Ada ayat yang mengatakan bahwa di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang olehnya manusia beroleh keselamatan selain nama Yesus. Jadi, Yesus memikul semua dosa manusia. Namun, di dalam Yohanes 14:6, pengertiannya melangkah lebih jauh. Jika diibaratkan dengan sebuah visa, seseorang bisa mendapatkan visa untuk masuk ke Indonesia, tetapi tidak berarti ia boleh masuk ke istana. Untuk masuk ke istana, tidak cukup hanya memiliki visa; ia harus merupakan keluarga presiden, orang kepercayaan presiden, atau seseorang yang bertalian langsung dengan urusan istana.
Demikian pula, kita bukan hanya mendapatkan “visa” untuk masuk surga. Orang yang berbuat baik bisa saja masuk ke dunia yang akan datang. Tetapi untuk masuk ke istana, atau Rumah Bapa, menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah, itu perkara lain. Dalam Yohanes 14:6 dikatakan tentang masuk ke dalam kehidupan untuk bersekutu dengan Allah, yaitu hidup dalam kekristenan yang sejati.
Itulah Injil. Dan Injil jauh melampaui segala bentuk sukses dan keberhasilan. Kita memiliki hidup itu sendiri sudah cukup. Itulah harta yang kekal. Karena itu, kita harus menyediakan segenap hidup kita untuk menjalani proses pendamaian dengan Allah—be reconciled to God. “Berilah dirimu diperdamaikan,” caranya adalah dengan mengubah hidup kita. Maka kita harus memiliki hati yang bersih: tidak boleh ada dendam, kebencian, kesombongan, keangkuhan, atau maksud-maksud jahat lainnya. Proses ini menyita seluruh hidup kita agar kita dapat mencapainya. Ayat lain mengatakan, “Kuduslah kamu”; siapa yang menolak ini berarti menolak Allah. Jadi, jika kita tidak mau hidup bersih, sesungguhnya kita menolak anugerah keselamatan.
Karena itu, jangan merasa sudah menerima anugerah keselamatan hanya karena percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Yesus adalah jalan untuk sampai kepada Bapa, dan hal ini harus dipahami dari dua aspek: pasif dan aktif. Keselamatan dan pendamaian tidak dapat berlangsung hanya dari satu aspek atau dari satu pihak saja, dan tidak berlangsung secara otomatis dari pihak Allah semata. Allah memang aktif, dan hal itu telah dilakukan secara sempurna di kayu salib. Namun, dari pihak manusia juga harus ada keaktifan, dan itulah tanggung jawab kita.
Salib secara de jure atau secara hukum telah membebaskan kita dan membuka peluang bagi manusia untuk diperdamaikan dengan Allah. Tetapi dalam kenyataannya, secara de facto, manusia harus berjuang mengubah diri dengan fasilitas keselamatan yang Allah sediakan, yaitu Roh Kudus yang menuntun kita kepada seluruh kebenaran, Injil sebagai kuasa Allah yang menyelamatkan, serta proses pembentukan Allah melalui setiap peristiwa yang kita alami. Harus ada usaha dari pihak kita untuk mewujudkan pendamaian itu. Dari pihak Allah, pendamaian selalu tersedia—bukan atas inisiatif kita, melainkan atas inisiatif Allah—tetapi kita harus merespons anugerah Allah tersebut dengan tindakan.
Jika seseorang mengaku percaya dan menerima Yesus sebagai jalan pendamaian, tetapi tidak berusaha mengubah diri untuk mengenakan kodrat ilahi, maka ia tidak menemukan kehidupan yang telah diperdamaikan dengan Allah itu. Ia tidak menjadi manusia sebagaimana yang dikehendaki Allah, sebab manusia yang dikehendaki Allah adalah manusia yang segambar dan serupa dengan Dia. Orang yang tidak diperdamaikan sejatinya menjauh dari Allah, tersesat hingga tidak menemukan dirinya sendiri, karena ia tidak menjadi manusia orisinal seperti yang Allah kehendaki. Sebaliknya, ketika kita berusaha memiliki kekudusan seperti yang Allah kehendaki, kita menemukan manusia yang Allah inginkan itu. Jika tidak, kita tidak akan pernah menemukan diri kita.
Satu aspek menunjukkan bahwa Yesus adalah jalan, artinya melalui salib Ia memikul semua dosa untuk mendamaikan kita dengan Allah. Inilah dimensi pasif dari keselamatan yang kita terima. Namun, ada aspek lain ketika Yesus berkata, “Jadikanlah semua bangsa murid-Ku.” Ini berarti belajar dan dididik untuk mengalami perubahan, bukan hanya secara moral umum, melainkan menjadi serupa dengan Yesus—berkodrat ilahi. Perubahan kodrat inilah yang membangun persekutuan dengan Allah, yang merupakan tujuan sejati dari pendamaian itu. Keadaan hidup yang berkodrat ilahi memungkinkan kita memiliki hubungan yang harmonis dengan Allah. Sebaliknya, jika kita tidak mencapai kekudusan yang Allah kehendaki, kita tidak akan dapat hidup harmonis dengan Allah.