Skip to content

Menjadi Sahabat Salib

 

Ratapan 3:22

“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habis rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu.”

Firman Tuhan menyatakan bahwa kasih setia Tuhan tidak berkesudahan dan rahmat-Nya selalu baru setiap pagi. Ini adalah pengingat bahwa setiap hari Tuhan senantiasa menyediakan berkat bagi kita. Namun, berkat Tuhan bukan hanya berupa kesehatan, uang, atau hal-hal materi semata. Yang terutama adalah berkat rohani yang kekal—berkat yang mempersiapkan kita untuk hidup dalam kekekalan bersama-Nya.

Perikop ini ditulis dalam situasi yang sangat kelam, ketika kerajaan Yehuda mengalami keruntuhan yang tragis. Nabi Yeremia, yang menulis kitab Ratapan, menjadi saksi mata kehancuran Yerusalem, pusat pemerintahan keturunan Daud. Dalam kondisi gelap gulita tersebut, muncul seberkas cahaya harapan—ayat ini mengingatkan bahwa sekalipun manusia tidak setia, Tuhan tetap setia.

Kesetiaan Tuhan juga terlihat dalam kisah anak bungsu yang hilang (Lukas 15). Dalam kisah itu, sang anak meminta warisan sebelum ayahnya meninggal—sebuah tindakan yang sangat tidak pantas. Sang ayah tentu merasa kecewa, dikhianati, dan ditolak. Namun, ketika anak itu akhirnya kembali, sang ayah berlari menyambutnya. Ini adalah gambaran kasih Bapa di Surga—kasih yang tidak berubah meskipun kita seringkali melukai-Nya.

Demikian pula dalam sejarah Israel. Tuhan yang menghukum bangsa-Nya melalui Raja Nebukadnezar dari Babel, tetap juga yang memberikan harapan. Bahkan dalam murka-Nya, Tuhan tetap menyatakan kasih dan kesetiaan-Nya. Ia tidak pernah berhenti menantikan pertobatan dan perubahan hati umat-Nya.

Sebagai orang yang telah menempuh perjalanan hidup yang panjang, kita diingatkan agar tidak menyia-nyiakan berkat kekal yang Tuhan sediakan setiap hari. Sayangnya, banyak orang tanpa sadar mengabaikan hal ini—dengan mencampakkan, meremehkan, dan bahkan menginjak-injak nilai-nilai kekekalan. Hal itu terjadi karena hati dan pikiran mereka hanya tertuju pada hal-hal duniawi: harta, kesenangan, dan pencapaian fana.

Rasul Paulus pun menegur orang-orang yang hidup seperti itu. Dalam Filipi 3:17–18, ia menulis: “Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu. Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus.”

Istilah seteru salib Kristus tidak hanya mengacu kepada mereka yang secara terang-terangan menolak Injil. Paulus menyiratkan bahwa bahkan orang Kristen pun bisa menjadi seteru salib, bila hidup mereka tidak sesuai dengan tujuan salib Kristus—yaitu untuk mematikan keinginan daging dan membentuk manusia batiniah yang serupa dengan Kristus.

Sebagai kristen yang telah melalui banyak musim kehidupan—suka dan duka, sehat dan sakit, masa kelimpahan dan kekurangan—kita punya kesempatan besar untuk merefleksikan hidup kita: Apakah kita sungguh-sungguh menghargai berkat kekal yang Tuhan berikan? Apakah fokus hidup kita masih tertuju kepada perkara duniawi, ataukah sudah beralih kepada hal-hal yang menyenangkan hati Tuhan?

Kiranya firman ini menguatkan kita untuk tidak menjadi seteru salib, melainkan sahabat salib—orang-orang yang hidupnya mencerminkan tujuan dari pengorbanan Kristus, dan yang setiap hari disempurnakan menuju kekekalan bersama-Nya.