Menghargai Kesempatan

Tidak ada kedewasaan tanpa pengalaman dengan Allah; tidak ada kedewasaan tanpa proses mengalami Tuhan. Karena, justru pengalaman dengan Tuhan di dalam kehidupan itulah yang mendewasakan. Tuhan memakai keadaan-keadaan yang tidak menyenangkan, bahkan menyakitkan, untuk mendewasakan kita. Ini sangat bertolak belakang dengan harapan banyak orang, bertentangan dengan pemikiran banyak orang. Orang beragama supaya lancar jalannya, banyak berkahnya, enteng rezekinya, nyaman, aman, dilapangkan jalannya. Tetapi ternyata, Allah yang benar tidaklah demikian. Allah menggunakan keadaan-keadaan yang sulit, yang tidak menyenangkan untuk mendewasakan kita. Dari hal itu, kita bisa mengerti hubungan dengan Allah sebagai Bapa, dan kita anak; hubungan antara kita dengan Allah sebagai Gembala dan kita domba-Nya. Justru melalui pengalaman-pengalaman yang tidak mengenakkan itu, kita dapat menemukan relasi atau hubungan yang benar, yang proporsional antara kita dengan Allah. Dalam Mazmur 73 akhirnya kita temukan puncak pengenalan pemazmur akan Allah, yang ditandai dengan pengakuan: “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.” Ini pengakuan yang luar biasa.

Sejatinya, bagi Allah, kita adalah segalanya. Yang karenanya, Bapa rela memberikan Putra Tunggal-Nya untuk kita. Kalau Allah menjadikan kita biji mata-Nya, anak-Nya, kekasih-Nya, mestinya kita juga memperlakukan Allah demikian; Allah segalanya bagi kita, yang ditandai dengan pengakuan seperti yang pemazmur tuliskan dalam Mazmur 73:25-26. Ketika seseorang masih menaruh pengharapan dan perlindungannya kepada sesuatu—materi dunia, penghiburan dunia—berarti ia belum bisa menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya harta. Sulit bicara ini kepada orang muda atau orang tua yang sudah lama hidup dengan tidak menjadikan Tuhan sebagai harta kekayaan satu-satunya. Tetapi kalau hari ini kita menyadari bahwa kita belum menjadikan Tuhan harta kekayaan satu-satunya dalam hidup, kita masih diberi kesempatan untuk berubah dan mengubah diri. Orang yang mengalami pengalaman seperti ini adalah orang-orang yang mengasihi Tuhan. Dan orang tidak bisa mengasihi Tuhan dalam waktu sekejap. Jadi pemazmur ini bisa berkata, “sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya,” setelah ia melewati proses, dan prosesnya menyakitkan.

Pada waktu seorang Kristen mengalami pertobatan awal, banyak kita yang mengalami yang disebut “cinta mula-mula.” Kelihatannya orang yang mengalami cinta mula-mula ini mengasihi Allah dengan menggebu-gebu. Tetapi, kasih dari orang Kristen yang baru itu belumlah kasih yang dewasa. Cinta mula-mula harus disertai pertumbuhan dan kedewasaan rohani. Seiring dengan kedewasaan rohani, maka seseorang mengasihi Tuhan secara dewasa. Kasih yang dewasa membangun hubungan yang harmonis dan proporsional dengan Allah; hubungan yang dewasa dengan Allah. Allah menghendaki hubungan yang dewasa dengan anak-anak-Nya, dan hubungan yang dewasa tersebut ditentukan oleh kedewasaan kasih seseorang kepada Allah. Jika seseorang mengasihi dengan tulus dan terus terbimbing melalui perjalanan waktu, kasihnya itu menjadi dewasa.

Maka, kalau seseorang mengisi hatinya dengan berbagai kesenangan tanpa batas, tiada henti, ia bisa sampai pada level tidak akan pernah bisa mengasihi Allah dengan benar. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang terlatih mengasihi dunia; bukan manusia surgawi. Jadi, sejatinya orang sudah bisa mempertimbangkan, apakah dia masuk surga atau neraka. Kalau kita mulai sadar bahwa ternyata kita belum mengasihi Allah secara benar, kita harus mulai berjuang untuk mengasihi Allah. Tidak ada kata yang bisa menggantikan keadaan dimana seseorang menjadi kekasih Allah, menjadi anak-anak Allah yang dewasa, dimana hubungan antara orang percaya dengan Allah itu harmoni, dan Allah bisa menikmatinya.

Mengasihi Allah itu bukan karunia, tapi buah dari perjuangan dalam kehendak bebas masing-masing individu. Seseorang bisa sangat mengasihi Tuhan, atau tidak mengasihi Tuhan, atau setengah mengasihi Tuhan. Sejatinya, keterikatan kita dengan Allah harus semakin kuat, sehingga membawa kita pada percintaan dengan Allah dan tidak bisa menoleh ke belakang lagi. Melalui perjalanan waktu, Tuhan memberikan kebenaran-kebenaran Firman-Nya. Ketika di hadapan takhta pengadilan Allah itu, barulah orang sadar sepenuhnya bahwa nasib dirinya ditentukan oleh keputusannya sendiri. Dan dia tidak bisa mempersalahkan siapa-siapa, apalagi mempersalahkan Allah. Tuhan pasti memberi kesempatan seseorang untuk mengasihi Dia. Tergantung bagaimana respons, reaksi orang tersebut. Selama kita masih hidup dalam kewajaran anak dunia, kita tidak akan pernah bisa bertumbuh (1Yoh. 2:15-17). Roh Kudus pasti menolong kita untuk mengasihi Dia seperti yang Allah inginkan. Namun, di sini dibutuhkan keberanian untuk berkomitmen, kenekatan untuk mengasihi Allah dengan meninggalkan percintaan dunia.

Maka, kalau kita sadar bahwa kedudukan dan posisi kita adalah kedudukan dan posisi yang istimewa, seharusnya kita berani menjadi orang-orang yang tidak wajar menurut ukuran anak-anak dunia. Kita berani untuk hidup tidak wajar. Kalau seseorang menjalaninya, keselamatan yang Allah sediakan dapat dialami dan dimiliki. Hal mengasihi Allah adalah satu hal yang sangat pribadi. Tidak dikendalikan oleh siapapun, bahkan oleh Allah sendiri. Masing-masing individu dapat menggerakkan hatinya untuk mengasihi Allah. Suatu hari, orang akan sangat menyesal ketika ia ada di hadapan Allah karena selama hidup di bumi ia tidak mengasihi Dia. Orang tidak bisa mengasihi Allah dalam waktu pendek. Mengasihi Allah harus dibangun melalui perjalanan waktu yang panjang. Sebelum terlambat, mari kita mengasihi-Nya dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap kekuatan kita.

Orang tidak bisa mengasihi Allah dalam waktu pendek, maka hargai waktu dan kesempatan yang Tuhan berikan.