Skip to content

Menghayati Tragisnya Hidup

Kita bisa membuktikan bahwa salah satu ciri dari orang percaya yang bertumbuh secara benar di dalam Tuhan, akan ditandai dengan kesadarannya dan penghayatannya bahwa hidup di dunia ini tragis. Semakin orang mengenal kebenaran dan bertumbuh dalam kedewasaan rohani, dalam kedewasaan iman yang benar, ia menghayati bahwa hidup ini tragis. Sayangnya, sebagian kita masih belum memiliki penghayatan sampai tingkat ini. Tetapi, kalau kita sudah bertumbuh dalam pengertian akan kebenaran firman, dalam kedewasaan rohani dengan benar, maka kita dapat menghayatinya. Jika kita sampai pada penghayatan ini, maka kita tidak mengharapkan lagi kebahagiaan dari dunia. Apa yang ada, dapat kita nikmati. Apakah tidur di atas papan keras atau di atas springbed empuk; apakah makan dengan lauk yang umumnya lezat atau tidak lezat, tetap bisa kita nikmati. 

Kenikmatan kita akhirnya hanya tertumpu pada kehadiran Tuhan di dalam hidup kita. Tuhan bukan jual mahal, tetapi Tuhan terikat dengan tatanan-Nya. Ia tidak bisa hadir dalam kehidupan manusia yang pikirannya kotor, memiliki kebencian, menyimpan dendam, apalagi yang mengupayakan penderitaan bagi orang lain. Sebenarnya, semua ini simultan, artinya bergerak bersama. Seiring dengan pengenalan akan kebenaran, pertumbuhan kedewasaan rohani, seiring dengan kesempurnaan; sempurna seperti Bapa, serupa dengan Yesus, mengalami kodrat ilahi, menikmati kehadiran Allah. 

Karena kesucian juga bertumbuh, maka kehidupannya semakin suci, tak bercacat cela di hadapan Allah, menikmati kehadiran Tuhan. Kenikmatan hidup orang-orang seperti ini tertumpu pada kehadiran Tuhan. Maka, barulah ia menghayati betapa tragisnya hidup, sehingga tidak ada yang dinantikan lagi. Betapa Tuhan ingin kita ada di tempat yang baik, yang Allah sudah sediakan. Seperti orang tua di dunia ini, ingin anak-anaknya berkeadaan baik dan di tempat yang baik. 

Dunia yang Allah ciptakan ini adalah dunia yang sudah tidak ideal, rusak oleh perilaku, perbuatan manusia. Maka, bumi tidak bisa dinikmati secara ideal. Selain bumi ini terhukum atau terlaknat, manusianya juga berkarakter rusak. Manusia yang berkarakter rusak, tidak mungkin bisa menikmati ciptaan Allah secara ideal atau maksimal. Manusia sudah tidak bisa lagi memiliki kemampuan menikmati damai sejahtera dan tidak bisa menikmati kenikmatan dari hasil karya Allah karena tidak layak dan tidak pantas. 

Bapa di surga ingin kita ada di tempat yang baik menurut Bapa. Tuhan Yesus berkata, “Supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada. Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.” Kalau dibahasakan dengan bahasa bebas, “Tahukah kamu, bahwa rumah-Ku atau tempat yang Kusediakan bagimu, itu indah sekali? Aku ingin kamu ada di tempat ini, tempat yang telah Kusediakan bagimu. Tetapi kamu harus melewati perjalanan pertumbuhan, perubahan, supaya kamu bisa menikmati tempat-Ku.” 

Orang yang tidak mengalami perubahan kodrat, tidak serupa dengan Yesus, tidak sempurna seperti Bapa, hidupnya tidak kudus, maka dia tidak bisa menempati tempat yang Allah sediakan. Kalau bisa, berarti Allah dilecehkan atau diremehkan. Sebaliknya, orang yang mengalami perubahan kodrat, yang hidupnya kudus, suci dalam standar Allah, tidak bercacat, tidak bercela di hadapan Tuhan, hatinya bersih, tidak menyimpan dendam, kebencian terhadap orang lain, maka dia tidak bisa masuk neraka. Tidak sanggup masuk neraka, dan memang tidak akan bisa masuk ke situ. 

Kalau hamba-hamba Tuhan, hidupnya harus bersih benar supaya kehadirannya juga menjadi kehadiran Allah; membawa hadirat-Nya supaya “shekinah glory” menyertai. Unsur kedagingannya harus semakin tipis. Kasihan jemaat jauh-jauh datang untuk mendengar firman, mendengar suara Tuhan, merasakan kehadiran Tuhan, tetapi yang dirasakan hanya teknik yang disajikan oleh gereja dalam liturgi. Ini harus menjadi tantangan bagi para hamba Tuhan. 

Kita berpenampilan menarik atau tidak di mata manusia, itu tidak penting. Tetapi kehadiran kita itu membawa “shekinah glory”; kemuliaan Tuhan. Kita harus betul-betul merajut atau menganyam kesucian. Bagaimana kita bisa membawa kemuliaan Tuhan? Tentu kalau setiap hari kita juga membawa kemuliaan Tuhan itu. Jangan hanya di kebaktian, karena memang waktu di kebaktian itu “shekinah glory”nya khusus. Banyak pikiran kita diracuni dengan konsep “Sudah belajar teologi, punya pengalaman khotbah, bisa nyanyi di pertengahan khotbah, bisa membuat joke-joke dan orang tertawa.” Pikiran seperti itu tidak menghormati Tuhan. Jika terus demikian, kita tidak bisa mengubah orang. Suatu hari, orang akan merasakan bahwa perkataan kita omong kosong. 

Kita harus merajut kesucian dalam pertumbuhan yang benar. Sampai kita bisa merasakan kehadiran Tuhan, dan itu kebahagiaan. Jika demikian, kita baru bisa menghayati betapa tragisnya hidup ini. Kalau kita sudah menghayati tragisnya hidup, pasti fokus kita bukan lagi dunia, tetapi langit baru bumi baru. 

Kalau kita sudah menghayati tragisnya hidup, pasti fokus kita bukan lagi dunia tetapi langit baru bumi baru.