Menunggu Jemputan

Saudaraku,

Makin hari saya makin menyadari bahwa salah satu kesalahan yang fatal dalam kehidupan orang Kristen dan dalam kehidupan pelayanan gereja adalah ketika orang-orang Kristen merasa sudah mengenal Allah karena sudah memiliki pengetahuan tentang Allah. Dan inilah yang membuat dewasa ini banyak orang mendadak menjadi pembicara, menjadi pengkhotbah, berbicara tentang Allah di media sosial dan merasa bahwa apa yang mereka katakan itu benar. Bukan tidak mungkin, memang benar, bisa saja; tetapi sesungguhnya Allah yang hidup adalah Allah yang nyata harus Allah yang dijumpai, Allah yang harus dialami. Tidak bermaksud mengecilkan arti pengetahuan tentang Allah, tidak mengecilkan arti teologi. Tetapi marilah kita benar-benar berusaha untuk menemui Allah dan mengalami Dia. 

Tentu dimulai dari doa seperti yang kita lakukan setiap hari. Kalau kita sungguh-sungguh mencari Allah seperti yang difirmankan: “Carilah Aku selama Aku berkenan ditemui,” maka kita mencari Dia. Saya pribadi sudah memiliki banyak ilmu tentang Allah. Saya memahami benar ilmu tentang Tuhan itu, karena saya studi di sekolah-sekolah yang baik. Tetapi semua itu tidak saya anggap cukup menjadi bekal untuk menemukan Allah. Kita harus betul-betul menemui Dia dan mengalami Dia. Kita menghindari perdebatan, kita menghindari banyak bicara, kita mau mengalami perjumpaan dengan Tuhan setiap hari, bahkan setiap saat. Mungkin orang bisa bicara apa saja tentang kita, tetapi perjumpaan kita dengan Allah harus berbuah. 

Tentu buah pertama adalah kekudusan, kita akan takut akan Allah, kesucian hidup. Yang kedua, kita tidak tertarik lagi dengan keindahan dunia. Kita masih membutuhkan uang dan berbagai fasilitas tetapi hati kita tidak tertarik di situ. Yang ketiga, kita memiliki keberanian menghadapi hidup. Menghadapi berbagai masalah, menghadapi berbagai ancaman, dan ketika kita juga tersudut dalam berbagai kebutuhan kita percaya Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, Allah-nya Musa Allah yang hidup yang bisa kita percaya. Yang berikutnya kita pasti rela berkorban apa pun untuk Dia, yang kita temui kita alami setiap hari. Dan yang terakhir pastinya kita merindukan pulang ke surga. Kalau kita sudah tidak lagi merindukan pulang ke surga, maka kita harusnya sadar bahwa ada yang tidak beres dalam hidup kita. Dan itu berarti kita sedang berkhianat kepada Tuhan. Pasti ada perselingkuhan. Karena ada sesuatu yang menarik dalam hidup kita, sehingga hati kita kurang bulat, kurang utuh, kurang tulus dalam mencintai Allah. 

Saudaraku,

Apa yang saya katakan ini tidak memiliki tendensi apa-apa kecuali saya rindu Saudara betul-betul menjadi Kristen yang baik sebagaimana saya sedang belajar-belajar-belajar-belajar dan belajar menjadi Kristen yang baik. Ayo kita menemui Tuhan, ayo kita mengalami Tuhan. Jangan merasa puas dengan ilmu tentang Tuhan yang kita miliki. Perdebatan-perdebatan mengenai teologi dan ayat-ayat Alkitab. Mari kita sungguh-sungguh mengikuti Tuhan. Tuhan tahu kita itu mencintai Dia atau tidak. Allah yang disembah oleh Abraham, Ishak, dan Yakub, Allahnya Musa bisa kita tarik hadir di dalam hidup kita. Itu luar biasa! Kita tarik di dalam hidup kita, kita alami hari ini, di zaman kita dalam pergumulan dan persoalan yang kita hadapi. Dan tentu saja kita yang menemui Tuhan akhirnya akan mendengar Tuhan berbicara. Ayo keluar dari Mesir dunia ini untuk menuju negeri Kanaan Surgawi. Kanaan Surgawi di mana Allah Bapa menjanjikannya melalui Tuhan kita Yesus Kristus yang mengatakan, “Di mana Yang Mulia Tuhan Yesus berada, Dia ingin kita juga ada.”

Dia berjanji menyediakan tempat bagi kita, dan setelah Yang Mulia Tuhan kita Yesus Kristus menyediakan tempat bagi kita, Dia akan datang kembali menjemput kita. Sejatinya, kita sekarang ini sedang menunggu jemputan. Jangan betah hidup di bumi ini. Kita sedang menunggu jemputan. Biar kiranya kita semua menjadi orang-orang yang benar-benar mengasihi Allah. Dan kita tetap bertahan dan setia sampai Ia datang menjemput kita untuk masuk dalam kemuliaan-Nya.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono

Sejatinya, sekarang ini kita sedang menunggu jemputan, jangan betah hidup di bumi ini.