Kita harus memiliki perasaan berutang. Dan jelas, kita berutang untuk hidup menurut Roh, yaitu hidup yang melakukan kehendak Allah—segala sesuatu yang kita lakukan senantiasa sejalan dengan pikiran dan perasaan Allah, atau selaras dengan Roh. Selanjutnya, setelah kita menyadari bahwa kita berutang untuk hidup menurut Roh, kita juga berutang untuk menyampaikan keselamatan kepada setiap orang yang kita temui dalam hidup. Meskipun tidak semua orang akan menerima keselamatan—karena selalu ada yang menolak—paling tidak, dari pihak kita sudah ada langkah konkret dan tindakan nyata yang membuat mereka tidak memiliki alasan untuk menyalahkan kita. Kita memang tidak dapat menyelamatkan semua orang, sebab kita bukan Juru Selamat.
Inilah yang dimaksud dengan hidup menurut Roh: berjalan seiring dengan Roh (Yunani: pneumati kai stoikhōmen). Jika kita menjalaninya dengan sungguh-sungguh, perilaku kita akan menjadi indah dan terpuji, sebab kita menerjemahkan pikiran dan perasaan Roh—yang juga adalah pikiran dan perasaan Bapa di surga. Jika Yesus adalah gambaran Allah yang tidak kelihatan—yakni Allah yang tidak terlihat menjadi nyata dalam kehidupan Yesus; keagungan Allah yang tidak tersentuh menjadi tampak dan terwujud dalam hidup-Nya—maka kita pun dipanggil untuk mengikuti jejak Yesus dalam menerjemahkan pribadi Bapa.
Tidak bisa tidak, bila kita hidup seperti yang dijalani oleh Tuhan Yesus, kita pasti memiliki beban dan belas kasihan seperti Allah, sebagaimana tertulis dalam 2 Petrus 3:9, bahwa Allah tidak menghendaki seorang pun binasa. Kita pun akan memiliki perasaan berutang untuk menyelamatkan setiap orang yang kita temui, agar mereka tidak memiliki alasan untuk menolak keselamatan akibat kesalahan kita. Maka, lebih dari sekadar menyelesaikan masalah ekonomi, kesehatan, atau keberhasilan anak-anak dalam studi dan karier, kita memiliki tanggung jawab untuk menuntun sesama menuju Langit Baru dan Bumi Baru.
Namun, sebelum itu, kita harus lebih dahulu hidup menurut Roh. Hidup dalam kekudusan dan kesucian setiap hari. Jangan terikat oleh dunia, jangan mengingini apa yang dunia tawarkan, dan jangan lagi bisa dibahagiakan oleh dunia. Barulah kita dapat seperasaan dan sepenanggungan dengan Tuhan. Apabila seseorang masih hidup dalam dosa, masih bisa dibahagiakan oleh kenikmatan duniawi, memiliki hobi-hobi yang membuatnya merasa lengkap dan nyaman, maka tidak mungkin ia sepenanggungan dengan Tuhan.
Dan jika tidak sepenanggungan dengan Tuhan, ia tidak akan memiliki beban terhadap keselamatan orang lain. Jadi, ciri orang yang belum benar-benar diselamatkan adalah orang yang tidak memiliki beban terhadap keselamatan sesama. Sebaliknya, orang yang sudah hidup menurut Roh—membangun kehidupan yang suci, tidak terikat dunia, merindukan Kerajaan Surga, dan seperasaan dengan Tuhan—pasti akan memiliki beban itu. Dan tentu saja, beban yang sejati di dalam hati seseorang akan membuatnya berani mempertaruhkan apa pun yang dimilikinya demi keselamatan jiwa.
Sebab, satu jiwa manusia lebih berharga dari seluruh kekayaan dunia ini. Namun ironisnya, banyak orang gagal dalam hal ini. Firman Tuhan mengatakan: “Jika kamu tidak setia dalam perkara kecil, kamu juga tidak setia dalam perkara besar.” Yang dimaksud sebagai perkara kecil adalah uang. Jika seseorang masih materialistis, masih terikat pada dunia ini, ia tidak mungkin setia dalam perkara besar. Ia tidak akan mampu menghargai nilai sebuah jiwa. Dan betapa sulitnya menjelaskan hal ini kepada orang yang sudah terlanjur terikat pada kekayaan. Ia bisa mengaku mencintai Suara Kebenaran, tampak setia, bahkan lantang berbicara tentangnya. Tetapi, ketika menyangkut pengorbanan uang, ia mulai mundur dan berhitung. Itu menandakan bahwa banyak orang belum siap menderita bagi Tuhan.