Jangan sampai dunia mengikat kita hingga kita tidak layak masuk ke dalam pesta perjamuan Anak Domba Allah. Karena itu, kita harus mengambil keputusan sekarang: mau ikut diundang atau masa bodoh? Jika kita tidak merindukan Tuhan, pasti ada yang salah. Bagaimana mungkin Tuhan mau menyambut seseorang yang tidak merindukan-Nya? Kita harus terus mengolah batin, satu per satu kita lepaskan. Hidup ini sangat singkat dan tragis, sementara tujuan akhirnya adalah untuk dibawa ke langit baru dan bumi baru. Dunia ini semakin rusak—perang, gempa, kekacauan di mana-mana. Apa yang bisa kita harapkan yang benar-benar dapat menyelamatkan kita? Hanya kesucian hidup yang dapat menyelamatkan.
Karena itu, kita memiliki gerakan GASAK—Gerakan Satu Kata. Di mana satu kata saja yang tidak patut, jangan diucapkan. Jangan ditulis di media sosial. Apalagi satu kalimat. Karena Alkitab mengatakan, “Siapa yang dapat menguasai lidah, ia adalah orang yang sempurna.” Jika kita ingin serius hidup benar, kita harus hidup suci.
Apa ruginya hidup suci? Setanlah yang berkata, “Kalau kamu hidup suci, kamu tidak bahagia. Boleh suci, tapi jangan sekarang. Urusanmu masih banyak. Kalau kamu suci, hidupmu tidak beres.” Tidak lama lagi Tuhan Yesus akan datang menjemput kita. Kita akan memandang wajah-Nya, wajah Juru Selamat kita. Tapi, pertanyaannya: apakah kita layak memandang wajah-Nya?
Jika kita tidak mencintai Dia—jika selama hidup kita lebih mencintai hal-hal lain—pasti kita akan ditolak-Nya. Maka, mari kita jebak diri kita sendiri, maksudnya memaksa diri kita untuk menghormati Tuhan. Apa pengharapan yang kita miliki jika kita tidak menghormati Tuhan? Roh Kudus akan memimpin kita untuk memahami bagaimana seharusnya kita menghormati Tuhan. Maka, lebih dari sekadar memiliki pikiran dan nalar atau belajar firman, kita harus mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Gerak mulut, mata, dan tindakan kita, semuanya berhubungan dengan perasaan Tuhan.
Jika kita menyakiti perasaan Tuhan, lama-kelamaan kita menghujat Roh Kudus—dan itu adalah dosa yang tidak diampuni. Menghujat Roh Kudus bukan satu-dua perbuatan, tetapi suatu pola yang terus-menerus sampai akhirnya memadamkan Roh. Kita harus sadar bahwa penebusan tidak menghilangkan kehendak bebas kita.
Penebusan juga tidak secara otomatis mengubah sistem berpikir kita menjadi sistem berpikir Allah. Ia tidak secara otomatis menghapus selera dosa, kebiasaan, dan pola hidup yang salah. Maka, kita harus berubah—belajar berubah—sampai hidup kita benar-benar tak bercacat dan tak bercela. Kesucian harus hadir dalam segala hal.
Kita harus mengondisikan hidup kita agar menjadi kudus dalam segala hal, supaya kita dapat bersama-sama masuk dalam perjamuan Tuhan. Kita tidak memilih menjadi lemah, kita memilih menjadi kuat. Gereja hanyalah sarana untuk mengubah hidup kita. Jangan menjadi Kristen palsu. Jika kita mengaku Kristen, maka perilaku kita harus mencerminkan Kristus. Sebab umat pilihan harus hidup seperti Kristus.
Efesus 1:4 mengatakan, “Sebab di dalam Dia, Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan,” artinya, di dalam Yesus kita telah dipilih bahkan sebelum dunia diciptakan, “supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.” Dalam pikiran Allah Bapa, sudah ada nama kita. Kita diadakan oleh Allah—kita dirancang untuk menjadi anak-anak-Nya. Ayat 5 melanjutkan: “Dalam kasih, Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya.” Menjadi anak-anak Allah bukan sekadar berstatus anak, tetapi berkeberadaan sebagai anak. Maka kita harus diproses. Di sinilah gereja berfungsi menggembalakan.
Kita harus berubah! Kasihan anak-anak kita jika sebagai orang tua kita sendiri tidak bertobat. Bagaimana mereka bisa selamat? Jika orang tua tidak dapat melihat Kerajaan Surga, maka anak-anak—yang hidup dalam dunia yang semakin rusak ini—juga tidak akan dapat melihatnya. Mari kita pulang. Dunia ini bukan rumah kita.