Skip to content

Menujukan Hati Hanya Kepada Allah

Ketika kita membaca kembali kisah hidup Abraham, maka kita dapat menemukan bahwa Abraham adalah pribadi yang memancarkan karakter kristiani. Abraham memiliki iman dan karakter yang dapat menjadi teladan kita. Seorang yang tidak mau membuat persoalan yang menyusahkan orang. Di manapun berada, dia adalah seorang yang terhormat. Dalam perjalanan Abraham dari Ur dan beberapa kisah interaksinya dengan bangsa-bangsa di sekitar Kanaan, Abraham disebut “tuan,” karena Abraham begitu ramah. 

Kita takjub terhadap sikap Abraham terkait dengan Lot, keponakannya. Pada saat gembala-gembala dari Lot dan Abraham bertikai, Abraham berkata, “Tidak baik kita bertikai; gembalamu, gembalaku; aku dan kau, karena kita masih kerabat. Sekarang pilihlah, negeri ini luas bagimu.” Mestinya Lot tahu diri, dia seorang keponakan yang dibawa oleh Abraham. Bukan tidak mungkin, masa kecilnya pun dalam asuhan Abraham. Lot mestinya berkata, “Paman yang pilih dulu, jangan saya.” Tetapi Lot tidak berkata begitu. Dia melihat Lembah Yordan seperti taman Tuhan, yang airnya berlimpah dan subur, maka Lot memilihnya.

Abraham mengalah, “Kalau kamu ke timur, aku ke barat. Kalau kau ke barat, aku ke timur.” Karakternya itu mengalah. Ketika istrinya meninggal, orang-orang Kanaan menyediakan tempat bagi istrinya dengan cuma-cuma. Tetapi Abraham tidak mau terima cuma-cuma. Dia bayar seharga yang berlaku bagi para saudagar. Walaupun dia bisa mendapatkan gratis. Kisah lainnya, ketika dia mendengar Lot ditawan oleh raja Kedorlaomer, dia bisa berkata, “Rasakan, kamu.” Tetapi tidak. Dia mengumpulkan orang-orangnya yang hanya sekitar 318 jumlahnya, untuk mengejar raja itu. 

Abraham bukan seorang yang duduk-duduk. Abraham seorang pekerja keras, dan bisa jadi seorang panglima perang, sebab bukan hanya Kedorlaomer melainkan beberapa raja yang sudah dikalahkan sebelumnya. Ketika dia kembali, raja Sodom minta pembebasan atas orang-orangnya yang ditawan, tetapi hartanya diserahkan kepada Abraham. Abraham berkata, “Tidak, ambil semua. Yang sudah dimakan bujang-bujangku, ya sudah.” Abraham tidak mau mengambil barang rampasan perang yang mestinya menjadi haknya. 

Apa yang membuat Abraham memilih karakter seperti itu? Kita tidak pernah tahu dengan pasti, karena latar belakang masa muda Abraham tidak jelas. Tetapi dalam Kejadian 12:7-8, dan ayat-ayat lain, tertulis, “Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: “Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu.” Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya. Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya dengan Betel di sebelah barat dan Ai di sebelah timur, lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN.”

Kita dapat membaca ayat-ayat senada, ketika Abraham berada di sebuah tempat, dia membangun altar atau mezbah. Kalau diurutkan, agama di sekitar Mesopotamia—di daerah Sumeria—ada agama kuno. Bukan tidak mungkin, Abraham dan kerabatnya juga pernah memeluknya. Tetapi Abraham mengenal Yahweh. Apa pun bentuk penyembahan yang dilakukan Abraham, dia tidak menujukan objek penyembahannya kepada siapa pun, kecuali kepada Yahweh. 

Kita bisa mengerti kalau Allah semesta alam yang menciptakan langit dan bumi, sudah ada dari kekal sampai kekal, keagungan-Nya tak terkira; mau memperkenalkan diri sebagai Allah Abraham, karena Abraham menujukan hatinya kepada Yahweh. Apa pun cara penyembahannya, dia memberikan altarnya bagi Tuhan, bukan bagi dewa lain. Bukan kepada objek lain, tetapi kepada Yahweh, Allahnya. Allah yang proper name-Nya Yahweh, yang menyatakan diri sebagai Allahnya Abraham, adalah Bapa kita. Dia tidak berubah; dulu, sekarang, sampai selama-lamanya. Allah yang sama. 

Selanjutnya, dalam Kejadian 13 dan berikutnya, yaitu perjalanan hidup Abraham. Sebagai manusia, dia juga punya kekurangan. Ketika masuk Mesir, Abraham takut kalau dirinya dibunuh. Maka, dia meminta Sarai untuk mengaku bahwa mereka adalah saudara, bukan suami istri. Bayangkan betapa pedihnya hati Sarai dan Abraham ketika Firaun hendak mengambil Sarai sebagai istrinya. Tetapi Abraham tidak marah. Alkitab tidak mencatat pedihnya hati Abraham.

Abraham telah bertekad untuk tidak kembali ke Ur-Kasdim. Walaupun dalam masa kekeringan, dia lebih memilih ke Mesir daripada kembali Ur-Kasdim. Di sini kita melihat betapa tinggi integritas Abraham. Dia memilih untuk menaati Elohim Yahweh; Allahnya. Karakter yang luar biasa! Ingatkah ketika Abraham disuruh Allah menyembelih anaknya, Ishak, menjadi kurban bakaran? Abraham tidak mencurigai Tuhan. Hebat sekali!

Sering Tuhan membawa kita seperti Abraham, di situasi-situasi yang begitu sulit. Sebagai manusia, kita pasti ada kelemahan, tetapi kita tidak boleh mencurigai Allah. Allah pasti menolong. Abraham fokus kepada Yahweh. Di mana pun berada, dia membangun mezbah atau altar. Itu yang membuat Abraham takut akan Allah. Abraham menghormati dan memercayai Allah. Abraham tidak mencurigai Yahweh yang layak dipuji, dimuliakan. 

Allah semesta alam yang menciptakan langit dan bumi rela memperkenalkan diri sebagai Allah Abraham, karena Abraham menujukan hatinya hanya kepada Yahweh.