Skip to content

Mengikuti Tuntunan-Nya

 

Perjalanan rohani kita sebagai manusia sering kali dimulai dari titik di mana kita merasa bebas untuk menentukan arah hidup sendiri. Sebelum kita mengalami pemulihan martabat sebagai anak-anak Allah, kita cenderung hidup dengan kehendak dan keinginan pribadi yang liar. Alkitab menggambarkan kondisi manusia seperti ini sebagai domba yang sesat, yang memilih jalannya sendiri dan keluar dari jalur yang telah ditentukan (1 Ptr. 2:25). Kebebasan semu ini sebenarnya adalah bentuk keterasingan dari sumber kehidupan. Namun, ketika anugerah Tuhan menjamah kita dan kita diangkat menjadi anak-anak Allah, sebuah paradigma baru harus ditegakkan: kita harus mulai belajar hidup di dalam kebenaran yang mutlak.

Status sebagai “domba yang ditemukan” janganlah hanya dipahami sebagai perubahan identitas formal, seperti sekadar menjadi orang Kristen, menjadi anggota gereja, atau aktif dalam berbagai kegiatan pelayanan. Menjadi domba yang telah ditemukan berarti memiliki kemampuan spiritual untuk mendengar dan mengenali suara Sang Gembala. Hubungan ini bersifat dinamis; Sang Gembala berjalan di depan, dan domba berjalan di belakang untuk mengikuti-Nya. Di sinilah letak ujian kedewasaan rohani kita. Pengikut Kristus yang sejati bukan lagi mereka yang meminta Tuhan mengikuti rencana mereka, melainkan mereka yang menundukkan seluruh hidupnya untuk berjalan di jalur yang telah ditentukan oleh Sang Gembala.

Sebagai domba yang berjalan di jalan Tuhan, di sanalah kita mulai mengerti dan menghayati apa yang disebut sebagai kehendak Bapa. Doa “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga” bukan lagi sekadar hafalan liturgi, melainkan sebuah komitmen yang mendalam untuk memedulikan apa yang menjadi kerinduan hati Bapa. Kita harus sampai pada titik di mana kita rela melepaskan kehendak pribadi kita, asalkan kehendak-Nya terlaksana dalam hidup kita. Inilah tingkat pengiringan yang melampaui kepentingan diri sendiri. Kita tidak lagi bernegosiasi dengan Tuhan untuk mendapatkan kenyamanan, melainkan menyerahkan diri sepenuhnya agar rencana agung-Nya dapat digenapi melalui keberadaan kita di dunia ini.

Teladan paling agung dalam penundukan kehendak ini diperlihatkan oleh Tuhan Yesus sendiri saat berada di Taman Getsemani. Menjelang penderitaan-Nya di kayu salib, dalam pergumulan yang sangat hebat, Yesus berdoa, “Ya Abba, ya Bapa… janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.” Sapaan Abba di tengah penderitaan menunjukkan kedekatan yang luar biasa, namun kedekatan itu tidak membuat Yesus memaksakan keinginan-Nya. Sebaliknya, kedekatan itu justru menjadi dasar bagi-Nya untuk memercayakan seluruh hidup-Nya pada kedaulatan Bapa. Inilah standar tertinggi bagi setiap kita yang mengaku sebagai anak-anak Allah.

Mari kita merenung, apakah selama ini kita masih hidup sebagai domba yang memilih jalannya sendiri, ataukah kita sudah menjadi anak yang mengerti hati Bapa? Kehendak Tuhan sering kali menuntut pengorbanan ego, tetapi di sanalah martabat ilahi kita bersinar paling terang. Jangan biarkan suara keinginan daging menulikan telinga kita dari suara lembut Sang Gembala. Hiduplah dengan kesadaran bahwa kehendak Bapa adalah yang terbaik, meskipun jalan yang harus ditempuh mungkin terjal. Dengan melepaskan kehendak sendiri dan memeluk kehendak-Nya, kita sedang berjalan pulang menuju pelukan Bapa, tempat di mana napas hidup kita berasal dan tempat di mana jiwa kita menemukan ketenangan yang sejati.