Menjadi Satu Roh

Alkitab berkata, “Jadikan semua bangsa murid-Ku,” dan itu bukan hanya untuk mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi atau lulusan Sekolah Tinggi Teologi, melainkan untuk setiap kita. Sebab, setiap orang yang mengalami proses pendewasaan itu akan memengaruhi orang lain, akan menjadi berkat, akan menjadi alat dalam tangan Tuhan mengubah orang lain. Tuhan memberikan mandat tersebut bukan untuk sekelompok orang saja, bukan untuk kawasan teolog saja; namun untuk semua orang. Tapi dunia ini sudah rusak, sehingga proses ini tidak berlangsung di dalam hidup banyak orang karena menyerah kepada keadaan, dan dibawa Iblis dalam proses pembinasaan. Matarialisme dan materialistis merusak. Iblis sudah tahu dan melihat, bahwa aniaya fisik membuat orang berhenti berbuat dosa, justru memurnikan iman Kristen. Namun, matrealisme membuat orang Kristen menyembah kepada Iblis; menyembah berhala. Dosa percabulan rohani membuat orang Kristen atau orang percaya tidak mengerti kebenaran. Kalau tidak mengerti kebenaran, tidak akan sampai pada proses kesempurnaan. 

Roma 8:28 mengatakan, “Allah turut bekerja dalam segala hal mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia.” Mengasihi Allah itu wilayah kita, bukan wilayah Tuhan. Jadi kalau kita memberi diri diselamatkan, kita harus melepaskan diri dari percintaan dunia dan mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan. Allah tidak menggerakkan kita mencintai Dia. Kita yang harus menggerakkan diri kita sendiri. Dalam hal ini, kita tidak bisa menyerah kepada keadaan. Ini pilihan. Kita memilih mengasihi Tuhan, dan itulah yang kita pilih. Betapa beruntungnya kalau sampai kita bisa jatuh cinta kepada Tuhan, sampai tidak bisa menarik cinta itu kembali. Cinta itu bisa kita kembangkan. Seperti orangtua zaman dulu yang menikah tanpa proses pacaran. Namun ketika suaminya meninggal, sang istri ingin ikut dikubur. Bahkan di negara tertentu, kalau seorang pejabat tinggi meninggal, dia dikubur bersama istrinya yang masih hidup. Cinta itu bisa dikembangkan. Jadi kalau memberi diri diselamatkan, lepaskan diri kita dari ikatan percintaan dunia, dan cintailah Tuhan dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan. 

Kalau orang mengikatkan dirinya dengan perempuan cabul, menjadi satu daging, satu gairah dengannya. Tapi kalau kita mengikatkan diri dengan Allah, menjadi satu roh. Jadi jika kita mau mengikatkan diri menjadi satu roh dengan Allah, gairah hidup kita harus diubah. Masalahnya, materialistis ini gairah yang sudah mengakar sejak kecil, sehingga untuk melepaskannya, kita musti didetoks oleh kebenaran. Dan itu tergantung seberapa banyak kita menginvestasikan waktu, pikiran, tenaga kita untuk proses ini. Makanya, kekristenan itu bukan sebagian dari hidup kita. Kalau kekristenan hanya menjadi bagian hidup, kita tidak sampai tujuan. Kekristenan itu seluruh hidup kita, segenap hidup kita. Kita tidak akan bisa digarap oleh Allah, karena Allah bekerja dalam segala hal mendatangkan kebaikan hanya bagi orang yang mengasihi Dia, yang memberi diri diselamatkan. Maka, jangan menyerah kepada keadaan. Inilah yang harus kita lakukan: mengondisi hidup menjadi seorang yang bisa diselamatkan oleh Allah.

Banyak orang bingung karena menyadari bahwa rohaninya tidak bertumbuh, masih duniawi, dan tidak bisa berkembang. Yang pertama, jangan harapkan kita bisa berubah dalam sekejap. Tidak bisa. Perlu ketekunan dan proses panjang. Yang kedua, rubah rutinitas hidup. Misalnya, biasa bangun pukul 7 pagi, sekarang diubah menjadi pukul 5 pagi, agar bisa ikut doa. Yang biasanya tidak pernah puasa, ikutlah puasa. Siapa yang merubah? Diri kita sendiri. Beri dirimu diselamatkan. Dan ini harus kita lakukan dengan segenap hati. Dan kalau kita bisa melakukannya dengan segenap hati, kita akan mengalami proses itu. Orang yang bisa main piano, sampai tangannya seperti punya “mata,” itu karena dia terbiasa dan sudah berlatih sejak kecil. 

Kalau sampai kita bisa jatuh cinta kepada Allah, betapa indahnya. Kita pasti diproses. Jadi, jangan heran jika kita melihat atau mengalami bahwa orang yang mencintai Tuhan kadang-kadang hidupnya lebih susah. Kenapa? Karena ia dihajar Tuhan terus supaya terhindar dari neraka. Tidak ada jalan lain. Cara penyelamatan itu harus lewat proses. Tapi, hanya bagi mereka yang mencintai-Nya. Kalau tidak mencintai Tuhan, tidak bisa. 

Kalau kita mau mengikatkan diri menjadi satu roh dengan Allah, maka gairah hidup kita harus diubah.