Manusia tidak akan mampu mengucapkan syukur apabila ia melihat penderitaan hanya sebagai beban yang menyakitkan atau tekanan yang mematikan. Ia tidak akan pernah menemukan sisi lain yang kontras di balik kegetiran hidup itu. Namun, ketika seseorang mulai melihat bahwa di balik setiap permasalahan terdapat pelajaran berharga—bahwa pergumulan hidup menghadirkan proses pendewasaan dan penderitaan menjadi alat pembentukan karakter—ia akan lebih mudah berkata, “Terima kasih, Tuhan, atas apa pun yang aku alami. Atas apa pun yang aku hadapi. Aku percaya ada rencana Allah yang baik di balik peristiwa getir ini.” Orang-orang seperti ini akan menjadi pribadi yang kokoh, yang imannya kepada Tuhan tidak mudah goyah.
Dengan demikian, paradigma atau cara berpikir seseorang sangat menentukan perilaku atau tindakannya. Jika cara berpikir seseorang positif, maka apa pun yang dihadapinya akan dilihat dari sisi yang mendatangkan kebaikan. Namun kita juga harus realistis: dalam setiap kejadian selalu ada dua sisi, yakni sisi baik dan sisi buruk, sisi yang bermanfaat dan yang merugikan. Karena itu, pilihlah untuk melihat sisi yang baik, yang dapat mendatangkan kebaikan, ketimbang yang jahat atau merugikan. Perlu diperhatikan bahwa kata “penderitaan” yang dimaksud dalam Filipi 1:29 bukanlah penderitaan atau pergumulan hidup yang timbul akibat kesalahan dan kecerobohan kita sendiri. Misalnya, usaha bangkrut karena berjudi, penyakit datang karena pola makan yang buruk, atau nilai rapor merah karena malas belajar. Ketidakharmonisan keluarga akibat egoisme pun bukan termasuk penderitaan yang dimaksud.
Kata “penderitaan” dalam ayat tersebut menunjuk pada beban, tekanan, atau pergumulan yang timbul karena Kristus. Bukan semata penderitaan fisik, melainkan perjuangan rohani dalam melepaskan kodrat dosa yang masih mengikat hidup orang percaya. Kodrat ilahi tidak akan pernah muncul apabila orang-orang percaya masih terikat oleh kodrat dosa. Sebaliknya, kodrat ilahi akan bertumbuh dan mengikat orang-orang percaya ketika ia melepaskan diri dari kodrat dosa.
Perhatikan kalimat ini: “Ketika ia melepaskan diri dari kodrat dosa.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa orang-orang percayalah yang harus secara sadar menanggalkan kodrat dosa di dalam dirinya. Firman Tuhan dan Roh Kudus memang berperan menolong kita meninggalkan manusia lama, tetapi manusia itu sendiri juga memiliki peran yang tidak bisa diabaikan. Tanpa kemauan kuat dari diri sendiri untuk meninggalkan dosa, mengenakan kodrat ilahi hanya akan menjadi angan-angan belaka. Kitalah yang harus mematikan kodrat dosa yang masih tersembunyi dalam diri kita. Bagaimana caranya? Pertama, dengan sering datang kepada Tuhan dalam doa, baik doa pribadi maupun doa bersama. Berdoa berarti berdialog dengan Bapa di surga. Orang percaya memiliki Bapa di surga—Bapa yang hidup, yang mendengar, dan yang mau berbicara kepada anak-anak-Nya.
Tidak mungkin Allah berdiam diri ketika anak-anak-Nya datang dengan hati yang tulus. Jika orang tua di dunia yang penuh kekurangan saja mau mendengarkan anaknya, apalagi Bapa di surga yang sempurna—Ia pasti mendengar. Masalahnya sering kali bukan Tuhan yang tidak berbicara, melainkan kita yang tidak peka mendengar suara-Nya. Kadang kita bingung dan ragu, “Apakah ini suara Tuhan atau hanya suara hatiku sendiri?”
Saudaraku, jangan pernah lelah berdoa dan jangan biarkan kebingungan membuat kita berhenti mencari Tuhan. Sebab ketika kita memiliki niat yang kuat dan tekun datang kepada-Nya, kita akan semakin peka dan terbiasa mendengar suara Tuhan. Haleluya, puji Tuhan! Allah pasti berbicara untuk menyucikan, menegur, dan memulihkan anak-anak-Nya dari setiap kenajisan, kejahatan, dan kecemaran.