Skip to content

Menikmati Tuhan

 

Perbedaan agama tidak lagi berarti jika masing-masing hanya berhenti pada tataran keberagamaan dan moralitas umum, namun menjadi sangat tajam dan bermakna ketika seseorang benar-benar mengenakan hidup Kristus sehingga layak disebut orang Kristen sejati. Setiap orang Kristen memang telah dibenarkan oleh Allah, tetapi belum tentu telah menjadi benar. Kita dibenarkan bukan hanya agar “dianggap benar,” melainkan supaya benar-benar menjadi benar. Tuhan mendamaikan kita agar kita dapat hidup dalam harmoni dengan-Nya. Namun, bagaimana bisa berdamai dengan Allah bila keadaan kita tidak berubah? Selama kita masih mengenakan kodrat daging, kita tidak mungkin seirama dengan Allah.

Sering kali diajarkan bahwa karena kita telah dibenarkan oleh iman, maka kita sudah benar sepenuhnya. Padahal, keadaan benar harus diperjuangkan. Keselamatan sejati adalah pemulihan manusia ke dalam rancangan semula — segambar dan serupa dengan Allah, memiliki kodrat ilahi, sehingga dapat berdamai dengan-Nya. Itu tidak terjadi otomatis. Dibutuhkan pilihan sadar untuk beriman dengan benar dan mengikut jejak Yesus, hingga kita dapat menikmati keindahan hidup mengikut-Nya. Tuhan Yesus sendiri berkata, “Damai sejahtera yang Kuberikan kepadamu tidak seperti yang diberikan dunia.” Itulah sebabnya Paulus, sekalipun dalam penjara, bisa berkata, “Bersukacitalah senantiasa.”

Karena itu, orang tua harus mengajarkan kebenaran kepada anak-anak, dan gereja harus menuntun jemaat kepada pengajaran yang murni — yaitu menjadi seperti Yesus. Jangan memberi ruang di hati untuk kesenangan dunia, sebab siapa yang masih menikmati dunia tidak akan pernah menikmati Tuhan. Pernahkah kita menikmati makanan lezat sementara mulut masih mengunyah permen? Mustahil. Kita harus membersihkan rasa lama untuk dapat menikmati yang baru. Begitu pula, selama hati masih dipenuhi kenikmatan dunia, kita tidak akan pernah merasakan nikmatnya hadirat Tuhan. Menikmati Tuhan adalah pilihan sadar yang harus terus diperbarui, seperti “update” rohani agar fokus kita makin kokoh dan murni.

Ingatlah, cita rasa jiwa kita telah dirusak oleh dunia karena kita menunda keputusan untuk memilih. Penundaan adalah penolakan. Kita tidak boleh hidup tanpa komitmen. Firman Tuhan berkata bahwa kita berutang untuk hidup menurut Roh (Roma 8:12–14). Karena itu, kita harus berkata, “Aku mau ikut Yesus. Aku mau hidup seperti Dia. Aku mau hidup suci, tidak bercacat dan bercela. Aku mau meninggalkan dunia. Aku memilih pulang.” Orang yang rindu pulang ke surga bukanlah orang pesimis, melainkan orang yang paling optimis, sebab ia memaksimalkan setiap potensi hidup untuk memuliakan Tuhan.

Maka rumus hidup orang Kristen sejati adalah: Aku bersedia melakukan apa yang tidak bisa aku lakukan; aku mau melakukan apa yang tidak mampu aku lakukan. Karena seperti dikatakan Yesus dalam Matius 19, “Bagi manusia hal itu mustahil, tetapi bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Kita harus berani mengambil keputusan. Firman Tuhan menegaskan bahwa “Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.” Itu berarti hanya bagi yang benar-benar mengasihi Dia, bukan bagi semua orang. Walaupun kita jauh dari sempurna, bahkan mungkin memiliki catatan hidup yang buruk, namun kita harus tetap memilih untuk sempurna, memilih untuk pulang kepada Allah.

Dunia saat ini menuntut kita untuk hidup dengan integritas, tekad, dan komitmen yang bulat, sebab tanpa itu kita akan mudah terbawa arus, kehilangan arah, dan akhirnya tidak dapat kembali lagi. Allah mau merancang kita menjadi manusia yang agung, tetapi keputusan demi keputusan kita sering tidak mengarah ke rencana-Nya. Kita sibuk dengan banyak hal, sampai kehilangan diri kita sendiri. Kita telah menjadi manusia seperti yang dunia bentuk, bukan seperti yang Allah kehendaki. Karena itu, kita tidak boleh setengah-setengah. Kita harus seekstrem-ekstremnya di kutub kebenaran.

Mari kita akhiri perjalanan hidup lama kita dan mulai hidup baru dengan satu fokus: menikmati Tuhan. Kita tidak akan pernah menyesal berdamai dengan Allah dengan hati yang bersih dan bebas dari cinta dunia. Kalau pun kita masih belajar, bekerja, berkarier, dan berbisnis, biarlah semua itu menjadi sarana untuk mengawal pekerjaan Tuhan. Kita tidak akan tertolong kalau tidak mulai sekarang — memilih untuk berubah, memilih untuk menikmati Tuhan.