Rayakan hidup-Nya dalam hidup kita, supaya akhirnya kita bisa berkata, “Hidupku bukan aku lagi, melainkan Kristus yang hidup di dalamku.” Karena kita pun mengalami pergumulan-pergumulan yang sama seperti yang dialami-Nya. Bagaimana kita bisa berkata, “Hidupku bukan aku lagi, melainkan Kristus yang hidup dalam diriku” kalau kita tidak mengalaminya? Jadi, dari sini baru tersingkap mengapa Paulus mengatakan dalam Filipi 3:10, “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya.” Ternyata, bagi kita yang mengasihi Tuhan, Tuhan akan menyekolahkan kita. Maha Guru itu akan mendidik kita. Dan itu luar biasa! Tuhan mendidik kita untuk membenahi batiniah kita.
Maka setiap kita harus mengalaminya sendiri. Kalau Tuhan itu ada, temui Dia dan alami bahwa Dia hidup. Dia pasti melatih kita dan akan berbicara kepada kita dalam segala hal. Itu sangat asik sekali! Hidup ini menjadi sangat mengasikan kalau kita mau berubah terus, sambil nunggu Tuhan datang jemput kita. Filipi 3:10 merupakan pergumulan, bukan sekadar “Dia bangkit.” Kalau cuma sekadar tahu Dia bangkit, kita baca dalam sekian detik juga tahu. Namun setelah kita tahu Dia bangkit, kita juga harus masuk dalam “persekutuan dalam penderitaannya.” Sebagaimana kalau sahabat kita sedang menderita, kita mau berada di samping dia, bukan? Dan karena kita sehati, kita bisa menangis bersama, kita ikut merasakan penderitaannya.
Kalimat selanjutnya mengatakan, “Di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya.” Menghayati kehidupan sebagai anak-anak Allah itu tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, melainkan harus dialami. Contoh dalam kehidupan kita sehari-hari, bagaimana rasanya dikhianati? Coba jelaskan, tidak bisa, kecuali kita dikhianati, baru tahu begitu sakitnya. Oleh karena itu, Tuhan akan membawa kita kepada pengalaman-pengalaman itu. Memang tidak mudah, tapi bisa. Jadi, apa yang Tuhan alami itu merupakan pelajaran. Sebab Dia juga belajar. Seperti dosen, dia sudah punya buku diktat sendiri dari pengalaman hidupnya. Tuhan pun punya diktat sendiri, lalu Tuhan mengajarkan diktat-Nya kepada kita.
Yesus itu perkasa, Dia Raja yang dahsyat! Tidak diragukan. Tetapi dalam konteks ini, Dia tidak menunjukkan keperkasaan-Nya. Setelah lahir di kandang domba, dihina, dipukul, difitnah namun tidak membalas. Ini yang harus dilihat, ini karakter-Nya Tuhan Yesus yang harus kita teladani. Lihat juga Getsemani dan Via Dolorosa, ini karakter-Nya yang harus kita pahami, kita hayati, kita contoh dan kita kenakan. Maka, kalau yang diajarkan itu, Yesus kuat, perkasa, semua lawan ditundukkan, sementara kita sedang terpuruk atau sedang dalam masalah besar, lalu kita meneladani siapa? Tentu tidak salah pernyataan bahwa “Yesus kuat, perkasa, tidak ada lawan Dia,” tapi konteksnya harus tepat.
Ditampilkan oleh Alkitab, bagaimana karakter Yesus dan seperti apa jejak-Nya di masa lalu adalah agar menjadi jejak kita hari ini. Kita bisa berkenan di hadapan Bapa kalau kita bersedia dididik, diajar oleh Sang Guru Agung, Tuhan Yesus. Kita bisa merajut senyum Tuhan, walau perjalanan hidup kita dalam bara. Bara itu api, dan sifat api itu memurnikan. Inilah Injil yang sejati. Kita memiliki kesempatan untuk mengumpulkan harta di surga, asalkan kita bersedia sungguh-sungguh meninggalkan dunia. Tuhan memberi syarat awal untuk ikut Dia, “Jual segala milikmu, bagikan kepada orang miskin, baru datang kemari, ikut Aku.” Kalau tidak bersedia, tidak usah ikut.
Kalau di gereja, pendeta yang tidak mencintai jemaat akan berkata, “Tidak apa-apa, duniawi sedikit, semua juga belum ada yang sempurna.” Baginya, yang penting jemaat masih datang ke gereja, dinilai masih ikut Tuhan Yesus, plus masih memberi kolekte dan perpuluhan. Tapi kalau pendeta yang benar akan berkata, “Tinggalkan dunia, tanggalkan dosamu.” Memang kita belum bisa menanggalkan semuanya, kita belum sempurna, tapi kita harus punya tekad untuk meninggalkan semuanya. Tekad ini penting, tekad ini yang menuntun kita melangkah ke arah mana. Setelah itu, baru Tuhan kasih mata pelajaran.
Dan Tuhan berjanji, kita tidak akan diberi pencobaan yang melampaui kekuatan manusia. Sementara itu, dengan lulusnya di pencobaan yang satu maka kekuatan kita akan bertambah dan kita semakin dewasa. Karena Tuhan pasti memiliki kurikulum dan setiap orang punya kurikulum masing-masing. Betapa sangat berharganya! Seperti di ranah militer, kita adalah tentara khusus, yang harga pendidikannya bisa sekian puluh atau ratus kali dari biaya tentara biasa. Tuhan mau menjadikan kita tentara khusus-Nya, dan Tuhan sudah membayar harga yang sangat mahal, di kayu salib. Kita harus mengimbanginya dengan harga yang tidak terbatas pula yakni dengan kerelaan kita mati bagi dunia dan kesediaan untuk melakukan apa pun yang Dia ingini. Maka sebelum kesempatan ini berlalu, hari ini kita sadari betapa mahal harga yang telah dibayar oleh Tuhan Yesus untuk bisa menjadi Guru kita.