Skip to content

Menghargai Kecemburuan Bapa

 

Sebagai seorang Bapa, Allah sangat memedulikan apa yang terjadi dengan roh yang ada di dalam diri manusia yang berasal dari diri-Nya. Yakobus 4:5 menyatakan bahwa Allah mengingini roh yang telah Dia tempatkan dalam diri manusia dengan rasa cemburu. Ini adalah kecemburuan yang suci dan sangat beralasan, karena roh itu memang berasal dari-Nya dan sepenuhnya adalah milik-Nya. Pengkhotbah 12:7 mengingatkan kita akan akhir dari sebuah perjalanan hidup, ketika debu akan kembali menjadi tanah, tetapi roh akan kembali kepada Allah yang mengaruniakannya. Kesadaran bahwa kita akan “pulang” dengan membawa kembali roh pemberian-Nya seharusnya membuat kita sangat berhati-hati dalam menjaga kualitas hidup kita di bumi ini.

Kecemburuan Allah muncul ketika jiwa manusia mulai dipenuhi oleh berbagai keinginan duniawi dan hasrat yang menggiring kita menjauh dari-Nya. Allah merasa “kehilangan” ketika anak-anak-Nya justru mengikuti jejak Iblis yang membawa kepada kebinasaan. Karena itu, sebagai Bapa yang penuh kasih, Dia menginginkan setiap kita menjadi seperti Tuhan Yesus. Roh yang diberikan-Nya bukan sekadar energi untuk hidup secara fisik, melainkan kapasitas untuk menjadi segambar dan serupa dengan Allah. Roh inilah yang memungkinkan kita memiliki kemampuan luar biasa untuk mengerti kehendak-Nya, sesuatu yang tidak dimiliki oleh makhluk lain mana pun. Roh manusia memuat pikiran, perasaan, dan kehendak yang dirancang untuk selaras dengan Allah. Bahkan, di dalamnya terdapat hati nurani yang mampu menyuarakan suara Tuhan di tengah kebisingan dunia.

Dalam Amsal 20:27 dikatakan bahwa roh manusia adalah pelita Tuhan yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya. Sebagai pelita, roh kita berfungsi untuk menyingkapkan apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidup kita sehari-hari. Namun, sering kali pelita ini seakan redup karena kita lebih fokus pada kebutuhan tubuh fisik. Memang benar, tubuh kita berasal dari debu dan membutuhkan proses metabolisme serta makanan untuk bertahan hidup. Namun, kita sering lupa bahwa roh yang berasal dari Allah pun dapat mengalami rasa haus. Kehausan roh ini bersifat unik karena tidak dapat dipuaskan oleh hiburan, kekayaan, atau pencapaian manusiawi apa pun; ia hanya dapat diisi dan dipuaskan oleh Allah sendiri.

Kekosongan yang sering kita rasakan dalam jiwa sebenarnya adalah tanda bahwa roh kita sedang merindukan Sumbernya yang sesungguhnya. Kita diciptakan dengan ketergantungan mutlak kepada Tuhan. Inilah esensi dari Doa Bapa Kami; ketika Yesus mengajar kita memanggil “Bapa” kepada Allah Semesta Alam, Dia sebenarnya sedang membawa kita kembali pada kesadaran jati diri yang terdalam. Sapaan itu menjawab pertanyaan eksistensial, “Siapakah aku ini?” Kita bukan sekadar gumpalan daging yang akan membusuk di liang lahat, melainkan pribadi yang memiliki keterikatan kekal dengan Sang Pencipta.

Jika kita memiliki kesadaran ini jauh di dalam relung hati, maka kita akan mengarahkan hidup untuk menghargai kecemburuan Bapa. Kecemburuan Bapa bukanlah kecemburuan yang berangkat dari dosa seperti yang ada dalam hati manusia. Kecemburuan Bapa berangkat dari kasih yang murni, sebab Ia sendiri adalah kasih. Kecemburuan tersebut mengantar kita pada sebuah tantangan untuk kembali kepada Sang Pencipta atau menjauhi-Nya. Kita hendaknya menyadari bahwa tidak ada pilihan di luar kedua hal tersebut. Kesadaran ini menuntut kita untuk hidup dalam pengabdian total, memastikan bahwa pelita di dalam diri kita tetap menyala terang dan tidak ada hasrat lain yang berkuasa di dalam hati selain kasih kita kepada Sang Bapa.