Setiap kita pasti mati. Dan kematian itu seharusnya menjadi penghiburan terbesar dalam hidup kita. Mengapa? Karena kematian dapat menjadi suatu keindahan. Ketika kita susah hati, kecewa, atau mengalami kesulitan yang berat, tetapi memiliki kepastian keselamatan, kita dapat memandang kematian dengan pengharapan. Namun sejujurnya, sering kali kita sendiri belum benar-benar siap menghadapinya. Kematian seharusnya menjadi penghiburan. Kolose 3 mengatakan, “Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.” Dari mana kita berasal? Dari Bapa. Ke mana kita pergi? Kepada Bapa. Dan kita mengetahui hal itu setelah kita percaya kepada Tuhan Yesus.
Di dalam Alkitab dikatakan bahwa bangsa yang berjalan dalam kegelapan sekarang melihat terang. Terang apakah yang dimaksud? Yaitu kebenaran yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Melalui hidup seseorang yang berjalan dalam kebenaran, orang lain dapat menemukan cara hidup yang benar. Hidup kita seharusnya menjadi Injil yang diperagakan, firman yang diwujudkan dalam kehidupan. Sehingga ketika orang bertanya, “Hidup seperti apa yang sebenarnya dikehendaki oleh Allah?” kita dapat menjawab melalui kehidupan kita sendiri. Yaitu bagaimana kita bersahabat, bagaimana kita mengatur kehidupan, bagaimana kita mengelola keuangan, serta bagaimana kita bersikap terhadap musuh. Segala sesuatu itu terpancar melalui kehidupan kita. Itulah yang dimaksud dengan menjadi terang.
Dengan demikian, terang adalah sarana melalui mana kehidupan kita membentuk orang lain. Orang lain dapat dibentuk dan dibangun melalui kehidupan kita. Oleh sebab itu, walaupun secara teologis kita telah memiliki pemahaman yang baik dan mampu berkhotbah dengan baik, kita tidak boleh merasa puas dengan apa yang telah kita miliki dan lakukan sekarang. Kita rindu agar di mana pun kita berada, orang dapat melihat kehidupan kita dan berkata, “Inilah gambaran manusia yang sejati.” Namun pertanyaannya, apakah kita sudah menemukan terang itu? Bagaimana caranya? Kita harus terus belajar kebenaran firman Tuhan, sehingga orang lain melihat perbuatan kita dan memuliakan Bapa di surga. Memuliakan Allah bukan hanya mengakui bahwa Allah itu baik, tetapi juga ikut melayani-Nya. Memuliakan Allah bukan sekadar memuji Tuhan, melainkan memperlakukan-Nya sebagai Pribadi yang mulia dan agung.
Yohanes 1:4 mengatakan, “Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.” Kata hidup dalam ayat ini berasal dari kata Yunani zoe, yaitu hidup yang berkualitas tinggi. Maksud ayat ini adalah bahwa di dalam Dia terdapat cara hidup yang benar, dan itulah terang bagi manusia. Jika seseorang tidak hidup dengan cara demikian, berarti ia masih hidup dalam kegelapan. Jadi apabila seorang Kristen masih berlaku jahat terhadap orang lain, masih menipu, atau tidak dapat mengampuni, berarti ia belum berjalan dalam terang. Orang yang berjalan dalam terang adalah orang yang melakukan apa yang Tuhan Yesus lakukan.
Sekarang bayangkan, jika terang Tuhan Yesus diibaratkan sebesar 1.000 watt, berapakah terang kita? Kita harus jujur mengakui bahwa terang kita belumlah sangat terang. Mungkin terang kita baru seperti cahaya yang kecil. Oleh karena itu marilah kita berlomba untuk hidup sedemikian rupa sehingga orang lain dapat berkata, “Orang ini berbeda.” Kita tidak perlu lagi berdebat mengenai agama dan teologi. Kita hadir di tengah masyarakat yang terdiri dari berbagai latar belakang agama dengan membawa diri secara benar, tidak mencela agama lain, tetapi tampil sebagai wakil Tuhan, duta Tuhan, dan surat terbuka yang dapat dibaca oleh semua orang.
Karena itulah tugas seorang pendeta atau pemberita firman sangat berat. Perbuatan kita harus sesuai dengan khotbah yang kita sampaikan. Itulah yang disebut integritas. Apa yang kita ucapkan mengenai kebenaran harus kita kenakan, kita nyatakan, dan kita praktikkan dalam kehidupan kita.
Yohanes 1:5 mengatakan, “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.” Tuhan Yesus menampilkan kehidupan yang kebenarannya tidak dapat dibantah. Orang mungkin dapat menuduh atau menyalahkan Dia, tetapi tidak dapat mengalahkan kebenaran-Nya. Oleh karena itu kita tidak boleh menyerah. Kita harus terus berubah agar dapat menampilkan kehidupan yang melalui kehidupan tersebut orang lain dapat menemukan pola hidup yang benar.