Tuhan mengatakan, “Lebih mudah seekor unta masuk lubang jarum daripada orang kaya masuk surga.” Maksudnya masuk surga di situ adalah masuk ke dalam keluarga Kerajaan, menjadi anak-anak Allah. Jadi, memang mustahil. Murid-murid satu dengan yang lain, mereka berkata-kata, “Kalau demikian, siapa yang dapat diselamatkan?” Tuhan Yesus berkata, “Bagi manusia mustahil, bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Jadi, memang harus ada campur tangan Tuhan. Jika tanpa campur tangan Tuhan, maka tidak mungkin orang bisa menjadi anak-anak Allah. Tetapi, tanpa keberanian seseorang mempertaruhkan segenap hidup, tidak mungkin juga menjadi anak-anak Allah.
Allah tidak mungkin melanggar atau mengingkari hakikat-Nya. Jadi, kalau Tuhan membuat tatanan, Tuhan tidak akan melanggar. Misalnya, kalau Tuhan berkata, oleh ilham Roh melalui Paulus, “Allah bekerja dalam segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Allah.” Maka tidak mungkin Allah bekerja dalam segala sesuatu atas orang yang tidak mengasihi Dia. Di surat Korintus dikatakan, “Terkutuklah orang yang tidak mengasihi Tuhan.” Tidak mungkin orang yang tidak mengasihi Tuhan tidak terkutuk. Maka sesungguhnya, hal-hal seperti ini seharusnya menggetarkan bahkan mendahsyatkan kita. Jadi kita harus bertumbuh terus sampai pada level bukan hanya bisa merasakan gentar terhadap Tuhan, melainkan juga harus memiliki perasaan dahsyat.
Allah itu mengerikan artinya kedahsyatan-Nya mengerikan. Tentu bagi anak-anak-Nya, bukan mengerikan dalam pengertian negatif. Tuhan memiliki idealisme yang sempurna. Jadi, ketika Tuhan berkata, “Jual segala milikmu, bagikan kepada orang miskin, datang kemari, ikutlah Aku, barulah kamu mendapat hidup yang kekal.” Itu mutlak, sama sekali tidak bisa ditawar. Adalah bodoh kalau kita mencoba untuk mengurangi, mereduksi tatanan itu. Orang yang menyadari kegentaran akan Tuhan, pasti akan sangat mengasihi Tuhan, sangat menghormati Tuhan.
Kalau kita mempunyai komitmen untuk betul-betul menjadi anak-anak Allah—artinya mau berubah—itu baru uang muka saja, atau uang pangkalnya saja. Namun ketika kita melepaskan diri dari segala milik (Luk. 14:33), barulah kita bisa menjadi murid. Lalu Bapa di surga akan menggarap kita dengan sangat teliti. Sehingga kita bisa membuktikan jika bukan Tuhan, tidak mungkin bisa begini keadaannya. Memang bangsa Israel melihat mukjizat begitu banyak juga, akan tetapi keras kepalanya juga luar biasa. Korazim, Betsaida merupakan tempat di mana Tuhan membuat mukjizat, namun ternyata tidak membuat mereka bertobat.
Jadi, kita akan melihat bagaimana detailnya Bapa mengubah kita lewat peristiwa-peristiwa yang sangat sederhana, tetapi memiliki makna dan dampak yang besar dalam hidup kita. Sebab lewat kejadian itu mampu mengubah kita. Dan di situlah kita bisa membuktikan bahwa Dia menyertai kita. Jalan serta Yesus itu jangan hanya dipahami mengalami hal-hal yang ajaib. Tuhan akan menggarap kita lewat segala peristiwa, dan lewat itu kita mengerti bagian mana dalam hidup kita yang sedang digarap atau dibentuk Tuhan. Dan kita mulai mengerti dan betul-betul menyadari apa artinya sekolah kehidupan melalui segala peristiwa yang terjadi dalam hidup kita itu. Tetapi hal ini hanya terjadi bagi orang-orang yang mengasihi Tuhan.
Seandainya orang kaya di Matius 19 itu dia taat, maka dia tidak akan pernah menyesal selama-lamanya. Namun karena dia tidak taat, maka saat dia mati, dia melihat kesempatan yang dia sia-siakan itu. Penyesalannya tidak terkira dan tidak bisa digambarkan dengan apa pun selain ratap tangis dan kertak gigi. Bersyukur, kita memiliki hak istimewa untuk menjadi anak-anak Allah. Dan untuk menjadi anak Allah itu sebuah proses. Namun jangan sia-siakan segala kesempatan yang ada karena itulah proses Tuhan. Status sebagai anak-anak Allah itu adalah sebuah keberadaan. Jadi, kita harus bisa melihat diri kita ini sudah mempunyai keberadaan anak Allah atau belum?