Skip to content

Merasakan Kedahsyatan Kekekalan

 

Miskin di hadapan Tuhan artinya kita menyadari bahwa kita tidak bisa hidup tanpa Tuhan—dalam arti panggilan untuk mengandalkan Tuhan—dan menunjuk pada ketidakberdayaan yang bukan berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan jasmani. Orang percaya tidaklah mempersoalkan hal itu, karena orang percaya yang ditebus oleh darah Tuhan Yesus Kristus adalah orang-orang yang dimiliki oleh Tuhan. Kita tidak perlu berharap dan menanti perlindungan Tuhan, karena kita sudah berada dalam perlindungan-Nya; kita adalah milik-Nya. Maka, apabila kita mengandalkan Tuhan, hal itu bukan bertalian dengan masalah jasmaniah, melainkan bertalian dengan masalah kesempurnaan, di mana kita harus berurusan dengan Tuhan setiap saat.

Pernahkah kita meratapi hidup masa lalu kita—ketika kita tidak hidup dalam kebenaran, hidup sesuka hati—dan meratapi betapa kita jauh dari standar kesucian yang Tuhan kehendaki? Pernahkah kita menyadari bahwa keadaan tersebut sangat membahayakan dan, jika terus dilanggengkan, akan menggiring kita kepada api kekal? Pernahkah kita merenungkan hal ini? Jika hanya masalah kebutuhan jasmani, kita dapat melihat bahwa orang-orang yang hidup tanpa Tuhan, bahkan orang-orang ateis, tetap bisa eksis. Alam semesta ini tidak akan meninggalkan tatanannya: apa yang kamu tabur, itulah yang kamu tuai. Namun, jika soal kesempurnaan, orang harus aktif, harus mencari Tuhan dan berkata, “Tuhan, tanpa Engkau aku tidak bisa menjangkau-Mu. Hanya Engkau yang dapat menjangkauku. Jika Tuhan sudah menjangkauku, aku akan menjangkau orang yang Kaukehendaki untuk kujangkau.”

Paulus berkata dalam Filipi 3, “Seperti Dia menangkap aku, aku menangkap apa yang Dia kehendaki untuk aku tangkap.” Justru anugerah menempatkan kita pada posisi yang sulit, karena setiap orang yang menerimanya harus terus bergerak menuju kesempurnaan; di situlah kita menyadari ketidakberdayaan yang menuntut campur tangan Tuhan. Matius 10:28 berkata agar kita jangan takut terhadap apa yang dapat membunuh tubuh. Soal makan dan minum, orang yang tanpa Tuhan pun bisa eksis dan mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri, bahkan bisa merasa bahagia menurut standarnya. Orang yang menyembah ilah-ilah lain pun hidupnya bisa berjalan. Lalu apakah kita meminta pertolongan Tuhan hanya untuk melakukan hal yang sama? Apakah kita berpikir bahwa Tuhan sebagai Bapa tidak melindungi kita sehingga kita harus terus-menerus meminta tolong untuk hal-hal jasmani?

Kita tidak perlu merengek-rengek, karena hal itu dapat merusak etos kerja. Berjuanglah dan bertanggung jawablah. Jangan kita memperkarakan hal-hal jasmani seolah-olah hendak merusak tatanan yang telah Tuhan tetapkan. Kita harus menjadi juru bicara Tuhan yang mengerti kebenaran ini dan menyampaikannya kepada saudara-saudara seiman. Gereja harus menjadi pusat pengajaran, sedangkan pusat pelayanan adalah hidup kita masing-masing di rumah. Tuhan tidak mungkin melupakan kita. Namun, dalam hal kesempurnaan, kita harus membayarnya dengan keseriusan, yaitu segenap hidup kita. Jika kita mencari kebenaran, maka dalam mencari nafkah pun kita akan menjadi cerdas, rajin, bertanggung jawab, dan jujur. Ingatlah bahwa bersama Tuhan kita akan mampu melewati semua masalah.

Jangan kita meragukan Bapa. Betapa sering Tuhan berkata, “Jangan ragukan tangan kuat-Ku yang melindungimu. Engkau milik-Ku, kecintaan-Ku. Semua yang ada padamu adalah milik-Ku. Aku tidak akan mengingkari kesetiaan ini. Tetapi Aku melakukannya supaya kamu bersedia untuk Aku didik, supaya kamu layak masuk ke dalam rumah-Ku.” Itulah persoalannya. Kita sedang berada dalam krisis. Dunia terus menuju kegelapan abadi; bagaimana mungkin kita bisa tenang? Alkitab berkata, “Jangan takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh.” Yang perlu kita takuti hanyalah Tuhan. Jadi, ketika kita berkata, “Tuhan, aku miskin di hadapan-Mu,” artinya: Tuhan, tanpa Engkau aku tidak bisa hidup. Tidak bisa hidup di sini bukan berarti tidak bisa makan dan minum, melainkan tidak bisa hidup dalam kesempurnaan dan keberkenanan di hadapan Bapa.

Masalahnya bukan soal makan dan minum, melainkan tentang mencapai target menjadi manusia yang berkenan kepada Tuhan. Kita cenderung hidup sembarangan; apalagi jika memiliki uang dan kekuasaan, kita dapat berbuat sesuka hati dan menjadi kurang ajar. Padahal hidup kita hanya sekitar tujuh puluh tahun. Kita harus merasakan ketegangan akan kedahsyatan kekekalan mulai dari sekarang, supaya kita bersiap-siap.