Skip to content

Merebut Roh Kita

 

Kalau Alkitab berkata, “tubuhmu adalah bait Roh Kudus,” artinya Roh Kudus yang berhak menempati diri kita. Itulah karakter, spirit, gairah Kristus. Dan itu luar biasa—lebih dari diangkat atau diadopsi menjadi anak raja di dunia ini, anak presiden, atau menjadi presiden. Lebih dari segala hal.

Namun ironis, banyak orang tidak sadar bahwa dirinya belum lepas dari belenggu dunia; antara manusia daging dengan manusia rohnya itu belum terpisah. Manusia daging masih menyatu dengan manusia roh. Dalam keadaan demikian, manusia rohnya pasti ditindas dan dikuasai. Tuhan membuat pemisahan ini secara luar biasa, melalui kebenaran firman yang murni, melalui perjumpaan dengan Tuhan, dan melalui masalah-masalah berat.

Sering kita tidak mengerti mengapa hal itu terjadi, tetapi suatu hari kita akan tahu bahwa keadaan yang menyakitkan adalah cara Tuhan merebut roh kita, agar roh kita tidak berada dalam dominasi daging. Tuhan mengasihi kita. Dia mencabut manusia roh kita dari tekanan dan dominasi daging melalui persoalan-persoalan berat dan rumit. Namun tanpa itu, seharusnya bisa juga. Tanpa penderitaan, kita pun sebenarnya bisa—dengan kerelaan. Tapi, tidak sedikit, dan pada umumnya, kita memang harus mengalami hal itu. Dicabut. Tuhan itu bukan hanya cerdas, tetapi sangat cerdas. Jadi, jangan kita bersungut-sungut.

Ketika Tuhan berkata dalam Matius 16:24, “Barangsiapa mengikut Aku, harus menyangkal diri,” konteksnya adalah ketika Yesus hendak pergi ke Yerusalem, hendak mati disalib, tetapi Petrus menghalangi. Petrus mengira niatnya baik. Namun ternyata, itu berasal dari Iblis—bertentangan dengan rencana Allah. Maka Yesus berkata, “Enyahlah, Iblis! Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku.” Tuhan menghendaki agar setiap tindakan kita merupakan hasil karya Roh Kudus—made-in Holy Spirit. Maka, harus Roh Kudus yang mengerjakan di dalam kita dan bersama kita, sehingga tindakan itu menjadi heavenly action—tindakan surgawi yang memuaskan hati Allah.

Kalau tubuh kita adalah bait Roh Kudus, berarti Roh Kudus yang harus berkuasa. Tapi Roh Kudus tidak bisa berkuasa jika daging kita masih menguasai roh kita. Di luar gereja, kegiatan-kegiatan keagamaan bisa berjalan dengan baik, termasuk kegiatan sosial. Ada rasa saling mengerti, kerja sama, saling menerima kekurangan orang lain agar pekerjaan dapat berjalan dengan baik. Tanpa Roh Kudus—bisa. Namun sebaliknya, bayangkan jika di gereja satu sama lain tidak rukun, diam-diam menjegal. Ironis—betapa lebih buruk. Betapa setan itu luar biasa merusak. Dan biasanya, hal seperti ini terjadi di mana-mana. Baik saja belum tentu benar. Apalagi jika tidak baik—pasti tidak benar.

Jadi, kita melihat kenyataan betapa sulitnya orang merdeka dari diri sendiri. Dan ironisnya, orang dunia bisa lebih baik. Kita belum sempurna, tetapi kita mau memperbaiki diri. Dan kadang-kadang hati kita sampai sakit saat memikirkan diri sendiri, “Kenapa ya, aku lakukan itu? Kenapa aku katakan itu? Kenapa aku buat itu?”

Maka jangan berpikir bahwa hanya orang Kristen yang punya kegiatan syiar agama. Di dalam agama-agama lain juga ada. Bahkan sampai tingkat ekstrem. Seorang bidan yang tidak dibayar dengan uang cukup, pergi ke desa-desa untuk menolong orang melahirkan. Ada pula seorang guru yang mengajar lima atau enam kelas sekaligus tanpa digaji. Bukan orang Kristen. Apakah itu tidak baik? Itu baik. Apakah itu memuaskan hati Allah? Tuhan tahu. Dan hal itu berharga di mata Tuhan, walaupun mereka orang non-Kristen. Itu pun dinilai oleh Tuhan.

Sebab Allah adalah Allah semua orang. Apa bedanya dengan kita? You must be perfect—kita harus sempurna. Itu bedanya. Kita harus memakai perasaan Tuhan. Bukan sekadar syiar agama atau membela agama, tetapi melakukan apa yang perasaan Tuhan alirkan dalam hati kita. Kalau firman “hidupku bukan aku lagi, tapi Kristus yang hidup di dalam aku” kita jalani, berarti kita mengasihi Tuhan, menghormati Bapa, mengasihi Bapa seperti Yesus.