Skip to content

Mengutamakan yang Terutama

 

Matius 8:34

Maka keluarlah seluruh kota mendapatkan Yesus dan setelah mereka berjumpa dengan Dia, mereka pun mendesak, supaya Ia meninggalkan daerah mereka.

Tidak semua orang yang menyaksikan pekerjaan Allah akan menyambut-Nya dengan sukacita. Penduduk wilayah Gadara menerima berita yang seharusnya menggembirakan: dua orang yang selama ini dikuasai roh-roh jahat dan menebarkan ketakutan telah dibebaskan. Jalan yang dahulu tidak dapat dilewati kini tidak lagi dikuasai kengerian. Manusia yang hidup di antara kuburan memperoleh kembali martabat dan kehidupannya. Namun, ketika penduduk itu datang menemui Yesus, mereka justru mendesak-Nya meninggalkan daerah mereka.

Mengapa mereka menolak Pribadi yang baru saja melakukan pembebasan? Kawanan babi mereka telah terjun ke danau dan mati. Mereka melihat pemulihan manusia, tetapi sekaligus menghitung kerugian materi. Ketika harus menentukan apa yang lebih berharga, mereka ternyata lebih terganggu oleh hilangnya babi daripada bersukacita karena manusia dibebaskan. Harga akibat kehadiran Yesus dianggap terlalu mahal bagi kepentingan mereka.

Kisah ini menjadi cermin yang tajam bagi orang percaya. Kita mudah berkata bahwa kita menginginkan Tuhan hadir, menolong, dan memulihkan hidup. Namun, apakah kita tetap mengingini Dia ketika kehadiran-Nya mengganggu kenyamanan, keuntungan, kebiasaan, atau rencana pribadi? Kita mungkin senang mendengar firman selama firman itu menghibur. Namun, ketika firman menuntut kita melepaskan sesuatu yang kita cintai, kita biasanya melakukan aksi mundur teratur. Tanpa mengatakannya secara langsung, hati kita dapat mendesak Tuhan meninggalkan wilayah tertentu dalam hidup kita.

Penolakan seperti ini jarang tampil sebagai pemberontakan yang terang-terangan. Kita tetap datang beribadah, menyanyikan pujian, dan menyebut nama Tuhan, tetapi secara praktis membatasi hak-Nya atas keputusan kita. Kita berkata bahwa Tuhan adalah pusat hidup, sementara pekerjaan, uang, keluarga, gengsi, atau kenyamanan tetap menjadi pertimbangan utama dalam mengambil keputusan. Tuhan hanya diperkenankan masuk sejauh Ia tidak mengubah susunan kepentingan kita. Inilah penolakan yang sangat halus: bibir menerima Yesus, tetapi sekaligus meminta-Nya berhenti di depan pintu. Kita meminta-Nya menolong kita, tetapi tidak mengizinkan-Nya memerintah sepenuhnya.

“Babi” dalam kehidupan kita tidak selalu berupa uang atau harta. Ia dapat berbentuk kehormatan, hubungan yang tidak berkenan kepada Allah, kesempatan yang diperoleh dengan ketidakjujuran, kepuasan diri, atau hak untuk membalas orang lain. Kita mengetahui kehendak Allah, tetapi takut kehilangan sesuatu apabila menaatinya. Akhirnya, kita lebih memilih mempertahankan milik yang sementara daripada menerima pemerintahan Allah atas hidup kita.

Di sinilah keadaan batin harus diperiksa. Apakah kita menilai segala sesuatu menurut kegunaannya bagi kepentingan pribadi atau menurut nilainya di hadapan Allah? Bagi penduduk Gadara, kawanan babi lebih mudah dihitung daripada nilai manusia yang dipulihkan. Nilai-nilai dunia memang membuat manusia mahir menghitung harga, tetapi gagal mengenali nilai. Apa yang menguntungkan belum tentu bernilai kekal, dan apa yang terasa sebagai kerugian dapat menjadi jalan ketaatan yang menyenangkan hati Bapa.

Pengampunan dan anugerah Allah tidak dimaksudkan untuk membuat kita tetap menjadi penguasa atas hidup sendiri. Anugerah memanggil kita keluar dari cara hidup lama dan menempatkan kita di bawah kehendak Allah. Jika kita hanya menerima berkat Tuhan, tetapi menolak koreksi-Nya, sesungguhnya kita tidak menginginkan Tuhan; kita hanya menginginkan manfaat dari-Nya. Iman sejati terlihat ketika seseorang bersedia berdoa dengan tulus, “Apa pun bersedia aku lepaskan, asalkan jangan Kau tinggalkan hidupku.”

Markus dan Lukas memperlihatkan respons yang sangat berbeda dari orang yang telah dibebaskan. Ketika penduduk meminta Yesus pergi, orang yang telah dibebaskan dari Legion itu meminta supaya ia diperkenankan menyertai-Nya (Mrk. 5:18; Luk. 8:38). Yesus tidak memperkenankannya, tetapi mengutusnya pulang untuk menceritakan betapa besar yang telah Tuhan lakukan baginya. Orang yang telah mengalami pemulihan tidak lagi memandang kehadiran Yesus sebagai ancaman, melainkan sebagai anugerah yang harus diberitakan. Hidupnya sendiri menjadi kesaksian bahwa seorang manusia lebih berharga daripada seluruh keuntungan yang hilang.