Skip to content

Merdeka Tetapi Berutang

 

Galatia 5:13

“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.”

Ada satu kata yang sering kita salah mengerti sepanjang hidup kita sebagai orang percaya, yaitu kata “merdeka.” Kita sering berpikir bahwa merdeka berarti bebas melakukan apa saja yang kita mau. Kita mengira karena dosa kita sudah diampuni, maka bagaimana kita hidup sesudahnya menjadi urusan yang tidak terlalu penting lagi. Bukankah darah Kristus sudah cukup? Bukankah kasih karunia sudah menutupi segala kekurangan kita?

Di titik inilah banyak orang percaya jatuh. Kita menerima pengampunan, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh berhenti untuk bertanya: pengampunan ini menuntun kita ke mana? Paulus menulis kepada jemaat Galatia dengan nada yang tegas, bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk mengingatkan sesuatu yang mudah kita lupakan. Kemerdekaan yang kita terima bukanlah tiket untuk hidup sembarangan. Sebaliknya, kemerdekaan adalah panggilan hidup yang selalu menuntut tanggung jawab.

Mari kita renungkan baik-baik. Ketika seseorang ditebus, statusnya berubah. Ia tidak lagi menjadi pemilik atas dirinya sendiri. Ia telah ditebus dengan harga yang telah lunas dibayar, menggunakan alat pembayaran yang sangat mahal, yaitu darah Kristus, sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat (1 Petrus 1:19). Kalau kita sungguh menyadari hal ini, seharusnya cara kita memandang hidup pun berubah total. Kita tidak lagi memiliki hak untuk hidup sesuka hati, karena hidup ini bukan lagi milik kita. Inilah yang membuat pengampunan Tuhan begitu berat untuk direnungkan: pengampunan itu membuat kita berutang, bukan membebaskan kita dari kewajiban.

Coba kita memeriksa diri kita sendiri. Berapa banyak dari kita yang masih menyimpan kebencian terhadap seseorang, tetapi merasa hal itu wajar karena “manusiawi”? Berapa banyak dari kita yang membiarkan kepahitan berakar dalam hati, sambil tetap merasa diri sebagai orang yang sudah diselamatkan? Kita perlu jujur di hadapan Tuhan. Kebencian dan kepahitan bukan sekadar kelemahan kecil yang dapat dimaklumi. Itu adalah pencemaran terhadap diri kita sendiri, sebab hati yang dipenuhi kebencian tidak mungkin menjadi tempat kediaman Roh Kudus yang kudus.

Tidak jarang kita berpikir bahwa kesucian hanya berbicara tentang dosa-dosa besar yang kelihatan. Padahal, kesucian dimulai dari ruang yang paling tersembunyi, yaitu pikiran dan hati kita. Setiap kali kita membenarkan rasa benci dengan alasan bahwa kita telah disakiti, sesungguhnya kita sedang memakai kemerdekaan Kristen secara keliru. Kita menjadikan anugerah sebagai tameng untuk tetap mempertahankan dosa, bukan sebagai kekuatan untuk berubah.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri dengan jujur: apakah aku memakai anugerah Tuhan sebagai alasan untuk berubah, atau sebagai alasan untuk tetap sama seperti dahulu? Pertanyaan ini tidak boleh kita jawab dengan tergesa-gesa. Pertanyaan ini harus kita bawa masuk ke dalam doa, ke dalam keheningan, memasuki momen-momen ketika kita berhadapan langsung dengan Tuhan.

Kemerdekaan yang sejati bukanlah seperangkat alasan untuk membenarkan diri agar tidak berubah. Kemerdekaan yang sejati selalu mengarahkan kita kepada kasih, kepada kesucian, dan kepada ketaatan yang semakin dalam. Setiap kali hati kita mulai membangun pembenaran atas kebencian, kita harus segera ingat bahwa hidup ini sudah dibeli. Kita tidak berhak lagi memelihara sikap yang mencemarkan diri sendiri. Selama kita masih membenarkan kebencian dalam hati, sesungguhnya kita belum sungguh-sungguh mengerti betapa mahalnya harga kemerdekaan yang telah kita terima.

Marilah kita melatih diri untuk menangkap pikiran-pikiran pahit sebelum berkembang menjadi sikap, dan sebelum sikap itu berubah menjadi tindakan. Sebab, pertobatan bukanlah peristiwa sesaat, melainkan kesediaan yang terus-menerus untuk memeriksa hati dan berbalik setiap kali kita mendapati diri melenceng.

Kita telah dimerdekakan bukan supaya kita hidup sesuka hati, melainkan supaya kita hidup dalam kekudusan yang memuliakan Dia yang telah menebus kita. Kemerdekaan dari dosa adalah panggilan untuk hidup suci, bukan hidup sesuka hati. Marilah kita hidup sebagai orang yang sungguh-sungguh sadar bahwa dirinya berutang, dan membayarnya dengan hidup yang semakin serupa dengan Kristus.