Menjaga Perasaan-Nya

Kehidupan seseorang yang berharga di mata Tuhan pasti berbau harum. Bukan menjijikkan seperti sampah yang tidak bisa dinikmati. Ia menjadi keharuman bagi Tuhan sejak hidup di dunia. Kalau ibarat musik, menjadi simfoni yang indah yang Allah dengar. Maka Allah menghendaki orang-orang seperti ini ada di dalam Rumah Bapa. Menjadi pertanyaan bagi kita masing-masing, apakah kita sudah berbau harum di hadapan Allah? Apakah aku sudah menjadi seperti simfoni yang indah? Dan kalau kita sungguh-sungguh memperkarakan hal ini, kita akan tergetar. Kita tidak akan berbuat salah lagi, kita akan berhati-hati dengan setiap gerak pikiran kita, kita akan berhati-hati dari setiap kata yang kita ucapkan, kita berhati-hati dengan perbuatan dan perilaku kita. Karena kita adalah anak-anak Allah dan disertai oleh Dia, maka semua yang kita lakukan pasti membangkitkan respons atau reaksi dari Allah. Ironis, irama hidup manusia pada umumnya tidak peduli dengan perasaan Allah. Apa yang memuaskan hatinya, memuaskan dirinya untuk dipikirkan dan direnungkan, itu semua yang dilakukan. Apa yang memuaskan dan menyenangkan hatinya, kuucapkan dan kulakukan. Ini adalah sikap tidak menghormati Allah, padahal firman Tuhan mengatakan, “Barangsiapa menghormati Aku, Kuhormati.”

Orang lebih mencari kehormatan manusia daripada kehormatan Allah. Jadi, kalau kita sungguh-sungguh takut akan Allah, menghormati Allah dengan menjaga perasaan Allah, firman Tuhan mengatakan, “Kuhormati dia.” Maka tidak heran kalau kematian orang yang dikasihi itu berharga, karena sejak di dunia dia menghormati Allah. Seberapa kita sudah menghormati Allah? Bersyukur kita sadar dan berbalik. Kita akan mengerti dan menghayati ini dengan lebih lengkap, ketika kita nanti menghadap Allah. Bahwa Dialah yang layak menerima hormat, pujian, dan sanjungan dengan segenap hidup dan hati kita. Oleh sebab itu, kita harus menghayati keberadaan Allah. Dia menyertai kita, dan konsekuensinya adalah kita harus menjaga perasaan-Nya. Untuk itu, jangan takut berjanji hidup suci; tak bercacat, tak bercela, hanya mengingini Tuhan saja. Jangan takut, karena tidak ada pilihan lain yang lebih baik dari ini. Mestinya ini satu-satunya pilihan kita. Supaya hidup kita ini menjadi keharuman yang Tuhan cium.

Pernahkah kita membayangkan orang yang dijatuhi hukuman mati? Dimana tidak ada kesempatan lagi untuk naik banding. Orang tersebut pasti sangat menyesal dan berpikir, “seandainya waktu itu saya berkata ‘tidak;’ seandainya waktu bisa diputar balik, saya akan menolak permintaan itu. Tapi sekarang sudah terlanjur.” Seandainya waktu bisa diputar ke belakang, dan dia menolak tawaran itu, maka ia masih ada di luar bersama dengan anak-anak dan bisa melihat cucu yang akan segera lahir. Tapi waktu tidak bisa diulang. Kalau hanya hukuman mati di dunia, semua orang juga akan mati. Kalau hanya hukuman 15 tahun, nanti bisa dapat remisi dan lain-lain. Tapi kalau masuk neraka, kita tidak bisa memutar ulang waktu dan itu sangat mengerikan. Jadi bersyukur kalau kita sekarang menghadapi banyak masalah yang membuat kita bisa melihat kemuliaan Allah atau mengerti kemuliaan Allah atau bisa menghayatinya. Karena kalau kita tidak punya masalah, kita sangat mungkin tidak melihat kemuliaan Allah, karena kita menikmati Firdaus yang lain di dalam hidup kita. Orang yang terpaku memandang kemuliaan dunia, pasti tidak dapat memandang kemuliaan Kerajaan Surga.

Itulah sebabnya pada kesempatan ini, kita menjadikan Tuhan satu-satunya alasan hidup. Lebih baik aku mati daripada aku tidak membuat Tuhan senang. Lebih baik kita tidak pernah ada daripada ada tetapi tidak menjadi keharuman bagi Tuhan. Kita akan memasuki fase-fase kehidupan yang berbeda dari fase-fase hidup yang pernah kita jalani sebelumnya. Kita itu bisa mati setiap saat. Mazmur 73 mengingatkan kita bagaimana orang tulus dihajar Tuhan, tetapi akhirnya dia bisa berkata, “Siapa gerangan ada padaku di surga, selain Engkau? Selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi.” Kita masih punya kesempatan, tapi jangan lewatkan kesempatan itu. Jangan mendengar suara daging atau setan yang berkata: “Percuma, nanti kamu juga berdosa lagi,” yang membuat kita tidak berani untuk berkomitmen. Jangan memberi peluang Iblis untuk berpangkal dalam pikiran dan hati kita. Seperti Simson yang sudah menjadi buta dan dipermalukan di depan banyak musuhnya, di akhir hidupnya dia berkata: “beri aku kesempatan satu kali.” Dia mempertaruhkan hidupnya satu kali dan Tuhan mengabulkan permintaannya. Kekuatan Simson dikembalikan, bahkan lebih kuat dari sebelumnya. Hari ini mungkin merupakan kesempatan kita yang terakhir. Pikirkan itu dan jangan ceroboh! 

Dia menyertai kita, dan konsekuensinya adalah kita harus menjaga perasaan-Nya.