Skip to content

Menyadari Kehadiran Iblis

Saudaraku,

Mengapa banyak orang tidak menyadari kehadiran Iblis dan tidak menangkap manuver-manuvernya. Mengapa? Sebab mereka tidak bermusuhan dengan Iblis, mereka tidak berkonflik. Itu masalahnya! Beda dengan orang-orang yang berkonflik dengan Iblis, yang bermusuhan dengan Iblis, head to head. Pasti mereka akan menyadari manuver-manuver kuasa kegelapan di dalam hidupnya dan dia berperang, dia bertarung. Tetapi hampir semua orang tidak berperang dan tidak bertarung dengan kuasa kegelapan. Mengapa? Karena mereka di dalam tawanan, di dalam kekuasaan Iblis. Di dalam kekuasaan Setan.

Kalau orang masih berbuat dosa, itu pasti dalam belenggu kuasa gelap. Di dalamnya termasuk banyak orang Kristen atau jujurnya sebagian besar orang Kristen yang masih sembarangan dengan apa yang diucapkan, sembarangan dengan perilaku dan perbuatan-perbuatannya. Jangankan jemaat awam, pendeta dan para teolog yang telah belajar sampai gelar doktor pun mempertontonkan di media sosial dari aksi kuasa kegelapan di dalam dan melalui hidupnya. Benar-benar bukan anak-anak Allah. Kalau anak-anak Allah itu bertarung melawan kuasa gelap, dia menyadari betapa sulitnya mengendalikan daging, betapa sulitnya mengendalikan hidupnya untuk sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Kalaupun dia jatuh, dia akan bangkit, dia akan minta ampun, dia akan bertobat dan mengubah diri.

Banyak orang tidak hidup di dalam persekutuan dengan Bapa, sehingga tidak ada di pihak Bapa. Kalau kita ada di pihak Tuhan, kita pasti akan berjuang untuk tidak melakukan kesalahan sekecil apa pun. Tetapi doktrin yang beredar dan banyak mencengkeram pikiran jemaat dan tentu itu adalah ajaran para teolognya, bahwa orang Kristen telah hidup di dalam anugerah, perbuatan baik tidak menyelamatkan. Benar, perbuatan baik tidak menyelamatkan, hanya oleh kurban Yesus di kayu salib. Tetapi setelah kita menerima kurban Yesus, kita harus hidup bukan hanya baik, tapi suci.

Banyak orang dalam cengkeraman kuasa kegelapan. Kita pun sering tanpa kita sadari ada di dalam cengkeraman, saat-saat tertentu. Seperti Petrus ketika menghalangi Yesus ke Yerusalem. Injil Matius 16:23, Yesus menghardik Petrus dan mengatakan: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Saat itu Iblis menguasai Petrus dan Yesus menghardik Iblis dalam diri Petrus. Padahal belum lama Petrus baru mengatakan, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Lalu Yesus berkata, “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.”

Baru saja menyatakan sesuatu yang dari Allah Bapa, lalu dia membuka pintu terhadap Iblis. Jadi kita pun masih bisa kesetanan. Oleh sebab itu kita berjaga-jaga. Dengan cara bagaimana kita berjaga-jaga? Berdoa, puasa, mencari wajah Tuhan, duduk diam di kaki Tuhan, berdiam diri di hadapan Allah. Allah akan membuka pikiran, hati kita untuk mengenali pekerjaan Iblis, supaya kita bisa mendapatkan impartasi kekudusan Allah dan ketika kita hidup dalam kekudusan yang sesungguhnya, kita berhadapan langsung dengan Iblis, karena Iblis pasti berusaha merusak dan menjatuhkan kita. Apalagi kalau kita sudah mulai membawa orang lain juga kepada Tuhan.

Jadi mengapa banyak orang tidak mengenali, tidak merasakan kuasa kegelapan? Sebab dia juga tidak mengenali Allah, tidak berjalan dengan Allah. Sehingga menjadi tawanan kuasa kegelapan. Mari kita berjaga-jaga. Jangan sampai Iblis mendapatkan pijakan (foothold) di dalam hidup kita. Pikiran, mulut, tubuh kita harus kudus seluruhnya. Mari kita tidak ikut-ikutan anak-anak dari kuasa kegelapan yang melakukan banyak tindakan yang kelihatannya mau membela Tuhan, kelihatannya mau meluruskan orang; tapi mereka orang-orang yang terbelenggu oleh kejahatan, kebencian, dendam, kesombongan, keangkuhan dan gila hormat. Belum lagi materialistis dan dosa-dosa yang terselubung dan tersembunyi. Kita tidak mengatakan lebih baik tapi kita mau menjadi baik dan sempurna. Kita membawa diri kita di hadapan Tuhan dan terus berusaha mencapai kesucian Tuhan.

Teriring salam dan doa,

Pdt. Dr. Erastus Sabdono

 

 

Banyak orang tidak menyadari kehadiran Iblis dan tidak menangkap manuver-manuvernya, sebab mereka tidak bermusuhan dengan Iblis.