Minggu ini adalah dua minggu terakhir di tahun 2025. Dalam beberapa hari lagi kita akan meninggalkan tahun ini dan melangkah ke tahun yang baru, 2026. Biasanya, orang-orang mengucap syukur atas hari-hari yang telah Tuhan berikan sepanjang tahun yang telah berlalu. Kita bersyukur untuk waktu, kesempatan, dan berkat yang Tuhan anugerahkan.
Namun, sebuah pertanyaan penting perlu kita renungkan: apakah kita sungguh pantas mengucap syukur atas hari-hari yang telah Tuhan berikan, jika ternyata kita mengisinya dengan kehidupan yang tidak menyenangkan hati-Nya—bahkan melukai hati-Nya? Betapa ironisnya jika seseorang menaikkan ucapan syukur kepada Tuhan atas hari-hari di mana ia terus melukai hati-Nya. Ironi ini, sayangnya, dilakukan oleh banyak orang, bahkan hampir semua orang, tanpa disadari.
Demikian pula ketika seseorang merayakan ulang tahun. Ia mengucap syukur atas tahun-tahun yang telah Tuhan berikan, lalu menyanyikan lagu “Panjang umurnya.” Padahal masalahnya bukan pada berapa panjang tahun yang telah dijalani, melainkan bagaimana seseorang mengisi tahun-tahun hidupnya itu. Jika hidupnya hanya diisi dengan hal-hal yang menyenangkan dirinya sendiri dan tidak menyukakan hati Tuhan, bukankah itu berarti ia sedang melukai hati Tuhan? Dalam keadaan seperti itu, sebenarnya ia tidak patut mengucap syukur. Merayakan tahun-tahun di mana Tuhan disakiti dan dilukai adalah tindakan yang kejam dan semena-mena—namun inilah yang banyak dilakukan manusia tanpa kesadaran. Kini, kita harus mulai menyadari bahwa kita telah berbuat salah.
Tuhan telah memberikan kita tahun 2025. Kita bersyukur karena Tuhan masih memberi kita kehidupan—napas, detak jantung, dan denyut nadi—di tengah dunia yang semakin kacau. Itu berarti Tuhan masih memberi kita kesempatan untuk berubah, agar kita tidak lagi menjalani hidup seperti yang sudah kita jalani. Sehingga, bila Tuhan masih memperkenankan kita hidup sampai akhir tahun 2026, kita dapat mengucap syukur dengan layak, sebab tahun itu kita isi dengan kehidupan yang benar-benar menyenangkan hati Allah.
Jika sepanjang tahun 2025 kita telah melukai hati Tuhan, mari kita memohon ampun dengan sungguh-sungguh: “Ampunilah aku, Tuhan, atas segala perbuatanku yang telah melukai hati-Mu.” Mari kita membereskan diri di hadapan Allah sebelum meninggalkan tahun ini. Akuilah kesalahan kita dan datanglah kepada-Nya dengan kerendahan hati. Bersyukurlah karena Tuhan masih memberi kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki diri. Sebab tidak semua orang diberikan kesempatan yang sama—tidak semua orang yang memulai tahun 2025 diperkenankan untuk menutupnya.
Kita bersyukur karena hari ini kita masih hidup, masih dapat menarik napas, masih merasakan detak jantung, dan masih memiliki kesempatan untuk bertobat. Maka, biarlah kita menyesali kesalahan-kesalahan di tahun 2025 dengan dukacita yang benar—dukacita menurut kehendak Allah. Karena dukacita menurut kehendak Allah adalah dukacita yang akan membawa pertobatan yang benar.
Dukacita seperti ini berbeda dari kesedihan duniawi. Rasul Paulus menulis dalam 2 Korintus 7:8–10: “Jadi meskipun aku telah menyedihkan hatimu dengan suratku itu, aku tidak menyesalkannya. Memang sempat aku menyesal, karena aku lihat bahwa surat itu menyedihkan hatimu—kendatipun hanya untuk sementara waktu—namun sekarang aku bersukacita, bukan karena kamu berdukacita, melainkan karena dukacitamu membuat kamu bertobat. Sebab dukacitamu itu adalah menurut kehendak Allah, sehingga kamu sedikit pun tidak dirugikan oleh karena kami. Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian.”
Tidak semua orang sanggup memiliki dukacita yang menurut kehendak Allah. Mengapa demikian? Karena banyak orang masih membiarkan suasana hatinya dimainkan oleh hal-hal duniawi—ambisi, ego, dan nafsu jasmani. Namun, dukacita yang sejati adalah dukacita yang muncul dari kesadaran bahwa kita telah melukai hati Tuhan.
Biarlah menjelang pergantian tahun ini, kita datang kepada Tuhan dengan hati yang hancur, bukan hanya bersyukur karena masih hidup, tetapi juga berduka karena pernah melukai hati-Nya. Dari dukacita seperti inilah akan lahir ucapan syukur yang sejati—bukan ucapan yang dangkal karena keadaan baik, melainkan ucapan syukur yang lahir dari hati yang telah diampuni, disucikan, dan dipulihkan oleh kasih karunia Allah.