabad-abad, sukar sekali menyadarkan orang untuk menjelaskan bahwa apa yang selama ini dipahami itu sebenarnya palsu. Kalau kebenaran Firman Tuhan direduksi, dikurangi dosisnya, itu berarti seseorang tidak memuliakan Tuhan, tidak meninggikan Tuhan. Liturgi yang kita lakukan dengan pujian-pujian yang syairnya meninggikan Tuhan, itu menjadi dukacita di hati Allah, karena itu kebodohan, kepura-puraan, kemunafikan.

Kalau kita meninggikan Tuhan dengan benar berarti kita harus mempersembahkan kepada Tuhan porsi yang Tuhan kehendaki. Karena kesalahan ini, maka kata “sempurna” menjadi tidak sakral, karena bisa ditawar. Sempurna artinya lulus; teleoi, teleios, artinya “penuh, lulus, lengkap, menang, memenuhi standar atau tujuan;” perfect. Mendengarkan kata perfect, orang menganggap itu mustahil, lalu seakan-akan bisa direduksi. Setiap usia rohani, ada standarnya. Tapi kalau dikunci dengan pernyataan bahwa “di bumi tidak mungkin sempurna, hanya di surga sempurna,” kita jadi bodoh.

Sempurna juga terkait dengan pergumulan hidup yang dihadapi seseorang; pencobaan-pencobaan yang dialami seseorang, baik jumlah maupun intensitasnya. Kalau masih muda rohani, pencobaannya hanya 5, beratnya hanya 5 kg. Tapi makin dewasa, makin banyak, dan beratnya makin tinggi. Tapi harus lulus, harus mencapai sasaran. Jadi setiap tahapan, ada tujuan. Tujuan jangka pendek, jangka menengah, jangka panjang. Dan masing-masing orang memiliki pencobaan, godaan, tantangan yang berbeda-beda. Apa pun godaan, tantangan yang kita alami, kita bisa menaklukkan dan mengalahkannya. Itu sempurna. Jadi jangan kita reduksi, jangan kita kurangi dosisnya.

Teriring salam dan doa,

Pdt. Dr. Erastus Sabdono

Kalau kebenaran Firman Tuhan direduksi,

berarti seseorang tidak memuliakan Tuhan