Merasa Betah

Dalam mempersiapkan diri menerima kemuliaan yang Bapa janjikan, kita juga harus memperhatikan dengan siapa kita bergaul selama kita hidup di bumi ini. Orang-orang yang Bapa tidak suka kita bergaul dekat dengan mereka, jangan bergaul. Biasanya orang-orang yang tidak layak dengannya kita bergaul adalah orang-orang yang tidak mempersiapkan diri untuk masuk ke Rumah Bapa; tidak berkemas-kemas. Jangan bergaul dengan orang yang tidak berkemas-kemas. Nanti kita akan ikut merasa betah di bumi ini. Oleh sebab itu, hendaknya kita tidak bergaul dekat dengan orang-orang yang tidak berhasrat secara benar untuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah. Memang kita harus bergaul dengan semua orang, untuk menjadi berkat. Tapi, jangan bergaul dekat sampai kita berbagi emosi dan perasaan. Kalau pergaulan sudah membuat kita menyimpang dari kebenaran, kita harus menghindarinya dan menjauhinya. Bapa menghendaki kita bergaul dengan orang-orang yang mana Bapa bisa memakai mulut mereka untuk menyampaikan kebenaran, sehingga terjalin persekutuan, saling menguatkan untuk menjadi orang saleh, dan layak menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah.

Jadi, pengaruh orang di sekitar kita itu besar. Jika bertemu orang yang sama-sama berambisi untuk dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus, kita terpengaruh secara positif. Tapi sebaliknya, kalau berambisi mencari kehormatan, kita ikut jadi rusak. Pemazmur mengatakan, “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik.” Secara langsung atau tidak langsung, disadari atau tidak, orang-orang di sekitar kita itu menasihati kita. “Berbahagialah orang yang tidak berdiri di jalan orang berdosa dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh.” Dalam bahasa aslinya, “pencemooh” artinya adalah orang yang menilai salah orang lain. Sejujurnya, sering kali kita banyak berdosa di meja makan atau di meja kafe, karena di situ kita tergoda membicarakan orang. Jadi, mestinya kita bergaul dengan orang yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan dan merenungkan Taurat itu siang dan malam, terus-menerus. Oleh sebab itu, mulai sejak hari ini kita harus benar-benar berani meninggalkan teman-teman yang tidak membawa kita kepada kebenaran. Dan selanjutnya, kita selektif terhadap siapa yang menjadi sahabat kita. Sebab, kemuliaan bersama dengan Tuhan itu tidak murahan, harus dibangun sejak dini. Jangan menganggap murahan, lalu kita menunda bertobat, menunda hidup suci, menunda berkorban. Jangan begitu. Baiklah kita menghabiskan sisa umur hidup kita untuk memberkati.

Kalau seseorang benar-benar berurusan dengan Tuhan secara baik dan memiliki keintiman yang benar dengan Allah, pastilah tidak merasa sejahtera bila bergaul dekat dengan orang-orang yang tidak takut akan Allah. Dalam hal ini, kita harus menyadari bahwa tidak semua orang yang beragama Kristen itu Kristen. “Kristen” artinya seperti Kristus, atau paling tidak semakin berproses seperti Kristus. Kita semua belum sempurna, tapi harus ada perubahan dan pertumbuhan. Bergaul dengan sesama orang Kristen belum tentu menjadi baik, kalau orang Kristen tersebut tidak dewasa rohani. Bergaulah dengan orang-orang Kristen yang berhasrat untuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga, yang sungguh-sungguh mengajak kita berkemas-kemas. Agar ketika kita berdiri di hadapan takhta pengadilan Kristus, kita diperkenan oleh Tuhan. Dalam hal ini, kita minta petunjuk Tuhan untuk membedakan roh. Artinya, membedakan orang yang takut akan Allah dan yang tidak takut akan Allah.

Bergaulah dengan orang-orang yang mengajak kita berkemas-kemas. Mengajak kita hidup tidak bercacat, tidak bercela. Walaupun kita barangkali masih bercela, tapi paling tidak, kita akan mau berubah setiap kali ada cela dalam diri kita. Orang yang tidak berurusan dengan Allah, pasti berurusan dengan dunia. Hidupnya tenggelam dalam kesenangan-kesenangan dunia, yang ditopang oleh materi dan hiburan dunia. Dan hal ini membangun selera jiwa, mengondisi selera jiwa, sehingga terikat dengan materi dan berbagai hiburan dunia. Tentu saja tanpa disadari, mereka menjadi orang-orang yang kecanduan oleh materi dunia dan hiburannya. Inilah keadaan orang-orang yang terbelenggu oleh kuasa gelap, dan semakin hari akan semakin terikat sampai pada taraf atau level tertentu, mereka tidak bisa terlepas lagi. Biasanya, mereka tidak akan berpikir tentang kematian.

Orang tidak berpikir serius tentang kematian, membahayakan dirinya sendiri. Orang-orang yang tidak mau mengerti, biasanya berpandangan bahwa orang yang selalu berpikir tentang kematian atau kekekalan adalah orang yang putus asa, tidak bertanggung jawab atas hidup hari ini, antisosial, kehabisan bahan khotbah, dan lain sebagainya. Padahal, ada titik tidak balik ketika seseorang tidak bisa lagi memikirkan mengenai kematian, sementara dia masih hidup. Orang yang tidak berurusan dengan Tuhan ini, sampai mati tidak akan pernah mempersoalkan mengenai Allah atau tidak berurusan dengan Allah secara benar. Allah dianggap bodoh. Di dalam Mazmur 73:11 dikatakan, “dan mereka berkata bagaimana Allah tahu hal itu? Adakah pengetahuan pada Yang Mahatinggi?” Betapa mengerikan nasib mereka di kekekalan nanti.

Jangan bergaul dengan orang yang tidak berkemas-kemas, karena nanti kita akan ikut merasa betah di bumi ini.