Skip to content

Menipu Diri Sendiri

 

Manusia pilihan artinya manusia yang sesuai dengan rancangan Penciptanya, menjadi manusia surgawi atau manusia Allah. Kita sebagai umat pilihan, apa istimewanya? Atau paling tidak, apakah kita sudah semakin seperti desain awal? Jadi, manusia pilihan adalah manusia yang memiliki keberadaan luar biasa, berbeda dengan manusia yang tidak terpilih. Perlu kita garis bawahi, mereka tidak terpilih karena tidak memberikan respons. Kalau seseorang mengaku sebagai umat pilihan tetapi tidak memiliki keberadaan yang luar biasa, maka ia menipu dirinya sendiri. Tuhan Yesuslah manusia pilihan yang menjadi teladan atau contoh bagi kita semua.

Orang yang mengaku sebagai umat pilihan akan terus bertumbuh makin seperti Tuhan Yesus. Jadi, sebenarnya kita sulit untuk bisa membaca orang lain apakah sudah lahir baru atau belum. Walau nanti akhirnya bisa, karena dari buahnya kita mengenal orang itu. Tuhan tidak pernah berniat menjadikan makhluk setengah baik, tetapi Tuhan menghendaki makhluk yang sangat baik, dan itu dilaksanakan Tuhan pada zaman penggenapan. Dan kitalah orang yang ditentukan, dipilih, ditunjuk untuk menjadi orang-orang seperti itu. Namun itu tidak langsung otomatis, tidak. Diperlukan respons kita.

Kita hidup di zaman penggenapan atau zaman Perjanjian Baru, di mana kita bisa mendengar Injil dengan lengkap. Kita punya telinga untuk mendengar, mata untuk melihat, punya pikiran untuk bisa menangkap firman, dan itu pun bagian dari penentuan Tuhan juga. Ada orang yang lahir cacat; tuli, buta, atau bisu. Dalam hal ini, Tuhan yang menentukan. Walaupun tentu ada aspek-aspek yang lain yang harus dipertimbangkan: orang tuanya terkena HIV atau orang tuanya berbuat salah, itu bisa. Dan Tuhan tidak bisa menghindarkan hal itu karena memang apa yang ditabur orang dituainya. 

Mungkin pertanyaannya, bagaimana kalau orang-orang berada di sebuah pedalaman yang jauh dari peradaban modern, di mana mereka tidak bisa baca dan nyaris tidak pernah dengar Injil? Tentu Tuhan tidak menuntut mereka sama seperti kita yang bisa mendengar Injil, karena kita masuk proses penyempurnaan. Kita adalah orang-orang yang dipilih, yang ditentukan dan ditunjuk Tuhan. Tetapi respons kita tetap harus diperlukan di sini. Yang penting, jangan kita mencoba menghubungkan urusan Tuhan yang maha tahu dan segala sesuatu yang misteri dalam pikiran Tuhan dengan langkah kita hari ini. Langkah dan tanggung jawab kita hari ini adalah bertobat, tekun dan sungguh-sungguh mengikut Dia. Tuhan mau menjadikan kita makhluk ciptaan yang luar biasa. 

Jadi, kata “pilihan” itu harus berarti juga luar biasa, istimewa, jangan hanya diartikan sebagai terpilih atau disisihkan dari yang lain, bukan hanya itu. Jadi, kalau Kepala Sekolah memilih murid untuk menjadi wakil sekolah di olimpiade Matematika atau Fisika, maka anak tersebut merupakan anak pilihan. Namun itu bukan karena gurunya dikasih roti setiap pagi oleh orang tua si anak, tetapi karena anak itu memang pintar dan juga punya respons. Kalau dikatakan, “dia anak pilihan,” itu artinya bukan hanya ditunjuk dan dipisahkan dari anak-anak yang lain, melainkan anak itu istimewa, pintar, cerdas dan luar biasa.

Jadi, jangan dengan mudah berkata kepada orang: “Kamu umat pilihan, kamu luar biasa.” Dari mana kita tahu? Orang tidak mungkin bisa menjadi luar biasa tanpa respons yang serius untuk mengelola hidup, mengelola waktu, pikiran, tenaga, dan lain sebagainya. Seseorang tidak mungkin otomatis menjadi baik. Manusia yang jatuh dalam dosa, manusia yang tidak lagi berkeadaan sebagai manusia yang berkualitas baik. Tuhan mau menjadikan kita kembali menjadi manusia yang berkualitas. Keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia agar dapat kembali berkualitas; berkualitas baik menurut Tuhan. Itulah sebabnya Tuhan menyediakan sarana guna penyelamatan-Nya.

Sarana yang disediakan itu cuma-cuma, itulah yang disebut anugerah, tetapi mengambil atau meraih anugerah itu harus ada perjuangan. Ada firman, baca, pelajari.  Ada Roh Kudus, apakah kita punya jam doa pribadi dan terus berjalan dengan Roh Kudus? Aktifkan. Sarananya diberikan cuma-cuma, tetapi meraihnya harus berjuang. Disebut “anugerah” sebab pemberian itu adalah pemberian yang sangat mahal, Anak-Nya sendiri yang dikorbankan bagi dunia. Anugerah itu menjadi berharga ketika cara kita menerima anugerah harus melalui suatu perjuangan nyata untuk perubahannya.

Kesalahan banyak orang hari ini adalah merasa bahwa keselamatan yang dimiliki membuat dirinya otomatis menjadi umat atau manusia pilihan. Pada zaman Perjanjian Baru ini, kita seperti ada di situasi Adam dan Hawa. Manusia harus memilih menjadi manusia pilihan atau manusia terbuang. Kalau sebelum zaman anugerah, tidak ada pilihan itu. Memang semua bisa menjadi orang baik, akan tetapi tidak bisa menjadi orang pilihan atau sempurna seperti Bapa. Namun setelah zaman Perjanjian Baru, orang diperhadapkan kepada pilihan ini, bisa menjadi manusia pilihan atau manusia terbuang. Tuhan berkata, “Di pihak mana kamu berdiri? Putuskanlah itu.”